Gemerlap dunia hiburan malam di Jakarta untuk pertama kalinya bangkit pada pada tahun 1970. Saat itu sebuah Diskotek di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk pertama kalinya berdiri di Jakarta. Bangunan Diskotek itu ialah Diskotek Tanamur, yang juga menjadi titik awal pengenalan dunia malam di Jakarta.

Diskotek Tanamur merupakan tempat hiburan malam yang pertama berdiri di Jakarta. Nama Tanamur sendiri diambil dari kata Tanah Abang Timur. Seorang pengusaha keturunan Arab, Ahmad Fahmy Alhady yang juga merupakan mantan suami dari seorang aktivis, Ratna Sarumpet ini adalah seseorang dibalik berdirinya Diskotek Tanamur.

Baca Juga : Megenang Masa Kejayaan Bandara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama Indonesia

Fahmy yang merupakan seorang mahasiswa Teknik Industri Jerman ini kembali ke tanah air. Alih-alih meneruskan usaha keluarga berupa bisnis tekstil, Fahmy justru melihat peluang lain yang lebih menguntungkan bagi dirinya. Bersama dengan kerabat dan saudaranya, Fahmy membuka Diskotek Tanamur.

Bangunan yang dijadikan disktotik ini sejatinya hanyalah sebuah rumah tua milik Anis, saudara dari Fahmy. Bermodalkan uang Rp25 Juta, Fahmy dan kedua kerabatnya pun mulai membuka tempat hiburan malam pertama di Jakarta ini.

Gubernur Ali Sadikin juga merupakan salah satu dibalik berdirinya Diskotek Tanamur. Kala itu di masa jabatannya, Gubernur Ali Sadikit memberikan izin pendirian bangunan tempat hiburan malam tersebut. Dengan alih-alih investasi jangka panjang dan ladang pertumbuhan ekonomi, serta demi menjadikan Jakarta sebagai kota metropolitan.

Bentuk izin pendirian usaha hiburan malam tersebut tentunya di dukung dengan kebijakan dan beberapa peraturan, seperti tidak boleh dekat dengan sekolah, tidak dekat tempat Ibadah dan tidak mengganggu masyarakat umum.

Kemunculan Diskotek Tanamur ini seolah membawa angin segar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kala itu, pada rezim Orde Baru, kemunculannya seolah di dukung penuh dengan pemerintah. Dukungan ini tak lepas dari peningkatan jumlah ekonomi Negara berkat munculnya tempat hiburan malam tersebut. Para investor dari luar negeri pun berdatangan ke Indonesia.

Rata-rata pengunjung yang datang atau sekedar mampir ke Diskotek Tanamur ini adalah warga Negara asing yang ingin melepas penat sehabis bekerja. Meskipun demikian, muda-mudi lokal juga turut meramaikan Diskotek Tanamur saat itu.

Baca Juga :Bioskop Megaria Alias Metropole, Bioskop Kelas Satu Terbesar dan Tertua di Jakarta

Pada masa 1970-an, Tanamur juga mendapat pesaing. Saat itu muncul dua diskotek serupa yang berusaha menyaingi kesuksesan Tanamur. Diskotek Guwarama yang terletak di Hotel Indonesia dan Minidisco yang berada di Gondangdia. Akan tetapi kemunculan dua diskotek tersebut tidak memadamkan kesuksesan Tanamur.

Diskotek Tanamur dikenal sebagai diskotek bagi semua kalangan. Terlebih Tanamur memiliki konsep tersendiri, yaitu menyajikan berbagai tema pada hari-hari tertentu seperti Halloween, Valentine, Beach Day, Saint Patrick, dan Bastille Day.

Sayangnya gemerlap lampu Tanamur harus padam saat krisis moneter dan kerusuhan terjadi pada 1997 hingga 1998. Penurunan omzet dan perginya para pelanggan mengharuskan Tanamur menggulung tikar. Secara resmi Diskotek Tanamur padam pada tahun 2002. Bersama dengan Diskotek Tanamur juga lahir sederet DJ seperti DJ Vincent, DJ Bongky, dan DJ Ian Hanmur.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here