Malioboro, mendengar namanya saja sudah langsung terbayang aneka ragam kuliner malam dan wisata yang bisa dinikmati disana. Salah satu tempat yang tak pernah sepi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara ini sudah sangat populer, dan patut masuk kedalam list tempat yang harus di kunjungi ketika berada di Jogja. Hiruk pikuk suasana Malioboro yang selalu ramai inilah yang membuat kebanyakan wisatawan ingin berlama-lama menikmati angin malam Jogja sembari menikmati kopi joss di angkringan sepanjang jalan Malioboro.

Keindahan Jalan Malioboro yang kini sudah dipenuh dengan berbagai macam kios, baik di kanan maupun kiri jalan ini menjadi salah satu lahan bisnis menguntungkan bagi penjual makanan maupun oleh-oleh khas Jogja. Tak hanya wisata kuliner dan tempat pembelian oleh-oleh saja, di sepanjang Jalan Malioboro pun juga terdapat aneka wisata, seperti Andong, penampilan pengamen yang memakai angklung, hingga wisata malam menaiki sepeda mobil yang dipenuhi dengan lampu warna-warni.

Meski banyak kuliner di sepanjang Jalan Malioboro, bagi kalian yang baru pertama kali mengunjungi Jogja, cobalah mampir ke Angkringan Lek Man, lokasinya hanya berjarak sekitar 700 meter dari Malioboro, tepatnya di Jalan Wongsodirjan, sebelah utara Stasiun Tugu, coba dan nikmatilah menyantap sego kucing dan Kopi Joss (kopi arang) asli dari Angkringan Lek Man. Selain itu cobalah menikmati makanan khas Jogja, yakni Gudeg. Salah satu yang sangat melegenda ialah Gudeg Yuk Djum yang sangat melegenda dan terkenal di kawasan Jalan Malioboro. Yang membuat Gudeg Yuk Djum ini spesial lantaran cara pengolahannya yang masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Sebenarnya masih banyak sekali rekomendasi kuliner yang harus kalian coba ketika sedang mengunjungi Jogja, tapi mungkin akan dibahas pada tulisan selanjutnya ya!

Berbicara keindahan dan kuliner khas Jogja dan Jalan Malioboro, singkat cerita, dalam Bahasa sansekerta kata Malioboro berarti karangan bunga. Selain itu, kata Malioboro juga berasal dari salah satu Kolonial Inggris yang bernama Marlborugh, yang pernah menetap disana sekitar tahun 1811 – 1816 Masehi. Pada era Kolonial sekitar tahun 1790 – 1945, penataan kota Jogja banyak sekali campur tangan dari Belanda yang mulai membangun berbagai bangunan di sekitar Jalan Malioboro. Banteng Vredburg (1790) yang terletak di ujung selatan Malioboro. Selain itu pembangunan Dutch Club (1822), The Dutch Governor’s Residance (1830), Java Bank serta kantor pos demi mempertahankan kekuatan serta kejayaan Belanda.

Sejatinya Jalan Malioboro memang sengaja ditata sebagai penghubung sumbu imaginer utara ke selatan, yang berkorelasi dengan Keraton ke Gunung Merapi di bagian utara dan laur selatan. Seiring perkembangan zaman dan perubahan yang terjadi, di Jalan Malioboro juga lah orang Belanda mulai melakukan kerjasama jual beli dengan orang Cina. Maka sejak saat itu juga orang Belanda bertekat untuk mempertahankan keberadaannya, dibangunlah stasiun utama pada tahun 1887 di Jalan Malioboro. Sejak pembangunan stasiun utama tersebutlah Jalan Malioboro terbagi menjadi dua bagian.

Memasuki era kemerdekaan Indonesia tahun 1945, penduduk Indonesia berjuang mati-matian demi kemerdekaan sehingga terjadilah pertempuran di sepanjang Utara hingga Selatan. Makanya hingga kini Jalan Malioboro pun sangat lekat dengan bangunan Belanda, meskipun sekarang sudah banyak sekali perubahan yang terjadi dari segi arsitektur pembangunannya, kota Jogja akan selalu menjadi destinasi wisata yang harus dikunjungi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here