Belitung, merupakan salah satu kota yang memiliki kopi autentik legendaris, yaitu Kopi Kong Djie. Kedai kopi legendaris ini terletak di Simpang Siburik, Jalan Siburik Barat, Tanjung Pandan. Kopi Kong Djie sudah hadir dan meramaikan kota Belitung sejak tahun 1943 silam.

Ho Kong Djie merupakan pendiri dari kedai kopi legendaris di kota Belitung, Kopi Kong Djie. Nama Kong sendiri diambil dari bahasa Hakka yang artinya terang, sementara Djie adalah istilah nama untuk anak nomor dua.

Kehadiran Ho Kong Djie ke daerah Belitung saat itu sekitar tahun 1940-an. Dimana dirinya terpaksa mengungsikan diri ke Belitung karena kelaparan akibat penjajahan Jepang. Hingga akhirnya keluarga Ho Kong Djie pindah dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung.

Kopi Kong Djie (Foto: Heltersketler)

Saat ini Kopi Kong Djie sudah dipegang oleh generasi penerus, yaitu Ishak Holidi. Mesikpun sudah berada di tangan yang berbeda, Kopi Kong Djie tetap memepertahankan cita rasa dan komposisi sajian kopinya. Hal ini pula yang menambah ciri khas dan rasa autentik yang ditawarkan di Kopi Kong Djie.

Penggunaan kopi yang sejak awal dipakai ialah jenis kopi Arabika yang memiliki cita rasa wangi namun sedikit asam dan juga menggunakan kopi jenis Robusta yang berasal dari Jawa dan Sumatera. Untuk pembagiannya, Kopo Kong Djie menggunakan 70% kopi Robusta dan 30% kopi Arabika.

Selain menggunakan dua jenis biji kopi, penyajian kopi di Kopi Kong Djie juga tergolong klasik. Dimana penggunaan ceret dengan bahan aluminium masih dipertahankan, serta penggunaan arang untuk memanaskan kopi masih tetap dipertahankan demi mendapatkan rasa yang khas.

Kopi Kong Djie (Foto: Heltersketler)

Kopi Kong Djie menyediakan 3 buah ceret dengan ukuran yang berbeda-beda. Salah satu ceret yang berukuran paling besar mencapai satu meter, dimana ceret tersebut berisikan racikan kopi utama atau induk kopi. Dalam satu ceret berukuran satu meter tersebut terdapat satu kilo kopi yang sudah dilarutkan dengan air mendidih.

Pada bagian ceret juga dilengkapi dengan kain saringan yang berfungsi sebagai penangkal atau penyaring dari serbuk kopi agar tidak ikut terbawa pada saat penyajian. Selain itu, Kopi Kong Djie juga selalu mendengarkan masukan dan kritikan dari para pelanggan. Bagi mereka, pelanggan adalah raja.

Keunikan dari Kopi Kong Djie tidak berhenti sampai disitu saja, desain interior yang masih menggunakan interior lama pun masih dipertahankan. Pihak Kopi Kong Djie sempat ingin mengganti beberapa ornament dan desain interior, namun banyak pelanggan yang menolak.

Kopi Kong Djie (Foto: Heltersketler)

Penolakan ini terjadi lantaran para pelanggan takut akan kehilangan ciri khas dan suasana klasik yang ditawarkan di Kopi Kong Djie. Selain berada di Belitung, Kopi Kong Djie juga membuka bisnis usaha dengan cara waralaba.

Bisnis waralaba ini pun sudah tersebar dibeberapa kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah di Jakarta. Sayangnya bisnis waralaba ini kerap kali mendapat kritikan dari para pelangggan. Banyak pelanggan yang menganggap bahwa cita rasa dari Kopi Kong Djie diberbagai wilayah tidak sama dengan rasa aslinya yang berada di Belitung. Tertarik untuk mencicipi kopi di Kopi Kong Djie?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here