Kemarahan dan keresahan telah menyebar ke berbagai kota di Amerika Serikat di akibatkan polisi membunuh seorang warga Amerika keturunan Afrika-Amerika yang tidak bersenjata.

Gambar-gambar petugas polisi Derek Chauvin berlutut di leher Floyd selama beberapa menit yang menyebabkan kematian Floyd, telah memicu kemarahan. Dan anda tidak perlu melihat video George Floyd, ketika seorang perwira polisi berlutut di lehernya dan dia berjuang dalam napasnya yang sekarat, untuk dapat di ketahui dan sudah bukan rahasia umum bahwa orang kulit hitam tiga kali lebih mungkin dibunuh oleh polisi daripada orang kulit putih di Amerika.

Isu akan ras terus mempengaruhi bagaimana orang-orang keturunan Afrika-Amerika di Amerika Serikat dan bagaimana perlakuan kepada mereka oleh para penegak hukum di sana.

Rasisme telah menjadi fitur sistematis masyarakat Amerika dan semua lembaganya sejak didirikannya bangsa ini, walaupun saat perang sipil Amerika Abraham Lincoln telah dengan tegas menyatakan tidak adanya perbedaan akan ras dan suku dan menghapus perbudakan di Amerika bagian utara saat itu. Namun pengakuan atas peran dan dukungan dari keturunan Afrika-Amerika terhadap perang sipil dan membawa kemerdekaan Amerika secara fundamental dan menyatukan bangsa Amerika saat itu bias. Dan secara implisit dan terbuka baik itu dari sisi historis serta bahkan telah dimainkan dalam menciptakan praktik penegakan hukum yang berbeda dan friksi yang dihasilkan antara Afrika-Amerika dan polisi atau penegak hukum di Amerika khususnya di tahun 1920-an hingga bahkan saat ini, di era ini. Adalah kenyataan yang harus di hadapi oleh bangsa Amerika, dan hal ini mutlak untuk dapat agar segera ditangani.

Petugas kepolisian yang bertugas di daerah yang sebagian masyarakatnya berasal dari suku bangsa Kaukasia, Hispanik, Asia, dan bahkan Afrika-Amerika atau terutama di lingkungan kulit hitam terkadang memiliki sedikit atau tidak sama sekali kontak sosial dengan anggota kelompok ini, atau pelatihan khusus tentang cara berinteraksi secara efektif dalam lingkungan semacam itu, dan sayangnya hal tersebut adalah langkah yang utama dan berkelanjutan dalam menghadapi dan mengatasi masalah dan permasalahan yang ada dan timbul di daerah tersebut, utamanya untuk bersosialisasi dan memahami kultur dan pembawaan dari masyarakat dan petugas polisi dari masing-masing kelompok satuan tersebut kadang-kadang membawa sikap dan stereotip negatif kepada komunitas-komunitas ini yang dapat mempengaruhi keputusan dan keadilan dalam tindakan penegakan mereka atas pelanggaran oleh masyarakat.

Beberapa kesatuan atau kantor kepolisian polisi di negara ini secara historis memainkan peran penting dalam mempertahankan posisi kekuasaan untuk kulit putih. Ini hal yang terbuka dan terlihat secara nyata dan umum, dan hal ini telah menciptakan jurang yang sangat sulit untuk diatasi ketika departemen kepolisian berupaya untuk mengimplementasikan inisiatif model penerapan aturan kepolisian dan interaksi secara sosial terhadap masyarakat.

Persepsi masyarakat minoritas yang asli terhadap polisi di Amerika sebenarnya memiliki dasar historis dan tidak boleh diabaikan oleh pejabat terpilih, polisi atau media.

Perang melawan narkoba, dengan fokus utamanya di lingkungan kulit hitam dan lingkungan minoritas lainnya di mana protokol polisi akan pemeriksaan dan penggeledahan secara rutin membuat ratusan ribu minoritas tak berdosa menghadapi tindakan pelecehan dan tuduhan serta pemaksaan dalam melakukan proses pencarian dan pemeriksaan di tengah masyarakat, dan hal ini memperburuk proses marginalisasi dan perselisihan antara masyarakat dengan polisi.

Orang Afrika-Amerika di seluruh Amerika sadar dan prihatin tentang keberadaan profil berbasis ras dari segmen populasi ini oleh anggota beberapa departemen kepolisian.

Kerja sama dengan polisi sebagian besar didasarkan pada komunitas minoritas tentang bagaimana minoritas memandang perlakuan terhadap mereka yang adil oleh polisi.

Perlakuan yang berbeda terhadap minoritas mengakibatkan tidak produktifnya penyediaan layanan keselamatan publik yang efisien dan efektif oleh Negara.

Prasangka pribadi atau keberpihakan dari petugas polisi yang mempengaruhi terhadap penilaian profesional mereka dan bertentangan dengan kebijakan departemen dan pelatihan, tidak memiliki tempat hukum dalam penegakan hukum atau dengan kata lain hal ini menjadi suatu kondisi yang normal oleh aparat kepolisian di Amerika saat melakukan dan melaksanakan tugas mereka terhadap dan di area komunitas masyarakat Afrika-Amerika.

Anda tidak perlu mendengar statistik rasial pada COVID-19 untuk mengetahui bahwa orang kulit hitam telah terpengaruh secara tidak proporsional,hal yang sama berlaku untuk delapan dari 10 penyebab utama kematian di Amerika Serikat.

Bahkan sebelum pandemi, harapan hidup orang kulit hitam 3½ tahun lebih pendek dari orang kulit putih.

Banyak orang kulit hitam digeser ke daerah perkotaan yang padat dan penuh dengan kejahatan, terjebak di sekolah yang kurang didanai dan di bawah standar dan mengalami bencana lingkungan yang sunyi (New Orleans) seperti timah yang tersembunyi di pipa dan di dinding. Hal seperti inilah yang terlihat di khalayak umum di Amerika dan menjadi suatu gambaran bagaimana perasaan dari masyarakat minoritas khususnya Afrika-Amerika akan perlakuan yang berbeda yang di terima oleh mereka selama ini. Dan hal ini menjadi dasar praduga akan tindakan rasisme terhadap mereka. Dan jangan juga kita melupakan akan sejarah kelam di masa lalu yaitu zaman perbudakan di Amerika khususnya Amerika bagian selatan dan pembantaian,pembunuhan dan tindakan semena-mena terhadap masyarakat kulit hitam saat itu oleh masyarakat kulit putih Amerika.

Departemen Kehakiman A.S. menyarankan bahwa rekonsiliasi rasial adalah suatu proses yang harus dan wajib dilalui dan para praktisi dan komunitas sistem peradilan pidana harus mengakui akan bahaya yang dapat timbul dan diakibatkan dari kondisi di masa lalu. Saatnya sekarang adalah secara bersama-sama bergerak mengatasi perbedaan rasial ini, dan menghilangkannya dari pikiran dan pola serta tatanan berkehidupan di Amerika.

Kesediaan masyarakat untuk secara jujur ​​dan memperhatikan terhadap masalah rasial ini harus menjadi langkah pertama dalam mengubah disparitas ini, utamanya bagaimana kepala polisi menentukan budaya organisasi di departemen mereka dan harus bertanggung jawab dan meminta pertanggungjawaban dari setiap anggota kepolisian untuk memastikan bahwa semua segmen masyarakat diperlakukan dengan adil dan benar tanpa memandang asal suku dan bangsa serta warna kulit.

Taktik kepolosan tanpa toleransi bukanlah fenomena baru di komunitas kulit hitam. Munculnya ponsel dengan kamera dan kemampuan merekam di saat sekarang ini telah memungkinkan seseorang atau saksi untuk melakukan konfrontasi antara polisi / warga negara dan dapat dengan cepat menangkap dan menyebarkan gambaran yang belum diedit dari suatu insiden melalui media sosial. Ini telah mendorong media untuk menyiarkan tindakan dan perilaku polisi yang dipertanyakan yang mungkin tidak dilaporkan.

Di masa lalu,polisi Amerika ditugaskan untuk menegakkan hukum dan kebiasaan apartheid rasial de jure dan de facto ketika mereka diarahkan oleh pejabat terpilih, yang tidak dilupakan oleh orang Afrika-Amerika dan minoritas ras lainnya. Sejarah masa lalu ini berkontribusi pada ketidakpercayaan terhadap polisi saat ini oleh anggota kelompok-kelompok ini,khususnya saat di era tahun 1920 sd 1970-an.

Sebagai penutup dan kesimpulan, petugas penegak hukum di Amerika harus sopan dan tidak menggunakan bahasa otoriter atau diktator dalam interaksi mereka dengan semua anggota masyarakat, kecuali jika situasi darurat mengharuskan mereka untuk menggunakan bahasa tersebut untuk mendapatkan kepatuhan dengan perintah yang sah.

Petugas polisi seharusnya tidak pernah melupakan peringatan yang diberikan oleh William Lloyd Garrison yang menyatakan secara sederhana: “Yang tidak adil bukan hukum,” selama interaksi mereka adalah dengan sesama manusia”.

 

Penulis : Agussalim Igarashi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here