Tembok kusam, cat mengelupas, ditambah lumut menjalar di sekujur bangunan, membuat gedung ini amat mencolok dibanding rumah-rumah lain kawanan Banyu Urip, Surabaya. Sekilas tak ada kehidupan di dalamnya. Gedung ini berkawan kesunyian. Warga menjulukinya ‘Gedung Setan’, karena bangunan ini dianggap sarang dedemit. Benarkah demikian? Jika kalian bertemu lebih dari 200 orang yang tinggal berdesakan dalam gedung itu, jawabannya bakal berbeda dari bayangan. Di dalamnya, justru berpendar kehidupan yang penuh warna.

Sebagian keluarga penghuni bangunan dua lantai itu adalah keturunan etnis Tionghoa. Sebagian lagi berdarah campuran Jawa atau Madura. Keluarga-keluarga ini berbagi ruang dalam bilik-bilik kayu selama lebih dari separuh abad terakhir. Penghuni jarang disambangi orang asing. Mereka terbiasa hidup tertutup dari lingkungan. Sebab, dari berbagai hal yang mewarnai gedung setan, trauma adalah salah satunya.

Bangunan ini didirikan pada 1809 oleh bekas pemimpin sipil Serikat Dagang Hindia Belanda (VOC) untuk wilayah Jawa Timur, setara gubernur sekarang, bernama J.A Riddle Von Middelkop. Pada 1945, dokter berdarah Tionghoa, Teng Khoen Gwan, membeli bangunan tersebut. Sang dokter hendak memakainya sebagai lokasi transit jenazah keluarga Tionghoa sebelum menuju pemakaman atau diperabukan. Lokasi gedung ini ideal untuk bisnis macam itu, karena di sekitarnya masih tanah lapang dan dekat bong, alias makam khas tradisi Cina.

Dua tahun sesudah kemerdekaan Indonesia, rencana dr Teng Khoen Gwan terpaksa diubah total. Terjadi pembantaian besar-besaran di Madiun. Partai Komunis Indonesia, dipimpin Musso mendeklarasikan berdirinya negara baru, membangkang terhadap republik. Warga Tionghoa Madiun, yang menghindari konflik bersenjata, kabur ke mana mereka bisa. Kemudian Dr. Teng Khoen Gwan, memberikan tempat persembunyian bagi saudara-saudaranya sesama Tionghoa, yang waktu itu juga diburu.

Gelombang migrasi kedua ke Gedung Setan ditandai meletusnya Tragedi 1965. Saat itu, lagi-lagi warga Tionghoa jadi target sasaran, kendati tak semua bersimpati pada komunisme.

Sejak pembantaian komunis dan pemaksaan asimiliasi terhadap warga Tionghoa membuat mereka secara tak bisa jadi PNS, harus berganti nama, dan melarang orang Cina belajar bahasa leluhurnya—bangunan itu mulai disebut gedung setan. Penghuninya bertahan dalam kegelapan. Siapa sangka, suasana gelap membuat bangunan ini luput dari perhatian rezim. Satu-satunya sumber penerangan yang dimiliki warga hanya lampu petromak, atau lilin merah. Suasana mencekam baru bisa mereka lalui setelah akhir dekade 60’an.

Pasca 1965, warga Gedung Setan menarik diri dari masyarakat. Mereka bertahan hidup dengan cara menginisiasi dapur publik yang diolah secara kolektif. Lembaga dari Tiongkok, Chongwa Chongwe Foundation, mengulurkan bantuan pangan bagi penghuni.

Butuh waktu lama bagi warga bisa kembali berbaur masyarakat luar gedung. Pengalaman traumatik terhadap etnis Tionghoa memaksa warga menginisiasi apa yang mereka butuhkan secara mandiri.

 

sumber : Vice.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here