Tahun 2013, industri film Indonesia sempat melahirkan sebuah karya yang diambil dari sebuah novel karya Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film ini diperankan oleh Pevita Pearce (Hayati) dan Herjunot Ali (Zainuddin). Novel karya Buya Hamka ini sempat dicap plagiat dari Sous les Tilleuls (1832) karya Jean Baptise Alphonse Karr.

Baca juga : Tak Tersentuh selama 22 Tahun, Website ‘Space Jam’ Seperti peninggalan Bersejarah

Kapal Van Der Wijck bukanlah mitos belaka, kapal ini benar adanya. Kapal ini dimiliki oleh pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Nama Van Der Wijck sendiri diambil dari nama seorang Gubernur Hindia-Belanda, Carel Herman Van Der Wijck yang berkuasa pada tahun 1893 hingga 1899.

Memiliki jadwal berlayar dari Bali ke Semarang dan singgah di Surabaya, Kapal Van Der Wijck mulai diresmikan sebagai kapal penumpang pada tahun 1921. Persemian ini dilakukan oleh Maatschappij Fijenoord N.V., sebuah pabrik galangan kapal di Fyenoord, Rotterdam.

Bermula dari kapal uap, kapal Van Der Wijck ini memiliki panjang 97,5 meter, lebar 13,4 meter, dan tinggi 8,5 meter. Daya angkut kapal ini mencapai 1.801 ton, dengan berat kotornya mencapai 2.633 ton dan berat bersih 1.512 ton.  Kapal ini dapat menampung sedikitnya 1.093 penumpang yang dibagi ke dalam beberapa kategori, kelas pertama mengangkut 60 orang, kelas dua 34 orang, dan geladaknya mampu menampung 999 orang.

Seperti yang dituliskan oleh Buya Hamka dalam novelnya, Kapal Van Der Wijck ini karam dan tenggalam di kawasan Westgat, yang merupakan selat diantara Pulau Madura dan Surabaya. Saat itu tepat tanggal 20 Oktober 1936, Kapal Van Der Wijck yang mengangkut 250 orang, ketika lepas jangkar dari Surabaya mengalami karam dan tenggelam.

Saat mengalami karam dan tenggelam, kapal ini di nahkodai oleh B.C. Akkerman, yang sudah memiliki pengalaman 25 tahun, dan baru dua minggu bekerja di atas Kapal Van Der Wijck. Nahkoda B.C. Akkerman saat itu dijadwalkan berlayar dengan rute Makassar – Tanjung Perak (Surabaya) – Tanjung Mas (Semarang) – Tanjung Priok (Jakarta) – Palembang. Sebelum karam, kapal ini sudah berlayar dari Makassar dan Buleleng.

Beredar kabar yang mengatakan bahwa Kapal Van Der Wijck juga memuat kayu besi, yang rencananya muatan ini akan dipindahkan ke kapal lain setibanya di Tanjung Priok untuk dibawa ke Afrika. Dalam usia 15 tahun beroprasi, Kapal Van Der Wijck karam dan tenggelam yang menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.

Untuk menyelamatkan para korban yang terperangkap di Kapal Van Der Wijck, sedikitnya 8 pesawat udara jenis Dornier yang bisa mendarat di atas air di kerahkan, bantuan dari para nelayan dan penduduk sekitar pun turut serta membantu penyelamatan para korban. Sedikitnya 20 orang berhasil di selamatkan dan di evakuasi ke atas pesawat dornier untuk di terbangkan ke Surabaya. Sementara perahu-perahu nelayan berhasil menyelamatkan puluhan orang, baik warga Indonesia maupun warga Negara Eropa.

Total penumpang yang berhasil diselamtakan mencapai 153 orang, sementara 70 orang lainnya termasuk awak kabin dinyatakan hilang. Peristiwa tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini kemudian diabadikan dalam sebuah monument di Lamongan, tepatnya di Pelabuhan Brondong. Pada tugu monument tersebut terdapat ucapan terima kasih kepada para penyelamat, termasuk kepada para nelayan setempat yang membantu proses penyelamatan. Di tugu tersebut bertuliskan “Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktu Tenggelamnya Kapal van der Wijck”.

Sayangnya tak banyak masyarakat atau wisatawan yang mengetahui letak lokasi monument ini. Hal ini di karenakan lokasinya yang dianggap sebagai bagian dari bangunan kantor Pelabuhan. Lokasi monument ini berdekatan pula dengan Tempat Pelelangan Ikan, yang terletak di Jalan Raya Brondong.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here