Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)
Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)

Stasiun Jatinegara merupakan salah satu stasiun terbesar yang terletak di Ibukota, Jakarta. Berdiri sejak zaman kolonial Belanda, nama pertama dari stasiun ini bukanlah Jatinegara. Stasiun ini dulunya bernama Meester Cornelis, yang diambil dari nama seorang guru bernama Cornelis Senen.

Stasiun kereta api Jatinegara merupakan stasiun kelas I yang berada di Kelurahan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur. Stasiun ini merupakan stasiun perbatasan antara Jatinegara dengan Matraman, sehingga Stasiun ini kerap kali menjadi stasiun penghubung dari berbagai kereta antar jurusan.

Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)
Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)

Berdiri sejak tahun 1910, saat itu rancangan dari Stasiun Jatinegara kabarnya merupakan rancangan dari seorang arsitek bernama Ir. S. Snuyff. Mulanya Snuyff hanya ingin membangun sebuah stasiun besar yang berfungsi sebagai persinggahan kereta api menuju Bandung.

Penggunaan nama Jatinegara untuk stasiun kereta api ini mulai digunakan sejak zaman penjajahan Jepang. Pemerintah Jepang tidak ingin ada nama khas Belanda di masa pemerintahannya, sehingga nama Jatinegara yang berarti Negara Sejati tersebut digunakan.

Nama Jatinegara sendiri pun diambil dari sebutan Pangeran Jayakarta yang sudah lebih dulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum. Saat itu pemerintah Belanda berhasil menghancurkan Keraton Sunda Kelapa, sehingga sebuah perkampungan pun didirikan saat itu.

Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)
Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)

Memiliki ketinggian +16 mdpl, Stasiun Jatinegara menjadi salah satu stasiun tersibuk di wilayah Jakarta. Mulai dari melayani perjalanan KRL Commuter Line Bekasi – Jakarta (PP), Jarinegara – Bogor (PP), hingga melayani perjalanan dan kedatangan kereta api luar kota.

Dengan ramainya rute yang dilayani oleh Stasiun Jatinegara, sedikitnya stasiun ini memiliki 5 jalur utama dan 3 jalur alternatif yang digunakan untuk pergantian lokomotif dan menyimpan rangkaian kereta api.

Pada tahun 1872 jalur kereta api Gambir – Jatinegara resmi di buka. Dengan dibukanya Stasiun Gambir tersebut, maka jalur untuk Stasiun Jatinegara kian bertambah, yang meliputi jalur Jatinegara – Bogor.

Memasuki abad ke-20 atau sekitar tahun 1905, wilayah Batavia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Banyaknya bangunan yang mulai beridiri kokoh pun membuat wilayah Jatinegara kian ramai, termasuk Stasiun Jatinegara. Di tahun 1925 pengoperasian kereta api listrik mulai diberlakukan. Saat itu Stasiun Jatinegara mulai terhubung dengan Tanjung Priok dan Manggarai.

Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)
Sejarah Stasiun Jatinegara (Sumber: detik)

Hingga saat ini Stasiun Jatinegara menjadi salah satu stasiun kereta api tersibuk di wilayah Jakarta. Sedikitnya setiap hari stasiun ini dilewati sekitar 350 kereta api baik dalam kota maupun luar kota. Manurut berbagai sumber, Stasiun Jatinegara ini dibangun oleh Staats Spoorwegen (SS) dengan gaya Indische Empire dan gaya Kolonial Modern Eropa.

Gaya Modern Eropa ini bisa dilihat dari desain atap yang memiliki kemiringan sangat tajam. Sementara untuk pintu, jendela maupun jendela atap dibuat lebar agar pendapatkan pencahayaan yang cukup dan juga pengawasan. Untuk area peron pun sudah banyak mengalami perbaikan, mulai dari dilebarkan hingga ditambahkan atap tinggi dengan lantai yang lebih tinggi.

Tahun 2005, Stasiun Jatinegara ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya yang ditetapkan berdasarkan Minister of Tourism No. 011/M/1999, 12 Januari 1999: dan SK Menbudpar Ni: PM.13/PW.007/MKP/05.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here