Istilah misbar atau gerimis bubar tentunya sangat melekat dengan layar tancap. Pada era keemasannya, layar tancap menjadi primadona kaum muda untuk menyaksikan film dengan biaya murah dan terjangkau. Ditemani dengan kacang rebus dan secangkir kopi hitam menjadi kenikmatan tersendiri bagi penggemar layar tancap di tahun 80-an.

Layar tancap mulai dikenal sejak zaman pemerintahan Belanda. Saat itu penggunaan layar tancap diperuntukan sebagai wadah penyuluhan tentang penyakit pes. Kemudian layar tancap dijadikan alat propaganda oleh Jepang untuk merebut Indonesia. Bahkan Jepang rela membawa seseorang yang ahli pada film demi menguasai tanah air.

Pada umumnya menonton film di layar tancap sama saja dengan menonton film di bioskop. Hal yang membedakan adalah lokasi. Jika bioskop tertutup ruangan dengan bangku bersandar ditambah dengan AC, layar tancap kebalikannya. Layar tancap biasa disajikan di lapangan terbuka tanpa bangku maupun ruangan tertutup. Namun itulah yang membuat layar tancap sangat dicintai pada era 80-an.

Layar Tancap atau Bioskop Keliling
Layar Tancap atau Bioskop Keliling

Penyajian layar tancap hanyalah berupa proyektor dengan layar putih yang ditopang dengan tonggak dan ditancapkan ke tanah. Jenis film yang diputar untuk layar tancap adalah film 35 mm, yang saat ini kembali ngehits dikalangan remaja.

Biasanya pemutaran film di layar tancap akan dimulai pada jam 19:00 hingga jam 00:00. Hal ini juga menjadi kesempatan para kaum muda mudi untuk berpacaran pada zaman itu. Dahulu layar tancap sebenarnya hanya diperuntukan sebagai media hiburan untuk hajatan atau khitanan. Hal ini juga menjadi salah satu penanda bahwa masyarakat saat itu mampu dan dianggap sukses menggelar hajatan.

Pengenalan layar tancap atau bioskop keliling di wilayah Jawa pertama kali dibawa oleh penduduk Jepang yang berada di Indonesia. Wilayah Jawa itu meliputi Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Malang. Saat itu layar tancap juga berperan penting sebagai alat propaganda. Layar tancap ini pun digerakan oleh sebuah kelompok yang menamai dirinya sebagai Barisan Gambar Hidoep.

Pemilihan wilayah Jawa yang pada saat itu menjadi incaran untuk menyuarakan propaganda dikarenakan mudahnya mengumpulkan masa pada saat zaman penjajahan. Di wilayah Jawa, dengan menyajikan layar tancap saja dapat mengumpulkan sedikitnya 10.000 orang untuk menyaksikan hiburan layar tancap, meskipun sebenarnya hanyalah berisikan pidato propaganda.

Seiring berjalannya waktu, daya minat layar tancap pun mulai hilang. Saat itu produk-produk berupa dvd player dan beberapa stasiun televisi swasta mulai memasuki pasar minat masyarakat Indonesia.  Bahkan beberapa stasiun televisi pun mulai mempunyai program menarik, membuat para penikmat layar tancap beralih ke media tersebut.

Saat ini sangat jarang bahkan tidak pernah lagi kita jumpai layar tancap di Jakarta maupun berbagai provinsi di Indonesia. Penggiat film pun mulai beralih pada digital yang dirasa lebih simple dan mudah. Biaya yang digunakan untuk membuat film 35mm ini juga tergolong sangat mahal, sehingga banyak pelaku perfilman tidak menggunakan media tersebut. Era digital saat inilah yang banyak digunakan oleh pelaku seni industri perfilman karena biaya yang tidak semahal dengan film 35mm.

Meskipun demikian pemutaran film layar tancap dengan film 35mm ini akan menjadi sejarah dan menjadi hal yang menarik untuk dikenang. Terlebih dahulu saat pemutaran layar tancap tidak semua film yang bersuara, dengan kata lain film layar tancap hanya menampilkan gambar tanpa kita tau apa isi dialognya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here