Industri moda transportasi khsusunya penerbangan kian hari kian bertambah hingga menimbulkan persaingan yang cukup ketat. Bukan hanya maskapai produksi luar negeri saja, persaingan ini pun juga timbul untuk kelas maskapai dalam negeri. Tak sedikit maskapai dalam negeri yang gulung tikar akibat persaingan yang cukup ketat ini. Berikut ini adalah 7 maskapai penerbangan yang sempat hadir dan menghiasi langit Indonesia.

  1. Adam Air

Maskapai pertama yang sempat menghiasi langit Indonesia adalah maskapai Adam Air. Maskapai ini pertama kali mengoperasikan penerbangannya pada 19 Desember 2003, dengan tujuan ke Balikpapan. Maskapai ini dimiliki oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, dengan nama PT. Adam SkyConnection Airlines.

Tiga tahun sejak Adam Air mengudara, maskapai ini menerima penghargaan Award of Merit untuk kategori Low Cost Airline of The Year 2006, dalam acara 3rd Annual Asia Pacific and Middle East Aviation Outlook Summit di Singapura.

Baca Juga:Mengenang Tragedi 1981: Tenggelam dan Terbakarnya Kapal Tampomas II

Seiring berjalannya waktu, maskapai Adam Air mengalami penuruan dengan seringnya kecelakaan yang ditimbulkan. Satu tahun setelah menerima penghargaan, Adam Air mengalami kecelakaan terparah yang menewaskan 102 penumpang bersama awak kabin. Kecelakaan ini terjadi di Teluk Makassar dengan penerbangan tujuan Surabaya ke Manado.

Tahun 2008, secara resmi segala kegiatan operasional Adam Air dicabut. 18 Maret 2008, berdasarkan surat nomor AU/1724/DSKU/0862/2008, Adam Air dinyatakan tutup dan tidak mendapatkan izin terbang.

  1. Batavia Air

Yudiawan Tansari bisa dibilang pria nekat asal Pontianak yang mendirikan maskapai berbasis domestik. Semula ia hanya membuka usahanya di bidang agent travel, namun pada tahun 2001 dirinya mendirikan PT. Metro Batavia yang bergerak di bidang maskapai penerbangan.

Batavia Air pertama kali mengudara pada 5 Januari 2002 dengan jenis pesawat Fokker F28 dan Boeing 737-200. Bisa dikatakan Batavia Air adalah sebuah maskapai penerbangan terbaik milik Indonesia.

Pada tahun 2003, Batavia Air membuka rute baru penerbangan untuk perjalanan Internasional, yakni Jakarta-Guangzhou, Jakarta-Denpasar-Perth, dan Jakarta-Pontianak-Kutching. Bahkan Batavia Air mampu bersaing dengan maskapai besar asal Indonesia lainnya yang mengantongi izin terbang untuk Uni Eropa pada 2010 lalu. Sayangnya,pada tahun 2013 Batavia Air dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

  1. Sempati Air

Maskapai penerbangan ini merupakan milik dari salah satu kerabat dan keluarga Cendana (mantan Presiden Indonesia, Soeharto), yakni Sempati Air. Perusahaan penerbangan ini didirikan pada 1968 dengan nama PT Sempati Air Transport, dan melakukan penerbangan perdananya pada tahun 1969 menggunakan pesawat DC-3.

Mengikuti perubahan dan perkembangan zaman, Sempati Air pun menambah armadanya yang meliputi Fokker 100, Boeing 737-200, Fokker 70, hingga Airbus A300B4. Sejak penambahan maskapai inilah, Sempati Air menambah rute penerbangan yang mencakup bagian Asia Tenggara dan Australia.

Keberhasilan dan kesuksesan Sempat Air pun mengalami kesurutan saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998. Hingga pada Juni 1998 Sempati Air dinyatakan harus menghentikan operasional penerbangannya.

Perusahaan ini pun akhirnya menyerah dan berhenti beroperasi. Kini kode IATA yang digunakan oleh Sempati Air digunakan kembali oleh penerbangan asal India, SpiceJet.

  1. Bouraq Airlines

Masih datang dari perusahaan keluarga, kali ini nama Bouraq Airlines sempat menjadi salah satu maskapai asli Indonesia yang dimiliki oleh Jarry Albert Sumendap. Tidak hanya memiliki hak atas kepemilikan Bouraq Airlines saja, Jarry Albert Sumendap juga menjadi pemilik dari Bali Air yang sempat mengudara di langit Indonesia.

Bouraq Airline tergolong maskapai yang sukses pada masa 1970-an hingga 1990-an awal. Sedikitnya Bouraq Airlines memiliki beragam jenis pesawat, mulai dari Vicker Viscount, Casa NC-212, hingga Hawker Siddeley 748.

Sayangnya krisis moneter yang melanda Indonesia kembali memaksa perusahaan maskapai ini gulung tikar. Beragam upaya mulai dari penjualan asset hingga pengurangan rute penerbangan yang dilakukan Bouraq Airlines pun sia-sia. Tahun 2005, penerbangan terakhir dari Bouraq Airlines pun dijadwalkan, hingga pada tahun 2007 lisensi atas hak izin penerbangan Bouraq Airlines dicabut dan dinyatakan tutup.

  1. Indonesia Airlines

Maskapai Indoensia Airlines yang dimiliki oleh Rudy Setyopurnomo ini merupakan salah satu maskapai yang dimiliki oleh dalam negeri. Indonesia Airlines mulai beroperasi pada tahun 2001, dengan sebelumnya mendapatkan izin terbang dari Pemerintah Indonesia tahun 1999.

Indonesia Airlines mengudara dengan total rute penerbangan mencapai 46 rute. Maskapai ini menggunakan jenis pesawat Boeing 727-200, Boeing 737-200, dan Boeing 747-200. Sayanganya pada tahun 2003, PT Indonesia Airlines Aviapatria menutup penerbangannya, yang bersamaan pula dengan penutupan kantor pusat dari Indonesia Airlines.

Kelima maskapai penerbangan milik dalam negeri diatas adalah sebagian kecil dari pesawat-pesawat yang sempat terbang dan menghiasi langit Indonesia. Bagi generasi 1970 hingga 1990-an mungkin sempat terbang dan merasakan naik maskapai penerbangan ini.

Persaingan dan kemunculan beragam maskapai penerbangan lokal maupun luar negeri kini sudah semakin berkembang dan bertambah banyak. Rute yang ditawarkan dengan harga menarik pun seolah menjadi salah satu daya tarik dari maskapai penerbangan untuk menarik perhatian dan minat para konsumen. Bagaimana menurut Anda maskapai penerbangan jaman dahulu dengan sekarang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here