Siapa yang tak mengenal sosok penyanyi legendaris Indonesia, Iwan Fals? Penyanyi legendaris Indonesia ini sempat membuat geger para petinggi Indonesia dengan mengelurkan lagu-lagu kritis, salah satunya lagu Bento dan Bongkar.

Baca juga : Group Musik Legendaris Abba Segera Rilis Album

Lagu Bento pertama kali dirilis pada tahun 1989, yang dimuat kedalam album Swami. Album ini merupakan kumpulan hasil kolaborasi dari berbagai musisi di Indonesia, diantaranya Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Innisisri, dan Nanoe. Sama halnya dengan Bento, lagu Bongkar juga masuk ke dalam album Swami.

Kedua lagu ini memiliki makna tersembunyi yang jika diperhatikan bisa membuat para pendengar merinding. Pasalnya, lagu Bento maupun Bongkar ini merupakan lagu yang mengkritik atas pemerintahan pada era tersebut.

Sosok Bento bahkan digambarkan sebagai seorang pemimpin kaya raya, yang memiliki sifat licik yang memanfaatkan kekuasaan. Banyak yang berspekulasi bahwa lagu Bento ini menyindir keluarga cendana, yang pada saat itu Soeharto menjabat sebagai seorang Presiden RI.

Ngomong soal moral, ngomong keadilan itulah tong sampah, ya, Bento juga digambarkan sebagai sosok yang acap kali berbicara soal moral dan keadilan, yang ternyata untuk menutupi kelicikan serta kejahatan yang sudah dilakukan olehnya.

Terlepas dari siapa Bento sebenarnya, sang pencipta dan pelantun lagu Bento yakni, Iwan Fals justru memberikan kesaksian bahwa Bento adalah seekor ayam. Ayam ini milik Iwan Fals yang dipeliharannya sejak kecil. Iwan Fals pun menamai ayam adunya ini dengan nama Bento.

Baca juga : 30 Tahun di Dunia Musik, Inilah kilas Balik Jatuh Bangun KLA Project

Sementara itu, lagu Bongkar yang juga dipopulerkan oleh Iwan Fals juga memiliki makna yang tersembunyi. Pada lirik versi awal yang dinyanyikan oleh Iwan Fals bahkan menyebutkan lokasi-lokasi dari kekerasan HAM, seperti Way Jepara, Kecapiring, dan Kedung Ombo. Namun pada saat proses rekaman, beberapa lirik lagu itu pun diubah.

Lagu Bongkar direkam pada tahun 1989 di Gin Studio dan pertama kali diputar pada tahun 1990 di Topaz Café. Café tersebut juga digunakan untuk acara launching album Swami, akan tetapi kini café tersebut telah hancur akibat kerusuhan pada tahun 1998. Lagu ini diciptakan untuk mewakili kondisi sosial pada masa orde baru.

Iwan Fals juga sempat mengkritik pemerintah lewat sebuah lagu berjudul Celoteh Camar Tolol dan Cemar (1983). Lagu ini menyinggung pemerintah atas tragedinya Kapal Tampomas II, yang tenggelam dan terbakar di perairan Masalembu.

Api menjalar…dari sebuah kapal

Jerit ketakutan… Keras melebihi gemuruh gelombang

Yang datang… Sejuta lumba lumba mengawasi cemas

Risau camar membawa kabar

Tampomas terbakar….

Risau camar memberi salam

Tampomas Dua tenggelam….

Asap kematian… Dan bau daging terbakar

Terus menggelepar dalam ingatan…

Hatiku rasa… Bukan takdir tuhan… Karena aku yakin itu tak mungkin

Korbankan ratusan jiwa… Mereka yang belum tentu berdosa

Demi peringatan manusia… Korbankan ratusan jiwa

Bukan bukan itu.. Aku rasa kita pun tahu

Petaka terjadi… Karena salah kita sendiri

Datangnya pertolongan… Yang sangat diharapkan

Bagai rindukan bulan… Lamban engkau pahlawan…

Celoteh sang camar

Bermacam alasan… Tak mau kami dengar

Di pelupuk mata hanya terlihat… Jilat api dan jerit penumpang kapal

Tampomas sebagai kapal bekas

Tampomas terbakar di laut lepas

Tampomas tuh penumpang terjun bebas

Tampomas beli lewat jalur culas

Tampomas hati siapa yang tak panas

Tampomas kasus ini wajib tuntas

Tampomas koran koran seperti amblas

Tampomas pahlawanmu kurang tangkas

Tampomas cukup tamat bilang naas

Iwan Fals menuding adanya praktik korupsi di balik pembelian Kapal Tampomas II. Lambannya bantuan yang datang juga dirasa sebagai kelalaian manajemen perusahaan. Media massa kala itu juga seolah bungkam atas tragedi tenggelam dan terbakarnya Kapal Tampomas II. Hal ini juga di dukung dengan melemahnya aparat untuk menguak kasus Kapal Tampomas II.

Secara garis besar, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals ini sebagai bentuk pemberontakan dan protes atas pemerintahan. Jika dinyanyikan sambil membayangkan kejadian dan kerusuhan pada era tersebut, tentunya akan membuat kita merinding dan kembali teringat akan kejadian tersebut, terlebih lagu Iwan Fals yang menyinggung pemerintah atas pembelian Kapal Tampomas II.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here