Dulu segenggam emas kau pinang aku…Dulu bersumpah janji di depan saksi…Namun semua hilanglah sudah ditelan dusta…Namun semua tinggal cerita hati yang luka.

Sepenggal lirik diatas merupakan salah satu lagu fenomenal yang sempat hits di tahun 1980-an. Tentunya bagi generasi 80-an, mengenang lagu Hati Yang Luka ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Lagu ini dipopulerkan oleh Betharia Sonata, yang kala itu lagu yang dilantunkannya mendapat kritik dan larangan keras dari pemerintah.

Kemunculan lagu-lagu yang dianggap cengeng dan mendayu-dayu pada tahun 1980-an ini membuat kelompok elit pemerintah resah. Tidak berhenti di lagu Hati Yang Luka saja, lagu yang dinyanyikan oleh Nia Daniati yang berjudul Gelas-Gelas Kaca juga mendapat kritikan.

Image: Indolawasblogspot.com

Fenomena lagu cengeng ini nyatanya bukan hanya datang dari satu penyanyi dan satu pencipta saja. Di masa tersebut nama-nama seperti Rinto Harahap, Obbie Mesakh, A. Riyanto hingga Pance Pondaag menjadi sorotan.

Nama-nama diatas merupakan para pencipta lirik-lirik yang dianggap cengeng namun fenomenal pada masanya. Melalui tangan mereka, sejumlah lagu cengeng pun dinyanyikan oleh para penyanyi berbakat mulai dari Nia Daniati, Betharia Sonata, Dian Piesesha, Ratih Purwasih, dan juga Iis Sugiarto. Mereka pun dikenal sebagai penyanyi spesialis lagu bertema patah hati.

Maraknya lagu dengan tema patah hati ini membuat pemerintah resah dan membuat larangan agar lagu-lagu patah hati tersebut tidak ditayangkan di televisi hingga radio. Saat itu Menteri Penerangan yaitu Harmoko menganggap bahwa lagu tersebut dianggap melemahkan sekaligus mematahkan semangat. Harmoko sendiri adalah Menteri Penerangan pada rezim orde baru.

Di balik lagu yang dianggap cengeng ini, lagu Gelas-Gelas Kaca sendiri faktanya memiliki arti yang cukup mendalam. Lagu yang diciptakan oleh Rinto Harahap ini memang sudah lama menyimpan misteri dari kata per kata yang tertuang dalam lirik.

Betharia Sonata, Nia Daniaty dan Dian Piesesha

Gelas-Gelas Kaca sendiri memiliki makna yang mendalam tentang anak-anak yatim piatu yang berada di panti asuhan. Kala itu Rinto bersama dengan Nia sedang mengunjungi sebuah panti asuhan. Rinto pun tersentuh melihat Nia yang cukup akrab dengan anak yatim piatu tersebut. Mereka yang terlantar hanya bisa mengadu dan menangis dibalik kaca.

Sejak saat itulah ide untuk menulis lirik dalam lagu Galas-Gelas Kaca tersusun hingga membentuk sebuah lirik yang mendalam. Meski lagu bertemakan cengeng ini sempat di kritik dan di larang oleh pemerintah, Dian Piesesha membuktikan dengan lagu Aku Masih Seperti Yang Dulu. Lagu yang dinyanyikannya ini berhasil terjual hingga 2 juta keping kopi.

Kini, lagu dengan tema cengeng, percintaan, perpisahan, penyesalan hingga kegundahan tidak perlu lagi mengalami pencekalan dari pemerintah. Kebebasan bermusik saat ini sudah cukup didukung oleh pemerintah, meskipun beberapa waktu lalu sempat dihebohkan dengan undang-undang permusikan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here