Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)
Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)

Malang, merupakan satu dari sekian banyak Kota di Jawa Timur yang selalu memiliki hal-hal istimewa. Salah satu hal istimewa yang terletak di Kota Malang ialah sebuah bioskop khas generasi 80’an, layar tancap. Indonesian Old Cinema Museum Malang itu lah nama tempat yang menjadi harta karun di Kota Malang.

Bagi generasi 70 hingga 80’an, menyaksikan sebuah film memang dibutuhkan sedikit perjuangan. Pasalnya pada masa tersebut kehadiran bioskop di Indonesia belum seperti saat ini. Pemuda-pemudi yang ingin menyaksikan film harus berjuang menahan kantuk demi menyaksikan sebuah film di layar besar berwarna putih.

Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)
Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)

Layar tancap dan misbar (gerimis bubar) ialah satu-satunya media pemersatu generasi 70 hingga 80’an. Hal ini menjadi media terbaik yang sempat menghiasi masa muda generasi 70 hingga 80’an. Kini kehadiran layar tancap dan misbar sudah tergantikan oleh bioskop mewah dengan tingkat kenyamanan yang jauh lebih baik.

Tetapi tidak dengan Kota Malang. Malang memiliki satu museum yang akan membangkitkan rasa nostalgia dengan layar tancap. Tempat itu adalah Indonesian Old Cinema Museumn Malang, yang terletak di Jalan Soekarno Hatta No.45, Mojolangu, Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.

Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)
Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)

Drs. Hariadi ialah sosok dibalik bioskop jadul khas generasi 70 hingga 80’an. Mulanya ia menjalankan bisnis layar tancap, namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, bisnis usahanya tersebut terpaksa gulung tikar.

Hariadi pun tidak tinggal diam. Ia mencoba kembali membangkitkan nostalgia kenangannya semasa muda dengan barang-barang usahanya terdahulu. Maka sebuah museum yang menampilkan barang-barang atau alat layar tancap ia realisasikan. Dengan nama Indonesian Old Cinema Museum ini akhirnya ia dirikan pada tahun 2017 silam.

Sebelum menggunakan nama Indonesian Old Cinema Museum, Hariadi terlebih dahulu menamai bioskopnya dengan nama Sinedex 14 atau Sinema Gedex 14. Di dalam museum yang ia dirikan tersebut, para pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai barang antik yang menjadi alat pemutar film di layar tancap.

Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)
Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)

Di sebuah lapangan yang juga menjadi lahan museum Indonesian Old Cinema Museum, Hariadi tetap mempertahankan tembok tinggi dengan cet warna putih. Tembok ini dulunya ia gunakan sebagai layar dari film-film yang akan di putar. Bukan hanya itu saja, dua pengeras suara juga masih ia letakkan di bagian lapangan.

Tidak hanya menyajikan nostalgia di bagian luar saja, Hariadi juga memanjakan pengunjung dengan barang-barang yang diletakkan di dalam ruangan. Sebuah proyektor pemutar film jadul dengan ukuran besar pun berjajar rapih. Aneka ragam poster film, majalah, papan pengumuman pemutaran film, hingga rol film jadu juga tersedia di Indonesian Old Cinema Museum.

Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)
Indonesian Old Cinema Museum (Foto: Indonesian Old Cinema Museum)

Bioskop misbar yang sebelumnya di bangun oleh Hariadi ini pertama kali didirikan pada tahun 1989, namun sayang ia terpaksa menutup bioskop misbarnya pada tahun 1993. Tragis memang, namun para pelaku bisnis memang harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih.

Kini, sebagian museum yang Ia bangun dan dirikan sudah menjadi sebuah tempat makan dengan nama Rumah Makan Ringin Asri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here