Kabupaten Purbalingga adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Di wilayah kabupaten ini sudah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat disana, dalam keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa.

Apabila anda berkunjung ke kota Purbalingga dan melintas di Jalan Kol Sugiri, Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, anda akan mendapati bangunan menyerupai klenteng. Tapi setelah dilihat dari dekat struktur bangunan itu sebenarnya adalah sebuah masjid.

Sejak tahun 2011 yang lalu Purbalingga memiliki satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Namanya, Masjid Muhammad Cheng Hoo atau Masjid Cheng Hoo. Lokasi masjid berukuran 11x 9 meter ini ada di desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet. Dari tengah pusat kota Purbalingga, masjid ini berada di sisi kiri jalan raya Purbalingga-Bobotsari. Jaraknya dari tengah kota Purbalingga sekitar 12 km ke arah utara.

Masjid ini merupakan bentuk akulturasi arsitektur Tiongkok dan Jawa. Sekilas bentuk masjid ini mirip kelenteng. Tidak ada kubah bulat pada bagian atap masjid layaknya tempat ibadah umat muslim kebanyakan. Kubah masjid ini berbentuk pagoda bersegi delapan yang bertingkat-tingkat. Masing-masing sisi dan tingkat menonjol keluar seperti ekor naga.

Warna merah dan kuning mendominasi keseluruhan masjid Cheng Hoo, mirip dengan warna kelenteng yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Selain warnanya yang menonjolkan ciri arsitektur Tiongkok, masjid Cheng Hoo juga dihiasi oleh beberapa lampion khas Tiongkok yang juga berwarna merah dan kuning.

Pada bagian pintu masuk utama, terdapat tulisan kanji berwarna kuning keemasan di atas papan berwarna hitam. Sementara itu di bagian sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk yang berwarna merah, warna yang jarang digunakan pada beduk-beduk di masjid lainnya di Indonesia.

Pada sisi utara masjid terdapat relief  Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia.

Situs NU Online menyebutkan berdirinya masjid Cheng Hoo tak lepas dari peristiwa seorang muallaf Tionghoa bernama Thio Hawa Kong atau Heri Susatyo. Pada 2004, Heri bersama warga setempat mulai merintis ide untuk membangun masjid ini.

Menurut informasi, masjid Cheng Hoo ini mulai didirikan pada 2005. Sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala. Baru empat tahun kemudian, pada 2010 pembangunan dilanjutkan kembali, hingga selesai dan diresmikan pada 5 Juli 2011.

 

(sumber : beritagar.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here