puber kedua
puber kedua

Mendengar kata puber atau dalam bahasa kedokteran dikenal dengan pubertas, mungkin yang terlintas adalah proses perubahan bentuk fisik tubuh dan seksualitas seseorang. Namun bagaimana jadinya jika ada puber kedua? Benarkah puber kedua itu bisa terjadi?

Dilansir dari berbagai sumber, dalam ilmu kedokteran sebenarnya puber kedua itu tidak pernah ada. Namun, hal yang terjadi adalah istilah tersebut yang ramai diperbincangkan. Biasanya puber kedua ini dinilai akan dialami oleh orang yang berusia lanjut atau paruh baya, yang kembali bertingkah atau bertindak layaknya remaja bahkan anak kecil. Memang benar, beberapa orang yang sudah berusia lanjut akan mengalami fase perubahan mood dan penampilan seiiring berjalannya waktu. Prilaku inilah yang kemudian dikenal dengan puber kedua dikalangan masyarakat. Bagi kaum hawa, istilah puber kedua ini justru sebagai tanda dari preimonopause.

Apa itu Preimonopause? Preimonopause adalah masa transisi pada wanita sebelum terjadinya monopause. Proses Preimonopause ini nantinya akan secara bertahap menghentikan fungsi dari ovarium dan melepaskan sel telur hingga monopause terjadi dikemudian hari.

Preimonopause biasanya akan terjadi pada rentan waktu usia 35 tahun hingga 40 tahun. Biasanya akan ditandai dengan kurang lancarnya proses haid, kekebalan tubuh yang mulai melemah, berubahnya hasrat seksualitas, berkurangnya kepadatan tulang, dan yang terlihat adalah seringnya buang air kecil.

Selain mengalami perubahan fisik, pada preimonopause ini juga berpengaruh pada perubahan psikologis, seperti: sulit tidur, sering panik, merasa sulit berkonsentrasi, kebingungan, kecemasan hingga seringnya mengalami perubahan mood secara mendadak.

Faktor-faktor ini tentunya tidak dialami oleh semua wanita. Namun secara garis besar tanda-tanda inilah yang biasanya terjadi dan akan dialami menjelang monopause. Maka istilah puber kedua juga bisa dikaitkan sebagai salah satu dari istilah preimonopause, karena adanya perubahan tingkah perilaku yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.

Adapun beberapa tips untuk mencegah atau sedikitnya mengurangi efek preimonopause yang bisa dilakukan Anda di rumah:

  • Jaga berat badan
  • Rajin Berolahraga
  • Kurangi mengkonsumsi minuman beralkohol dan rokok
  • Istirahat dengan waktu yang cukup
  • Seimbangkan kebutuhan kalsium harian dengan mengkonsumsi susu berkalsium tinggi.
  • Lakukan konsultasi kepada dokter terkait agar dapat diberikan pencerahan serta obat-obatan yang dapat mengurangi efek dari preimonopause.

Adapun sebagian wanita yang mengalami gejala-gejala tak terduga, seperti haid yang berlangsung cukup lama, atau munculnya bercak darah saat berhubungan seksual, hal ini terjadi dari timbulnya gangguan hormon, kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi atau suatu kondisi medis yang timbul. Oleh karenanya, mulailah hidup sehat dan cintai tubuh Anda selagi masih mampu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here