Selasa, 30 Oktober 1984, akan selalu dikenang dalam sejarah Jakarta, persisnya setelah berakhirnya acara Dunia Dalam Berita di TVRI pukul 21.00, warga Jakarta dan sekitarnya diiperlihatkan warna langit Ibukota yang belum pernah ada sepanjang masa.

Baca juga: Dunia Dalam Berita TVRI – Siaran Informasi Plus “Jam Malam” Buat Anak-Anak

Langit malam yang tadinya hitam berubah benjadi oranye dan merah. Bagi warga yang tinggal di pinggiran kota, awalnya melihat hal ini sebagai fenonema yang tak biasa. Langit malam Jakarta kala itu bagiakan langit kota Beirut yang tengah menghadapi bombardir tembakan Israel.

Ya malam itu memang tak biasa, pasalnya enam gudang penyimpanan munisi milik Korps Marinir TNI AL di Cilandak, Jakarta Selatan meledak dahsyat. Bukan munisi sembarangan yang meledak, tapi munisi mortir dan howitzer kaliber 144 mm peninggalan era 60-an yang meledak. Karena yang meledak adalah munisi dengan proyeksi lintasan melengkung (jarak jauh), maka sebagian yang terdampak lontaran roket dan munisi adalah warga yang berlokasi jauh dari area kejadian.

Berdasarkan kesaksian warga yang tinggal di area Komplek Marinir Cilandak, malam itu suasana layaknya sedang terjadi peperangan, orang-orang berhamburan keluar rumah dengan panik diiringi tangisan, semua kesana kemari mencari tempat perlindungan akibat banyaknya peluru nyasar yang tak terkendali. Eksodus warga keluar Jakarta kala itu sempat terjadi, meski dalam jumlah kecil.

Bagi warga yang tinggal dalam radius 5 km dari pusat ledakan, dahsyatnya suara ledakan dan getarannya mampu membuat nyali ciut. Sementara warga dalam radius yang lebih jauh melihat langit Jakarta laksana sebuah pertunjukan mega kembang api.

Dalam beberapa literasi, sekitar 370 pasien diungsikan ke berbagai tempat: RS Pertamina, RS Yayasan Jakarta, ke Apotek Retno, Gereja HKBP, Balai Rakyat, Masjid – yang berlokasi agak jauh dari gudang mesiu itu.

Dua pasien meninggal terkena serangan jantung. Setelah semua pasien diungsikan, baru sebuah peluru menghajar Asrama Putri II di RS Fatmawati. Peluru itu menembus tembok dan menghancurkan apa yang ada di dalamnya. Tak hanya itu saja, bahkan sebuah peluru roket pun jatuh di kawasan Perumnas Depok-I. Bahkan persis di belakang gedung untuk melayani STNK, di Polda Metro Jaya Jakarta pun juga ada peluru roket amblas ke dalam tanah.

Dalam ledakan malam itu, para prajurit Marinir berusaha menyelamatkan tank dan panser menjauhi tempat kebakaran, sementara puluhan mobil pemadam kebakaran yang semula berniat memadamkan langsung berbalik arah karena yang dihadapi adalah ledakan enam gudang peluru.

Baca juga: Ada Peluh Ada Kenangan, Apa Kabar GOR Ragunan?

Kejadian meledaknya gudang peluru Marinir di Cilandak pada malam itu menjadi sebuah catatan peristiwa kelam di Jakarta Selatan. Ini merupakan ledakan terbesar yang pernah terjadi di Jakarta pada era 80-an, gelegar yang menggoyang bumi bersahutan tiada henti.

Catatan kejadian pada peristiwa ledakan kala itu sangat sedikit sekali. Karena kejadian tersebut terjadi pada zaman Orde Baru, ditambah saat itu belum ada internet dan media sosial, maka catatan musibah ini memang tidak terbuka secara penuh.

4 COMMENTS

  1. Saya ngungsiin seluruh anggota keluarga dari pinggiran Setu Babakan ke rumah Bude di Pondok Cina, sekarang belakang Giant itu.

    eeehhh .. malah banyak suara berdesingan yang jugak nyemplung ke Ciliwung.

    Saat kira2 jam 5 sore saya liat ada semburat besaaaaaar sekali … dan gak lama kemudian disusul oleh semacam gemuruh badai suara yang menghancurkan kaca2 rumah dan bangunan disekitar Setu serta kompleks sekolahan Desa Putera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here