Perjalanan Karier

Didi Kempot adalah sosok yang memiliki pengaruh besar bagi music tradisional Indonesia. Dengan segala kemampuannya, Lord Didi berhasil menembus segala batas untuk mempopulerkan musik campursari yang menjadi aliran besutannya.

Mulai berkarier sejak 1984, Didi Kempot memulai perjalanan karier sebagai musisi jalanan kota Solo, Jawa Tengah. 3 tahun lalu setelahnya Lord Didi mengadu nasib ke Ibu Kota hingga tahun 1989. Disinilah nama panggung Didi Kempot tercipta yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

Di tahun yang sama dirinya berhasil meluncurkan album perdananya. Salah saru lagu yang terkenal di album tersebut adalah “Cidro” yang menceritakan kisah asmara Lord Didi yang kandas akibat tak disetujui orangtua kekasihnya. Sejak saat itulah, Didi Kempot konsisten menulis lagu yang bertema patah hati.

Setelahnya karier Didi Kempot mulai bersinar di industry music Indonesia. Berkat album perdananya, Lord Didi memulai mendapat kesempatan untuk tampil diluar negeri yakni di Suriname, Amerika Selatan. Sebagai informasi negara ini banyak dihuni banyak warga Indonesia, bahkan sampai saat ini nama Didi Kempot masih dikenal luas di negara tersebut.

Sekembalinya dari Suriname, nama Didi Kempot semakin dikenal di blantika musik Indonesia. Beberapa lagu hits seperti “Stasiun Balapan”, “Kalung Emas”, hingga “Pamer Bojo”, semakin melambungkan namanya. Meski begitu, Didi Kempot tak menjadi sombong karena ketenarannya.

Sosok yang Begitu Dicintai

Dengan perjalanan karier yang begitu berliku, Lord Didi menjelma idola segala lapisan masyarakat. Melalui karakternya yang rendah hati, pria kelahiran 31 Desember 1966 itu begitu dicintai segala kalangan. Mulai dari pejabat, public figure, hingga masyarakat biasa memiliki kesan mendalam kepada sosok yang telah menciptkan sebanyak 800 lagu tersebut.

Satu tahun belakangan menjadi titik karier seorang Didi Kempot. Secara tiba-tiba dirinya menjadi fenomena di generasi milenial Indonesia. Berkat lagunya yang bertemakan patah hati, dirinya menjadi idola anak muda. Banyak diri mereka yang perasaannya terwakili oleh lagu-lagi milik Didi Kempot.

Melalui karakternya yang rendah hati, pria dengan nama lahir Dionisius Prasetyo itu memiliki penggemar militan yang menamakan dirinya sebagai Sobat Ambyar. Ungkapan “Loro ojo ditangisi, nanging dijogeti wae” ini menjadi semboyan yang selalui dipegang para pencintanya.

Melalui fenomena ini, Didi Kempot kembali menuai pujian karena berhasil mempopulerkan music tradisional kepada generasi muda Indonesia. Lord Didi mempu mengemas music yang awalnya dipandang sebelah mata menjadi musik yang diterima dikalangan anak muda.

Salah satu pencapaian Didi Kempot adalah dinobatkan sebagai Maestro Campursari dalam penghargaan Indonesia Dangdut Awards tahun 2019 lalu. Penghargaan ini adalah salah satu dari banyak penghargaan yang didapatkan Didi Kempot selama karier panjangnya di dunia music selama 30 tahun.

Kehilangan Besar Musik Indonesia

Kini sosok penuh karisma dan pesan baik itu telah pergi untuk selamanya. Kepergian Didi Kempot tentu menjadi kehilangan bagi dunia music Indonesia. Bagaimana tidak, sosok berjuluk “Godfather og Broken Heart” itu menjadi sosok utama yang masih konsisten mempopulerkan music tradisional pada zaman modern saat ini. Pertanyaan pun muncul, siapa akhirnya yang meneruskan perjuangan dari Didi Kempot untuk terus melestarikan music tradisional?

Semoga waktu dapat menjawab pertanyaan diatas. Kepergian dari Didi Kempot meninggalkan warisan yang tak sedikiti untuk perjalanan music tradisional di tanah air. Semoga sepak terjang Lord Didi menjadi inspirasi para pegiat music tradisional untuk mempopulerkan aliran music tersebut.

Didi Kempot mengajarkan kita semua untuk merayakan patah hati tanpa harus bersedih. Namun kepergiannya membuat patah hati bagi semua orang yang dicintainya. Karya milik Didi Kempot tentu selalu abadi untuk dikenang.

 

 

 

suber: vantage

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here