Selama beratus tahun lamanya, sejak Revolusi Industri yang pertama terjadi pada abad ke-18 yang ditandai dengan penemuan mesin uap yang digunakan untuk proses produksi barang. Bumi di kalahkan oleh keegoisan dan dominasi manusia terhadapnya,pertarungan politik, pesta demokrasi di negara tercinta kita ini tak terasa hampir setahun lalu berlalu, para kandidat berlomba saling mengalahkan kandidat lainnya dan Bumi saat itu hanya mampu sebagai penonton dan tetap sebagai yang terkalahkan dari proses tersebut.

Sementara di belahan Bumi lainnya, semua pihak, bangsa dan negara lain berlomba-lomba memperebutkan sumber daya alam, yang ada di Bumi untuk dengan cara beradab melalui diplomasi, bantuan kemanusiaan yang sebenarnya tujuan akhirnya adalah usaha untuk melegalkan penjajahan terhadap bangsa lain, peperangan dan penjajahan secara ekonomi. Mereka menjadi pihak yang mengalahkan pihak yang tersingkir atau terkalahkan, dimana Bumi? Kembali, Bumi hanya mampu dan dapat berdiam diri dan menjadi sebagai sisi yang paling kalah oleh semua itu. Tindakan dari manusia yang melakukan ekploitasi atas semua apa yang sebenarnya adalah milik dari Bumi.

Dalam semua agama dan aliran kepercayaan yang ada di Bumi ini mengajarkan manusia untuk dapat menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga alam ini, memelihara bumi dengan lingkungan yang ada di dalamnya, bahkan di abad ke 7, Raja Kedatoan Sriwjaya, Sri Jayanasa berpesan ke masyarakatnya agar selalu memperlakukan alam untuk kebaikan semua makhluk hidup, sebagai upaya menjaga keseimbangan alam. Jika sebaliknya atau bertentangan dengan hal tersebut, manusia pun akan hidup menderita dengan berbagai penyakit atau hidup tidak bahagia.

Pandemi virus Corona atau Covid-19 telah melanda lebih dari 200 negara dan hanya dalam hitungan bulan, dunia berubah. Ratusan ribu orang telah meninggal dunia dan jutaan lainnya sakit karena virus corona. Seluruh negara telah berupaya melawan virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 lalu. Beragam upaya untuk melawan virus yang menyerang sistem pernapasan ini, dari mulai sosialisasi kebersihan, social distancing atau kita mengenalnya di Indonesia dengan sebutan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, penyemprotan disinfektan, pembatasan segala kegiatan berkumpul atau sosial aktifitas kemasyarakatan dan lockdown.

Selain untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, pembatasan sosial ataupun lockdown juga mempunyai dampak pada turunnya polusi atau pencemaran lingkungan secara drastis. Penelitian menemukan bahwa partikel polutan kecil yang dikenal sebagai PM 2.5, dihirup selama bertahun-tahun, akan secara tajam meningkatkan kemungkinan kematian akibat virus.

Banyak industri baik dari latar belakang industri besar hingga industri kecil, restauran, gerai makanan, jejaring transportasi dan perusahaan mengurangi kegiatannya dan bahkan ada yang tutup, dan laju perekonomian imbasnya menjadi tersendat, bahkan melambat di beberapa negara membuat roda perekenomian menjadi terpukul di karenakan adanya pembatasan kegiatan sosial ekonomi dan aktifitas kemasyarakatan di atas.

Ternyata, hanya ancaman mendadak dan eksistensial seperti Covid-19 yang bisa membuat perubahan terhadap lingkungan yang dapat begitu besar dan begitu cepat memberi dampak ke umat manusia di Bumi. Pandemi Covid-19 ini telah mengakibatkan jutaan orang kehilangan pekerjaan dan terancam keberlangsungan hidupnya. Kegiatan ekonomi terhenti dan pasar saham di beberapa lantai bursa di beberapa negara anjlok.

Namun, di lain sisi, dampak virus Corona atau Covid-19 ini juga memberi dampak positif, yaitu adanya perubahan yang cukup signifikan terhadap kondisi pencemaran lingkungan di beberapa negara. Salah satu yang paling mudah untuk menakarnya atau menilainya adalah adanya  penurunan yang cukup drastis terhadap jumlah emisi karbon di udara lepas di suatu Negara. Sebagai contoh di China, tingkat emisi berkurang 25% di awal tahun, ketika orang-orang diperintahkan untuk tinggal di rumah, pabrik-pabrik tutup dan penggunaan batu bara di enam pembangkit listrik terbesar China merosot hingga 40%, proporsi hari-hari dengan “kualitas udara baik” naik 11,4% dibandingkan waktu yang sama pada tahun lalu di 337 kota di seluruh China.

Dibandingkan dengan kurun waktu yang sama pada tahun ini di New York, tingkat polusi udara berkurang nyaris sebanyak 50%.

Di Eropa, pencitraan satelit menunjukkan emisi nitrogen dioksida (NO2) memudar di atas Italia utara. Fenomena sama terjadi di Spanyol dan Inggris. Selain itu ada di Brussels, Paris, Madrid, Milan, dan Frankfurt. Padahal Milan merupakan negara yang dinobatkan sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi di Eropa pada tahun 2008.

Gambar sebelum Covid-19 di Milan.

Gambar selama lockdown diberlakukan di Milan.

Selain itu, ada negara India yang mengalami perubahan polusi udara secara drastis setelah menerapkan lockdown karena pandemic corona. Ini adalah potret India Gate War Memorial di New Delhi :

                              Gambar sebelum Covid-19 di New Delhi.

                      Gambar selama Lockdown di berlakukan di New Delhi.

Di Indonesia sendiri, dengan kebijakan pembatasan aktifitas social ekonomi kemasyarakatan di Ibukota Negara atau kota Jakarta, ternyata berhasil membuat udara Jakarta menjadi bersih dengan level Kategori Baik yaitu nilai PM 2,5, rata-rata sebesar 18,46 µg/m³, atau kualitas udara yang terbaik di Kota Jakarta setelah 28 tahun lamanya.

                                Gambar sebelum Covid-19 di Jakarta.

                          Gambar selama PSBB di berlakukan di Jakarta.

Seiring dengan penurunan polusi udara, warga Venesia di Italia menyaksikan perbaikan kualitas air pada kanal-kanal di kota mereka,disebabkan tidak adanya kegiatan wisatawan yang berkunjung ke kota itu, lalu lintas di kanal-kanal menurun drastis sehingga air yang biasanya keruh, kini begitu jernih sampai ikan-ikan dapat terlihat.

Gambar Sungai di Venesia saat Lockdown di berlakukan.

Julia Pongratz, profesor geografi fisika dan sistem penggunaan tanah di Departemen Geografi Universitas Munich, Jerman, menemukan bahwa epidemi seperti peristiwa Wabah Hitam di Eropa pada Abad ke-14, dan epidemi penyakit seperti cacar yang dibawa ke Amerika Selatan oleh penjajah Spanyol pada Abad ke-16, menyebabkan penurunan level CO2 di atmosfer. Pongratz menemukan fakta ini dari mengukur gelembung udara kecil yang terperangkap di dalam inti es purba.

Perubahan-perubahan ini adalah hasil dari tingginya jumlah kematian dan, dalam kasus penaklukkan Amerika, karena genosida.

Penelitian lain menemukan bahwa banyaknya korban meninggal dunia berarti ada sejumlah besar lahan pertanian yang ditinggalkan, ditumbuhi tanaman liar dan mengurangi kadar CO2 secara masif.

Imbas dari wabah saat ini tidak diprediksi mengakibatkan kematian sebanyak itu, dan rasanya tidak akan berpengaruh banyak pada perubahan penggunaan lahan.

Dampak lingkungan yang terjadi saat ini justru lebih mirip dengan efek yang terjadi setelah krisis ekonomi 2008 dan 2009. “Saat itu, tingkat emisi global merosot jauh selama setahun,” kata Pongratz.

Kala itu, pengurangan emisi terjadi karena berkurangnya kegiatan industri, yang menyumbang emisi karbon nyaris setara dengan transportasi. Emisi gabungan dari proses industri, manufaktur dan konstruksi menyumbang 18,4% emisi global yang berasal dari kegiatan manusia.

Krisis ekonomi 2008-2009 mengakibatkan menurunnya kadar emisi hingga 1,3%. Namun ketika perekonomian pulih pada 2010, angka emisi kembali melambung, bahkan mencapai yang tertinggi sepanjang sejarah.

“Ada pertanda bahwa virus corona akan mengakibatkan hal yang sama,” ujar Pongratz. “Sebagai contoh, permintaan produk berbahan minyak, besi dan logam menurun. Namun di saat sama, stok bahan baku tersebut masih sangat tinggi, sehingga produksi dapat segera mengikuti.”

Salah satu faktor yang bisa memengaruhi apakah kadar emisi lingkungan akan kembali melambung adalah berapa lama situasi pandemi virus corona ini akan berlangsung. “Pada saat ini, susah diprediksi,” kata Pongratz.

“Bisa jadi kita akan melihat efek jangka panjang dan substansial. Jika wabah virus corona berlanjut hingga akhir tahun, maka permintaan konsumen akan tetap rendah karena banyak yang kehilangan pendapatan. Perekonomian dunia dan penggunaan bahan bakar fosil mungkin tidak akan pulih secepat itu.”

OECD memprediksi perekonomian global masih akan tumbuh pada 2020, meski prediksi pertumbuhan diturunkan hingga separuhnya karena virus corona.

Meski begitu, para peneliti seperti Glen Peters dari Pusat Penelitian Iklim dan Lingkungan Internasional di Oslo mencatat bahwa secara umum, emisi global pada 2020 diperkirakan turun sebesar 0,3%,  masih lebih rendah dibandingkan saat krisis 2008-2009. Ada kemungkinan angka ini melambung lagi, tapi tidak akan sebesar dulu, jika usaha untuk mengembalikan perekonomian difokuskan pada sektor seperti energi terbarukan.

Hal lain dari dampak virus Corona adalah para ilmuwan menemukan sebuah pemandangan unik yang terjadi di atmosfer. Para ahli menemukan sebuah lubang langka yang berukuran sangat besar telah terbuka di lapisan ozon di atas Kutub Utara sebelum dampak wabah dari Covid-19 ini melanda bumi menyebutkan bahwa lubang ozon bumi mulai menutup,menurut The Copernicus Atmosphere Monitoring, lapisan ozon kali ini terlihat tidak biasa di atas Antartika.

“Biasanya lubang ozon berada di Antartika di musim semi (September). Tahun ini, karena kondisi meteorologi khusus, penipisan ozon diamati juga di atas wilayah kutub utara,” jelasnya

Penipisan ozon secara langsung berkaitan dengan suhu di stratosfer.Ozon dihancurkan oleh reaksi kimia dalam awan stratosfer yang hanya dapat terbentuk pada suhu di bawah -80 °C, sebelumnya, lapisan ozon tersebut telah rusak akibat pemanasan global.Tingginya penggunaan zat chlorofluorocarbon atau CFC telah menyebabkan lapisan tersebut rusak dan dapat mengancam jiwa manusia.

Berdasarkan National Institutes of Health Department of Health & Human Services menjelaskan, chlorofluorocarbon (CFC) adalah sekelompok bahan kimia yang diproduksi tidak berbau dan karena mereka merusak lapisan ozon bumi, CFC telah dilarang sejak 1996. Sebelum produk CFC dilarang, mereka digunakan dalam aerosol, lemari es, AC, pengemasan makanan busa, dan alat pemadam kebakaran dan sebelum 2009, CFC digunakan dalam inhaler untuk mengendalikan asma. Dua jenis inhaler CFC terakhir dihapus pada tahun 2013.

CFC juga merupakan gas rumah kaca yang mempengaruhi lingkungan dengan berkontribusi terhadap pemanasan global. Efek kesehatan jangka pendek dari CFC meliputi jaringan kulit membeku seperti di ujung jari atau di saluran udara bagian atas. Menghirup konsentrasi CFC yang tinggi dapat menyebabkan gejala keracunan, koordinasi berkurang, sakit kepala dan pusing, tremor dan kejang-kejang, atau detak jantung tak teratur.

Sedangkan efek kesehatan jangka panjang dapat meningkatkan paparan sinar ultraviolet yang berbahaya bagi kulit. Bahkan tingginya sinar ultraviolet ini dapat menyebabkan katarak, kanker kulit, hingga sistem kekebalan tubuh lemah. Terlepas dari itu, para ilmuwan tengah meneliti lebih lanjut terkait lubang ozon yang mulai menutup tersebut, ada yang berasumsi bahwa lockdown yang dilakukan beberapa negara, yang menutup sementara beberapa pabrik dengan cerobong asap, menjadi salah satu faktor penyebabnya dan beranggapan bahwa lapisan ozon pulih akibat Bumi bersih dari kegiatan yang menghasilkan karbon berlebih meski diselimuti momok menakutkan, yaitu Virus Corona (Covid-19).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here