Prank adalah budaya semena-mena yang semakin menunkukan tajinya di kala Youtube mengakomodir video-video tanpa mutu tersebut ke dalam platformnya, beberapa tahun belakangan ini.

Prank adalah kultur antithesis kebaikan. Tidak mengidahkan perasaan, dan sangat jauh dari pemahaman nalar standar manusia dalam berkehidupan. Dulu awal-awal 2000an aktor dan pembawa acara Ashton Kutcher sempat melambungkan sebuah  program Prank yang diberi judul Punk’d. namun untuk acara yang digeber selama 79 episode tersebut ada pengecualian. Jenis Prank yang digarap suami Mila Kunis ini masuk kategori jenius. Sangat terkonsep, dan yang kena Pranknya pun tidak semerta merta baper. Hampir seluruh artis  yang dikerjain Ashton, menyatakan bahwa mereka jadinya seperti menjalani pengalaman baru yang benar-benar berbeda saat dikerjai Ashton.

Sementara konsep Prank yang bertebaran di segala Youtube Channer masa kini adalah produk asal demi substansi konten berujung pada penghasilan serta pencitraan si pembuat kontennya. Mengejar trafik, viewers, dan subcribers adalah target hidup mereka. Tidak mengidahkan pola adalah kebiasaan yang selalu mereka terapkan di dalam setiap pembuatan video prank-nya. Otak mereka tidak dipakai untuk berpikir untuk bagaimana jika prank-nya akan begini, begitu, yang nanti aka nada akibatnya jika menjalankannya dengan cara seperti itu. Atau bagaimana cara meminimalisirnya agar tidak terjadi hal-hal diluar kendali mereka, hingga efek-efek yang akan timbul tidak bertentangan dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebaiknya ditamatkan saja oleh Youtbe segala kegiatan konten yang berisikan Prank. Dimusnahkan, sehingga tidak ada seorang punakan terbesit untuk membuar video-video tersebut. Ini merupakan degradasi dunia kevideoan dengan titik nadir yang paling rendah. Dimana akal sehat manusia dipaksakan bertoleransi dengan video-video ngaco. Prank adalah sejarah terendah sekaligus terburuk dari industri hiburan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here