Mendengar nama Megaria hal yang dekat dan akrab di telinga ialah bioskop tertua yang berada di Jakarta. Bioskop yang sudah berusia hampir satu abad ini terletak di pinggiran Jakarta, tepatnya di persimpangan antara Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Pegangsaan Timur dan Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Selain dikenal sebagai bioskop tertua, Bioskop Megaria juga dikenal sebagai bioskop nomor satu terbesar yang berada di Jakarta.

Baca Juga : Ajak Kencan Si Dia Ke Bioskop? Ikuti Pakem Ini Agar Rencana Tak Berantakan!

Di bangun pada tahun 1932, Bioskop Megaria lebih dulu menyandang nama Metropole dengan ejaan Belandanya, Bioscoop Metropool. Bioskop Metropole ini dirancang oleh Liauw Goan Seng dengan gaya art deco.

Pada masa awal berdiri, Bioskop Metropole lebih dikenal sebagai bioskop yang menyajikan film-film dari Amerika dibandingkan film lokal asal Indonesia. Hal ini pun diikuti dengan pemutaran film pertama di Bioskop Metropole yang menyajikan film Annie Get Your Gun (1950) karya George Sidney. Film ini diputar bersamaan dengan peresmian Bioskop Metropole yang juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Indonesia, seperti Sultan Hamengkubuwono IX, Rahmi Rachim isteri dari Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan juga Haji Agus Salim.

Bioskop Megaria alias Metropole

Tahun 1960 Bioskop Metropole berganti nama menjadi Megaria atas dasar perintah dari Presiden Soekarno. Lalu pada masa Orde Baru, Bioskop Megaria kembali mengalami perubahan nama menjadi Megaria Theatre.

Memasuki tahun 1980-an, gedung bioskop tertua dengan gaya art deco ini disewakan kepada pihak 21 Cineplex, namanya pun kembali mengalami perubahan menjadi Metropole 21 dan sempat menggunakan nama Megaria 21. Tahun 2000-an, 21 Cineplex kembali mengakusisi Metropole dengan nama barunya menjadi Metropole XXI. Meski kerap kali mengganti namanya, kebanyakan masyarakat Jakarta lebih akrab dan mengenalnya dengan nama Bioskop Megaria.

Baca Juga:Aldiron Plaza Blok M, Surganya Pecinta Sepatu Roda Generasi 80-an

Di kenal sebagai bioskop tertua dan terbesar di Jakarta, Bioskop Metropole konsisten dengan menayangkan film-film asal Amerika, khususnya film produksi Metro Goldwyn Mayer (MGM). Hingga pada tahun 1950-an, sebuah film produksi anak negeri pun ingin menayangkan filmnya yang berjudul Krisis karya Umar Ismail.

Penayangan film tersebut pun sempat mendapat kritik dan penolakan dari sejumlah pihak. Namun film Krisis nyatanya mampu bertahan dan laris manis hingga lima minggu, melebihi jadwal tayang film-film luar negeri.

Sebelum menyandang nama Metropole XXI, Bioskop Megaria sempat mengalami pasang surut dan hampir ditutup oleh sang pemilik. Hal ini lantaran maraknya berbagai stasiun televisi swasta yang membuat daya minat penonton bioskop menurun drastis. Tak kehabisan akal dan cara, Bioskop Megaria pun menemukan jalan keluar dari masa kelamnya.

Bisokop Metropole

Bioskop Megaria alias Metropole ini pun menerapkan konsep baru berupa Sineplex. Dimana akan tersedia banyak ruangan dan pilihan untuk menonton film. Bahkan Bioskop Megaria menyediakan dua studio tambahan pada gedung yang berbeda, hingga tercipta Megaria I dan Megaria II yang letaknya persis dibelakang gedung utama.

Kini, Bioskop Megaria alias Metropole sudah mengalami banyak perubahan dan penambahan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Banyaknya perubahan ini dapat terlihat dari tenant yang mengisi tiap sudut dari bangunan bersejarah ini. Adanya kedai kopi Starbucks hingga pempek Megaria menambah daya tarik pengunjung untuk singgah di bangunan tua dan bersejarah ini.

Bioskop Megaria alias Metropole ditetapkan sebagai cagar budaya kelas A berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No.475 tahun 1993. Dengan demikian Bioskop Megaria alias Metropole tidak dapat dibongkar atau dihancurkan dengan perlindungan peraturan tersebut.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here