Sejarah Jamu
Sejarah Jamu

Jamu merupakan salah satu minuman tradisional yang berbahan dasar dari berbagai macam rempah. Minuman ini memang terkesan kuno, jadul, dan ketinggalan jaman. Namun, dibalik racikan dan takaran tiap bahan dasar dari jamu ini memiliki segudang manfaat bagi tubuh serta kesehatan.

Kata jamu sendiri berasal dari dua kata, yakni djampi dan Oesodo. Kedua kata ini mengartikan makna obat, doa, dan juga mantra bagi masyarakat Jawa kuno. Istilah ini sudah hadir sejak 1300 tahun yang lalu.

Minuman tradisional ini sangat melekat bagi masyarakat Indonesia, khususnya mayarakat berdarah Jawa. Dahulu, para penjual jamu menjajakan dagangan dan racikannya dengan cara yang unik. Berpakaian tradisional jawa sambil memikul bakul yang didalamnya terdapat aneka ragam jamu yang siap di minum.

Sebelum jamu menjadi salah satu minuman sekaligus obat, pembuat jamu ini kebanyakan hanya dibuat serta diracik oleh seseorang yang memiliki keahlian dan kemampuan lebih saja. Ya seperti istilah dari namanya, mantra. Hal ini berawal ketika masa kejayaan kerajaan Mataram, yang kemudian pecah menjadi Keraton Ngayogjakarto dan Surokarto.

Sejarah Jamu
Sejarah Jamu

Pada masa itu sosok tenaga medis maupun dokter belum memadai. Sehingga orang-orang yang memiliki keahlian tersebut meracik ramuan yang kemudian dikenal dengan jamu. Sulitnya mendapatkan pengobatan bagi warga yang sakit, membuat produksi jamu kian bertambah hingga harus dilakukan pendistribusian hingga ke pelosok.

Distribusi dari jamu sendiri semula dibawa oleh laki-laki, namun lantaran tenaga laki-laki lebih dibutuhkan untuk bekerja, sehingga kaum wanitalah yang kemudian mengambil alih peran tersebut. Muncullah wanita-wanita tangguh pembawa jamu gendong dengan pakaian tradisional.

Dalam pendistribusian jamu sebagai salah satu racikan obat, para penjual jamu ini melakukan sistem barter atau bertukar jamu dengan bahan-bahan pangan atau barang lainnya yang bermanfaat. Sistem inilah yang dahulu paling ampuh dan menjadi alat tukar jual-beli dari sebuah barang.

Memasuki jaman yang sudah modern, saat ini keberadaan jamu gendong sudah sulit dijumpai di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Hanya satu atau dua penjual jamu gendong dengan pakaian tradisonal saja yang masih kerap kali dijumpai.

Sejarah Jamu (Foto: Kumparan)
Sejarah Jamu (Foto: Kumparan)

Penjual jamu saat ini lebih sering dijumpai dengan menggunakan sepeda atau membuka ruko untuk memasarkan dagangannya. Bukan hanya cara jualnya saja yang sudah lebih modern, jamu juga sudah tersedia dalam bentuk kemasan sachet, jauh lebih praktis. Meskipun demikian, jamu tradisional tetap menjadi primadona dan akan tetap berbeda rasanya dari jamu dalam kemasan.

Mengapa demikian? Jamu tradisional biasanya menggunakan bahan-bahan alami seperti rimpang, daun-daunan, kulit batang, buah, empedu kambing, tungkur buaya, empedu ular hingga campuran telur ayam kampung dalam racikan jamu tradisional. Ya tentu saja rasa pahit itu akan terasa ketika Anda minum jamu tradisonal. Untuk mengakali rasa pahit tersebut biasanya penggunaan madu sebagai pemanis akan di campur ke dalam racikan jamu.

Seperti bahan-bahan olahan campuran yang sudah disebutkan, jenis jamu juga sangat beragam. Sebut saja beras kencur, kudu laos, cabe puyung, kunyit asam, sinom, pahitan, kunci suruh, dan juga uyup-uyup. Meskipun jamu merupakan minuman tradisional yang kaya akan manfaat, Anda tidak dianjurkan untuk minum jamu sembarangan loh. Jangan sampai Anda mengalami keracunan akibat meminum jamu ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here