Rumah Sakit PGI Cikini

Salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta yakni Rumah Sakit PGI Cikini, merupakan salah satu rumah sakit yang memiliki desain arsitektur yang cukup menarik. Bangunan luar dari Rumah Sakit PGI Cikini terlihat seperti sebuah istana yang sengaja dijadikan rumah sakit. Faktanya ialah Rumah Sakit PGI Cikini memang menempati sebuah istana milik seorang pelukis ternama Indonesia, Raden Saleh.

Tepatnya pada tahun 1895, Rumah Sakit PGI Cikini lahir. Saat itu Dominee Cornelis de Graaf dan isterinya, Adriana J de Graaf Kooman mendirikan Vereeniging Voor Ziekenverpleging In Indie atau perkumpulan orang sakit di Indonesia. Kemudian keduanya membuka sebuah balai pengobatan yang terletak di dekat istana Negara pada 1 September 1895.

Berdirinya balai pengobatan itu ternyata mulai ramai dikunjungi, baik warga Indonesia maupun Belanda. Hal ini pun membuat keluarga Graaf mulai mencari dana tambahan untuk mendirikan balai pengobatan yang lebih besar. Saat itu juga Ratu Belanda, Ratu Emma memberikan sumbangan sebanyak 100,000 emas.

Rumah Sakit PGI Cikini

Melalui sumbangan ini, keluarga Graaf memutuskan untuk membeli sebuah rumah mewah yang menyerupai istana milik pelukis asal Indonesia, Raden Saleh. Pembelian rumah mewah itu pun membuat aktivitas di balai pengobatan dipindahkan ke kawasan Cikini pada tahun 1897.

Perpindahan lokasi balai pengobatan itu pun berlanjut dengan perubahan status pada tahun 1898. Balai pengobatan ini pun secara resmi dijadikan sebagai Rumah Sakit Diakones pertama di Indonesia. Penamaan dari Rumah Sakit ini pun menggunakan nama Ratu Emma sebagai penyumbang dana terbesar, maka disepakatilah dengan nama Koningin Emma Ziekenhuis atau Rumah Sakit Ratu Emma.

Sebagai rumah sakti pertama, petugas medis pertama yang bertugas di Rumah Sakit Ratu Emma adalah Nirin Ninkeulen, orang pribumi pertama yang bekerja di Rumah Sakit Ratu Emma. Pada tanggal 1 Agustus 1913 terjadi perubahan nama kembali dari rumah sakit tersebut menjadi Rumah Sakit Tjikini.

Sekitar tahun 1942 – 1945 Rumah Sakit Tjikini dijadikan rumah sakit khusus untuk Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Setelah pasca penduduk Jepang yang mulai meramaikan wilayah NKRI, Rumah Sakit Tjikini pun diambil alih oleh RAPWI dan juga DVG. Bentuk pengoperasian dan pengelolaan dari Rumah Sakit Tjikini pun menjadi tanggung jawab RAPWI dan juga DVG.

Pada tahun 1948, Rumah Sakit Tjikini dikembalikan kepada pihak swasta yang dipimpin oleh R.F Bozkelman. Memasuki tahun 1957, pengelolaan Rumah Sakit Tjikini kembali dipindah tangankan. Kali ini pengelolaan Rumah Sakit Tjikini diberikan kepada dewan gereja-gereja Indonesia (DGI), bersama Prof. Dr Joedono sebagai pimpinan sementara.

Peralihan itu pun membuat Rumah Sakit Tjikini kembali mengalami perubahan nama. Kali ini nama Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini terpilih untuk nama tempat pengobatan tersebut. Seiring berjalannya waktu, tahun 1989, nama DGI mengalami perubahan kembali menjadi PGI. Hal ini dikarenakan terjadi penyempurnaan bahasa pada masa tersebut, yang akhirnya mempengaruhi namanya menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini.

Bukan hanya sebuah rumah sakit megah saja yang berhasil diwujudkan oleh Dominee Cornelis de Graaf dan isterinya, Adriana J de Graaf Kooman, Rumah Sakit PGI Cikini juga memiliki sebuah lahan luas berupa taman yang sejuk dan rindang. Bahkan dahulu kala, taman luas ini sempat dijadikan kebun binatang lantaran luasnya yang mencapai TIM, kampus IKJ serta SMP I Cikini.

Saat ini keberadaan taman luas di kawasan Rumah Sakit PGI Cikini lebih dikenal dengan sebutan A Garden Hospital with Loving Touch. Hal ini tak lepas dari tangan keluarga Graaf dan juga Ratu Belanda, Ratu Emma.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here