Pasti banyak dari kita yang belum tahu bahkan mendengar penyakit bernama Dystonia, dan kali ini kabarsidia ingin mengajak kamu untuk mengenal lebih jauh apa itu penyakit Dystonia yang sekarang sedang ramai diperbincangkan karena telah merenggut nyawa Caroll Spinney, dalang yang menggerakkan boneka tokoh Oscar dan Big Bird (selama kurang lebih selama 50 tahun) si burung besar kuning yang ikonik dari serial Sesame Street. Carol Spinney meninggal pada hari Minggu (8/12/2019) lalu di rumahnya di Woodstock, Connecticut.

Dystonia adalah gangguan yang menyebabkan otot bergerak sendiri tanpa sadar. Gerakan otot ini dapat terjadi pada salah satu anggota tubuh hingga seluruh tubuh. Akibat dari gerakan otot ini, penderita dystonia memiliki postur tubuh yang aneh dan mengalami gemetar atau biasa disebut dengan tremor.

Tidak hanya gemetar atau tremor, gejala dystonia juga bisa dilihat dari anggota tubuh pada posisi yang tidak biasa, misalnya leher yang miring, mata berkedip tanpa kendali, gangguan berbicara dan menelan.

Dystonia sendiri bukanlah penyakit yang sering dijumpai. Bahkan, tercatat penyakit ini dialami oleh 1% populasi dunia, dengan jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Sayangnya, masih belum ada data mengenai angka kejadian dystonia di kawasan Asia, terutama di Indonesia.

Masih dalam penelitian, karena belum diketahui dengan jelas apa yang menjadi penyebab seseorang mengidap penyakit dystonia. Namun, dystonia bisa diduga berkaitan dengan kelainan genetik yang diturunkan. Tetapi, selain faktor genetik ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya dystonia seperti;

  • Gangguan pada sistem saraf, seperti penyakit Parkinson, multiple sclerosis, lumpuh otak (cerebral palsy), tumor otak, dan stroke.
  • Infeksi, seperti HIV dan radang otak (ensefalitis).
  • Penyakit Wilson.
  • Penyakit Huntington.
  • Obat-obatan, seperti obat untuk mengobati skizofrenia dan antikejang.
  • Cedera kepala atau tulang belakang.

Hingga saat ini belum diketahui pengobatan yang dapat menyembuhkan dystonia. Namun, ada beberapa pengobatan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, yaitu mengonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi sinyal di otak, suntikan botox pada area yang terkena serangan, fisioterapi, dan operasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here