Rahardi Ramelan

Rahardi Ramelan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia era Presiden BJ Habibie baru-baru ini membagikan kisah dan kesaksiannya tentang dinginnya jeruji besi penjara. Rahardi sempat tersandung kasus penggelapan sejumlah uang yang membuat dirinya harus mendekam di lapas  beberapa tahun.

Melalui tim Kabarsidia, Rahardi membagikan kisahnya saat mendekam di lapas beberapa tahun lalu. Dirinya tersandung kasus penggelapan uang nonbujeter Badan Urusan Logistik sebesar Rp54,8 miliar. Kasus ini terjadi pada tahun 1999, saat itu dirinya sedang menjabat sebagai Kepala Bulog.

Rahardi Ramelan saat berada di kediamannya (Foto: Kabarsidia/Niko)

Selama di dalam jeruji besi, Rahardi menuangkan ide dan kesaksiannya melalui sebuah buku. Buku tersebut menceritakan kisah dirinya yang menjalani kehidupan di dalam lapas. Simak hasil wawancara tim Kabarsidia bersama Rahardi Ramelan berikut ini.

  • Selama berada di dalam lapas, apa yang bapak lakukan?

Di dalam lapas saya menulis dua buah buku, yang pertama ‘Cerita dari Cipinang’ dan kedua ‘Cipinang Desa Tertinggal’.

  • Bukunya berkisah tentang apa?

Pastinya berisi tentang kesaksian saya selama berada di lapas. Mulai dari hal-hal yang orang awam tidak ketahui sampai hal yang dianggap lazim terjadi di lapas. Semua saya tuangkan ke dua buku tersebut.

  • Salah satunya kesaksian apa yang Bapak tuangkan ke dalam buku?

Menarik, banyak sekali kejadian disana yang saya lalui, mulai dari tempat judi, warung hingga tempat jual pulsa. Jadi apa yang saya lihat ya saya tuangkan saja dan saya tulis. Hal itu memang kehidupan nyata yang terjadi.

  • Saat menulis buku, media apa yang bapak gunakan?

Saya pakai laptop. Kalau saya tulis tangan kayanya agak ribet dan capek ya. Butuh waktu berapa lama sampai bukunya selesai kalau saya tulis tangan.

Baca Juga : Eksklusif! Mengenal Lebih Jauh Ahli Perbankan Indonesia, Bapak Pradjoto.

  • Bukankah membawa laptop atau ponsel di larang saat berada di lapas?

Memang, tetapi saya meminta izin untuk membawa laptop saya. Saya minta izin kepada Dirjen, beliau memberikan izin ya sudah saya bawa. Kalau tidak diperbolehkan pastinya saya tidak membawa ke dalam lapas.

  • Selain kedua buku yang Bapak tulis selama di dalam lapas, adakah buku lain yang sempat Bapak tulis?

Ada, dulu sebelum masuk lapas saya juga menulis buku judulnya ‘Jalan Terjal Menegakan Kebenaran’.

  • Berkisah tentang apa bukunya?

Membahas masalah-masalah yang saya hadapi, jadi korban politik. Buku ini saya tulis sebelum saya di penjara dan dalam masa sidang.

  • Apakah ada rencana untuk menerbitkan buku kembali setelah bebas dari lapas?

Tentu ada, saya sedang menyusun dan menulis buku berikutnya. Nantinya akan berisi tentang apa yang masih saya ingat dan kehidupan saya setelah bebas dari penjara.

Baca Juga:Sibuk Berbisnis, Memes Tidak Meninggalkan Dunia Tarik Suara

  • Kapan rencananya buku tersebut di rilis?

Belum bisa saya pastikan, tetapi banyak dari kerabat saya menyarankan untuk terbit saat usia saya 80 tahun.

Begitulah kesaksian tentang kehidupan di dalam lapas menurut Rahardi Ramelan. Selama di dalam lapas, imajinasi dan kreatifitas dari seorang Rahardi Ramelan tidak terputus begitu saja. Terbukti dirinya mampu menyelesaikan dua buah buku saat mendekam di dalam lapas.

Kini kehidupannya tengah disibukan dengan berbagai kegiatan bersama sang isteri, Dr. Tumbu Tri Iswari Astianni.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here