Nama Soedjarwoto Soemarsono atau akrab dikenal dengan nama Gombloh tentu sudah tidak asing di telinga generasi 70 hingga 80-an. Musisi yang fokus dengan aliran musik rock/orchestra rock ini merupakan musisi legendaris Indonesia. Gombloh juga dikenal sebagai musisi berjiwa nasionalis yang juga akrab dengan para pekerja seks komersil (PSK).

Musisi kelahiran Jombang, 14 Juli 1948 ini pertama kali terjun ke dunia musik sekitar tahun 1969. Saat itu Gombloh bergabung dengan salah satu band beraliran rock, Lemon Tree’s Anno ’69. Bersama dengan grup bandnya, anak pasangan Slamet dan Tatoekah ini mulai berjalan menapaki karirnya sebagai seorang musisi.

Sejak terbentuk tahun 1969, Gombloh baru merilis album bersama grupnya pada tahun 1978. Berkarir sebagai musisi, Gombloh bersama dengan Lemon Tree’s Anno ’69 telah menorehkan sejumlah tembang hits andalan, seperti Doa Seorang Pleacur, Poligami Poligami, Nyanyian Seorang Anak Pelacur, dan juga Kilang-Kilang. Tembang hits itulah yang menjadikan dirinya begitu akrab dengan para pekerja seks komersil (PSK).

Selain merilih tembang hits yang menjadikan dirinya akrab dengan para PSK, Gombloh juga kerap kali merilis lagu-lagu bertemakan nasionalis. Sebut saja lagu berjudul Kebyar-Kebyar miliknya yang sempat menghebohkan industri musik Indonesia. Pasalnya lagu itu dinyanyikan oleh sekelompok masa untuk memperjuangkan reformasi.

Gombloh merupakan musisi yang berjiwa nasionalis dan memperhatikan orang kecil disekelilingnya. Dilansir dari hitstoria, Gombloh sempat membelikan pakaian dalam untuk para pekerja seks komersil (PSK). Hal ini lantaran banyaknya PSK yang tidak mengenakan pakaian dalam saat beroperasi.

Bahkan kemurahan hati dari seorang Gombloh yang lahir dari keluarga sederhana ini tidak berhenti sampai disitu saja. Kebaikannya kembali ia tunjukan kala salah seorang PSK terserang penyakit yang cukup parah. Pengaduan yang diterima oleh Gombloh pun membuat dirinya sesegera mungkin membawa PSK tersebut ke rumah sakit, dengan seluruh biaya yang ia tanggung.

Pada tahun 1988, Gombloh harus menyerah dengan penyakit paru-paru yang ia derita sejak lama. 9 Januari 1988, Gombloh menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergiannya bukan hanya menjadi duka di kalangan keluarga, teman, dan sahabatnya saja. Kepergian Gombloh menjadi duka bagi para teman kecil yang bekerja sebagai PSK dan orang kecil lainnya yang sempat di tolong oleh Gombloh.

Tercatat pada tahun 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya, dengan tujuan menciptakan kenangan atas mendiang Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota Surabaya. Bukan hanya itu saja, mereka pun membangun sebuah patung yang terbuat dari perunggu dengan berat mencapai 200 kg. Patung itu diletakan di sebuah halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya.

Meski jiwanya tak lagi ada, karya Gombloh pun tetap membekas dan menjadi karya terbaik untuk Indonesia. Di tahun 2005, Gombloh mendapatkan penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI. Penghargaan ini diberikan bersamaan dengan penyelenggaraan Hari Musik Indonesia III di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here