Bobo, merupakan salah satu majalah yang setia menemani generasi 1990-an. Majalah yang memiliki ikon unik berupa kelinci berwarna biru ini menjadi majalah anak-anak populer pada masanya. Majalah Bobo dikemas dengan cerita ringan dengan gaya bahasa yang mudah di mengerti oleh anak-anak.

Baca Juga : Buat Kamu Generasi 90-an, Lima Ponsel Jadul Ini Pernah Jadi Impian

Majalah Bobo pertama kali terbit pada tahun 1973, tepatnya pada bulan April. Sebelum dikemas menjadi sebuah majalah, terbitan ini muncul di salah satu halaman Harian Kompas. Lalu bagaimanakah proses majalah ini menjadi sebuah bentuk buku?

Ide cemerlang ini lahir dari dua orang pendiri Harian Kompas, yaitu PK Ojong dan Jakob Oetama. Keduanya pun mengagas halaman cerita anak tersebut untuk dijadikan sebuah majalah yang terpisah dari Harian Kompas. Langkah awal untuk mewujudkannya adalah dengan membeli hak paten atas nama dan karakter cerita anak tersebut. Hak paten itu pun diberi nama ‘Bobo’.

Majalah Bobo versi Indonesia dan Majalah Bobo versi Belanda

Cetakan pertama untuk Majalah Bobo ini bukan seperti majalah yang beredar di pasaran. Melainkan hanya berbahan kertas koran dengan 16 halaman termasuk cover. Meski hanya menggunakan bahan kertas koran, Majalah Bobo edisi awal ini sudah berwarna loh. Jadi bisa dibilang bahwa Majalah Bobo merupakan majalah anak pertama yang dicetak dengan menggunakan tinta warna, dan menarik perhatian masyarakat Indonesia untuk membelinya.

Berbasis majalah anak, isi yang disampaikan dan dimuat pada Majalah Bobo pun tergolong ringan dan cocok untuk diberikan kepada anak-anak. Sebelum memiliki alur cerita seperti saat ini, dahulu Majalah Bobo hanya menyajikan materi-materi ringan untuk dipelajari anak-anak, seperti menyambung garis hingga mewarnai.

Baca Juga:5 Maskapai Penerbangan Yang Sempat Hadir dan Menghiasi Langit Indonesia

Karakter Bobo sebagai ikon atau maskot ini digambarkan sebagai seorang kelinci berwarna biru. Bobo merupakan kelinci yang pandai dan pemberani. Dalam penggambaran karakternya, Bobo menggunakan sebuah baju berwarna merah dengan simbol huruf ‘B’ pada bagian depannya.

Seiring berjalannya waktu, Majalah Bobo yang dulunya hanya dihargai Rp20,- ini semakin berkembang dan memiliki alur cerita menarik dengan penambahan tokoh sebagai sahabat Bobo. Para tokoh lain tersebut diantaranya, Bibi Teti Teliti, Bibi Tutup Pintu, Paman Gembul, Oki, Paman Kikuk, dan juga Bona si gajah cantik berwarna merah muda.

Bersama dengan para sahabatnya, Majalah Bobo pun semakin berwarna dengan cerita-cerita menarik yang dimuat ke dalam majalah. Cerita yang hingga saat ini masih konsisten ialah Cerita Negeri Kelinci, Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang, Cerita dari Negeri Dongeng, Husin dan Asta, dan Paman Kikuk.

Populer dan melegenda sebagai majalah anak, Majalah Bobo memiliki sebuah slogan yang hingga kini masih digunakan, slogan tersebut berbunyi ‘Teman Bermain dan Belajar’. Selain sebagai bacaan yang informative untuk anak-anak, Majalah Bobo juga memberikan pelajaran dengan ringan dan mudah dipahami.

Majalah Bobo edisi terbaru

Jika dilihat dari proses perjalanan sejarahnya, sebenarnya majalah ini merupakan adaptasi dari majalah bobo yang berada di Belanda loh. Di Negara asalnya, Majalah Bobo ini juga menggunakan nama yang sama seperti versi Indonesia. Hal yang membedakan yakni Majalah Bobo versi Belanda terbit setiap sebulan sekali, sementara Majalah Bobo versi Indonesia terbit seminggu sekali.

Salah satu hal yang menarik pada edisi dan versi Indonesia, sempat terjadi perubahan warna pada salah satu karakter yang ada di dalam majalah ini. Dia adalah Bona, si gajah cantik berwarna merah muda. Tahun 2015 lalu, Bona yang semula berwarna merah muda berubah warna menjadi ungu, dan karakter Rong Rong digantikan oleh karakter Ola.

Hingga tahun 2019, edisi Majalah Bobo sudah mencapai pada edisi ke-45. Apakah diantara kalian termasuk salah satu yang berlangganan Majalah Bobo? Coba pamerkan koleksi Majalah Bobo kalian ke tim redaksi Kabarsidia.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here