Margonda sebuah nama jalan di kota Depok yang sangat terkenal dan kerap kali mendapat umpatan oleh warga sekitar. Ruas jalan ini menghubungkan antara Depok dan Jakarta yang juga sangat padat oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tahukah kamu bahwa nama Margonda ini ternyata adalah nama seorang pahlawan yang kemudian diabadikan menjadi sebuah nama jalan terkenal di Depok?

Dilansir melalui berbagai sumber, nama Margonda merupakan nama seorang pemuda yang lahir di Cimahi pada 1918. Saat kecil dirinya memiliki sebuah nama panggilan yakni Margana. Pada tahun 1943, Margonda menikahi kekasih hatinya yang bernama Maemunah, keponakan dari M.S. Mintaraja.

Pernikahan yang terjadi pada 24 Juni 1943 ini pun semakin lengkap lantaran Margonda dan Maemunah dikaruniai seorang putri cantik, yang kemudian diberi nama Jopiatini.

Masa muda Margonda dihabiskan dengan belajar dan menimba ilmu setinggi-tingginya. Dia tercatat pernah mengikuti Analysten Cursus yang diadakan oleh Indonesiche Chemische Vereniging atau saat ini dikenal dengan nama Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.

Bahkan kabarnya Margonda sempat mengikuti kursus penerbangan di Luchtvaart Afdeeling Belanda. Tempat kursus itu pun menjadi tempat pertemuannya dengan Agustinus Adisutjipto, yang sama-sama mengenyam kursus di tempat yang sama.

Berbekal dengan kemampuan dan latihan yang ia miliki, Margonda pun diangkat menjadi pimpinan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di Bogor. Saat itu anggotanya memiliki markas di Jalan Merdeka, Bogor. Sayangnya anggota bentukannya tersebut tidak bertahan lama. Kemunculan organisasi pemuda lainnya seperti Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) atau Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) mulai berkembang di wilayah yang sama.

Pada 11 Oktober 1945 terjadi sebuah bentrokan pasukan Belanda, NICA. Peristiwa itu pun dikenal dengan nama Gedoran Depok. Peristiwa pahit itu pun akhirnya membuat pasukan melakukan serangan balik pada 16 November 1945. Serangan balik ini pun kabarnya memiliki kode nama, yakni Serangan Kilat.

Sayangnya serangan balik itu gagal membuat pasukan NICA mundur dan kalah. Margonda pun menjadi salah satu anggota yang gugur lantaran dadanya tertembak peluru tentara Belanda. Kabarnya saat itu Margonda sudah siap untuk melemparkan granat yang siap menghancurkan pasukan NICA. Sayangnya dada Margonda lebih dulu tertembak dan granat yang berada digenggamannya pun menghancurkan tubuhnya.

Kematian dari Margonda pun sempat tidak diketahui kebenarannya. Banyak yang mengatakan bahwa jasad Margonda dikubur bersamaan dengan anggota lainnya. Gugurnya Margonda dalam mempertahankan Depok ini terjadi di Jalan Kalibata, Depok dalam usia 27 tahun.

Simpang siurnya berita gugurnya Margonda di medan perang membuat istrinya, Maemunah tidak percaya akan hal itu. Bahkan ketika Maemunah pergi ke Bogor untuk menemui Margonda pun dirinya masih tidak percaya. Hingga akhirnya jasad Margonda pun dipindahkan untuk dimakamkan ditempat yang berbeda.

Jasad Margonda kemudian dimakamkan di samping stasiun Bogor, yang saat ini menjadi Taman Ade Irma Suryani. Namun pusarannya tidak diketahui keberadaannya. Nama Margonda pun kemudian diabadikan di dinding Museum Perjoangan Bogor.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here