Bagi warga Jakarta khususnya, tidak asing lagi dengan event yang selalu diselenggarakan tiap tahun. Yep Event akbar bernama Pekan Raya Jakarta, dulu nya disebut dengan Djakarta Fair selalu di adakan menjelang ulang tahun Jakarta pada bulan Juni. Pekan Raya Jakarta menjadi Ikonik event bagi warga ibukota, bisa dibilang event pesta hiburan terpenting dan menjadi event hiburan terlengkap bagi masyarakat Ibukota. Sebut saja, pameran produk produk otomotif, elektronik, tekstil, makanan dan minuman, aneka jajanan tradisional , kerajinan tangan dan banyak lagi, disertai panggung hiburan musik yang di ramaikan oleh deretan artis / penyanyi top seluruh indonesia tumplek blek disini.

Jiexpo tahun 2019 Photo : exhibition.jiexpo.com

Di kutip dari berbagai sumber cikal bakal event besar ini ternyata berasal dari jaman kependudukan belanda. Sekitar tahun 1898 diadakan perhelatan oleh kolonial Belanda atas hajat memperingati penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898. Pun pelaksanaannya dimulai dari 31 Agustus hingga pertengahan September tiap tahun. Berlokasi di daerah gambir , sehingga dinamakan Pasar Malam Gambir .

Pasar Gambir memiliki ragam hiburan. Ada hiburan untuk anak-anak, ada pula hiburan untuk orang dewasa.Beberapa di antaranya adalah bioskop terbuka ( Layar Tancep) atau gambar idoep –dalam ucapan orang Betawi, pertunjukan musik, hingga pertandingan tinju. Bersamaan dengan itu, ragam makanan khas Betawi seperti kerak telor, tampak dijajakan pada tiap sudut Pasar Gambir.  “Pasar yang riuh terdiri dari sebuah tanah lapang, rumah-rumah berarsitektur etnik dari bambu, atap rumbia, dan tuan Belanda berpantalon gelap, kemeja putih berkanji, dasi kupu-kupu, dan rambut yang mengkilat. Ada stan tembakau, papan luncur yang dikerubuti anak-anak, dan tak lupa, ketika matahari tenggelam, dansa-dansi ala Eropa dan minuman beraroma anggur yang pekat,” Arif Zulkifli dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Pasar Gambir di Era Jajahan (1999).

pasar gambir 1922

Di kutip dari laman okezone.com, masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada 1942 turut mengakhiri riwayat Pasar Gambir. Sempat ada upaya menghidupkan kembali Pasar Gambir pasca-Perang Dunia II di lokasi berbeda, tapi kemudian tak lagi hidup.

Baru pada 1967, muncul gagasan menggelar festival tahunan serupa yang kemudian dirancang H Syamsudin Mangan (Haji Mangan) yang kala itu, menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri). Haji Mangan ingin gelaran festival atau pasar akbar tahunan itu juga jadi ajang pameran beragam produk dalam negeri, sekaligus membangkitkan kembali ekonomi domestik pasca-Tragedi 30 September-1 Oktober 1965.

Cetusan ide yang didukung Gubernur DKI Jakarta saat itu, Letjen (Purn) Ali Sadikin, untuk kemudian festival dengan nama Djakarta Fair dengan payung legalitas Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 1968. Djakarta Fair pertama dihelat setahun berselang, yakni 5 Juni-20 Juli 1968.

Pembukaannya turut dihadiri Presiden kedua RI Soeharto dengan melepas burung merpati pos sebagai simbolis peresmiannya. Edisi PRJ pertama yang sukses dengan catatan menyedot pengunjung hingga 1,4 juta orang.

Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekadar pasar malam, “bermutasi” menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk. Areal yang dipakai juga bertambah. Dari hanya tujuh hektare di Kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektare tepatnya di JIEXPO Kemayoran.

Baca Juga : Tiket masuk candi Borobudur batal naik

 22,007 total views,  32 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *