HERO merupakan perintis ritel modern pertama yang berada di Indonesia. Bisnis ritel ini menjadi tonggak dan pionir dari konsep supermarket yang berasal dari Amerika. Konsep mengambil barang sendiri dengan tempat yang bersih ini pun hadir di Indonesia pada tahun 1971.

Baca Juga : Ada Peluh Ada Kenangan, Apa Kabar GOR Ragunan?

Muhamad Saleh Kurnia dan Nurhajati merupakan dua sosok pendiri dari HERO. Keduanya merupakan pasangan suami-isteri yang menggebrak pasar Indonesia dengan konsep menarik. Kurnia dan Nurhajati membuka HERO pertama dengan nama Hero Mini Supermarket pada 23 Agustus 1971.

Bisnis ritel modernnya ini terletak di Jalan Falatehan 1 No.23, Jakarta Selatan. Peresmiannya pun digelar secara besar-besaran dengan berpesta dan mengundang para kerabat dekat Kurnia dan Nurhajati.

Mendirikan sebuah bisnis tak lepas pula dari beragam tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh Kurnia dan Nurhajati. Masyarakat Indonesia yang saat itu masih sangat asing dan belum mengenal HERO sebagai supermarket ini pun dirasa kurang tertarik berbelanja.

Terlebih konsep dari supermarket HERO ini menggunakan sistem ambil barang kebutuhan sendiri, lalu baru membayarnya ke kasir. Hal ini dianggap masih tidak lazin oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Hambatan tidak hanya datang dari masyarakat awam saja, melainkan dari para pemasok dan produsen barang yang akan di jual di HERO. Bersama dengan sang isteri, Kurnia pun harus terbang ke Singapore untuk mendapatkan pemasok dan produsen barang-barang yang siap di jual.

Dengan konsep berbeda dan menarik inilah target market dan sasaran dari HERO jatuh untuk kelas menengah atas. Hal ini lantaran harga yang ditawarkan jauh lebih mahal dibandingkan dengan pasar kebanyakan. Tidak hanya itu saja, lokasi yang bersih dilengkapi dengan pendingin juga menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian masyarakat Indonesia minder dan segan untuk berbelanja di HERO Supermarket.

Baca Juga:Supermarket Golden Truly, Pernah Berjaya di Era 80-an

HERO mampu membuktikan dan bangkit dari segala hambatan yang melanda. Hingga tahun 1980-an, Kurnia membuktikan bahwa HERO mampu berkembang dan menjadi perusahaan ritel yang sukses. Kurnia pun membangun dan membuka 9 cabang lainnya hingga tahun 1980-an.

Pada tahun 1980-an, angka total supermarket di Jakarta sudah mencapai 26 gerai. Hal ini pun semakin menggerus keberadaan pasar tradisional pada masa itu. Persaingan yang ketat dengan harga dan mutu jual yang sama, membuat supermarket kian meroket.

Dengan kejadian ini Pemerintah pun memutuskan untuk membuat dan mengeluarkan peraturan resmi bagi para pengusaha di bidang ritel. Dua surat pun di edarkan pemerintah pada tahun 1983 dan 1985. Edaran pertama dengan nomor surat SK No 240/1983, menyebutkan tentang kewajiban pengusaha supermarket menyediakan ruang usaha bagi pedagang golongan ekonomi lemah di bangunan supermarket.

Surat keputusan dan peraturan kedua, SK No 241/1985 tentang ketentuan pendirian supermarket. Dimana para pelaku pengusaha supermarket harus memberikan jarak pembangunan antara supermarket dengan pasar tradisional minimal 500 meter hingga dua kilometer.

Baca Juga:Observatorium Bosscha: Tempat Legenda Pertemuan Sherina dan Sadam

Hingga tahun 2014, bersama HERO Grup Kurnia membuktikan bahwa usaha ritelnya semakin sukses. Pembuktian ini pun ia perlihatkan dengan terbangunnya beragam cabang dibawah nama HERO Grup. Sedikitnya 700 gerai dengan 16.000 karyawan ia miliki dibawah nama HERO Grup.

Sayang sungguh di sayang, memasuki tahun 2019, kesuksesan ritel pertama di Indonesia, yakni HERO pun harus menempuh titik lemah dan sedikit mengalah dengan perkembangan ekonomi yang kian tidak stabil. Hingga pada akhirnya HERO menutup beberapa cabangnya, sedikitnya 26 cabang dengan 532 karyawan sudah di PHK oleh PT Hero Supermarket Tbk (HERO). Penutupan ini dilakukan di awal tahun 2019, dengan tujuan sebagai langkah efisieni dan strategi bisnis demi kelangsungan perusahaan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here