Dalam waktu satu minggu terdapat tujuh hari yang berbeda, mulai hari senin hingga hari minggu. Ketujuh nama hari tersebut bahkan digunakan sebagai nama pasar di beberapa wilayah DKI Jakarta. Sebut saja Pasar Senen dan juga Pasar Minggu. Lalu, dimana sajakah letak pasar-pasar sesuai nama hari tersebut?

Bagi masyarakat Jakarta tentu sudah tidak asing dengan penggunaan nama hari sebagai nama pasar. Dari ketujuh nama hari dalam satu minggu, tidak ada satu pun yang luput dari penggunaan nama pasar di Jakarta.

Pasar yang menggunakan nama hari sebagai penanda ini menjual beragam kebutuhan rumah tangga, mulai dari kebutuhan pokok bahan makanan, buah-buahan, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga seperti ember, gayung dan sebagainya.

Baca Juga:Asal Usul Pasar Senen, Pasar Legendaris dan Tertua di Jakarta

Pasar menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi masyarakat Indonesia lantaran menjual barang-barang berkualitas dengan harga yang murah dibanding berbelanja di swalayan. Meskipun di pasar terkesan kotor, becek dan sedikt mengeluarkan aroma tak sedap tidak membuat masyarakat Indonesia khususnya Jakarta keberatan akan hal tersebut.

Berikut ini adalah penjelasan tentang nama-nama pasar sesuai dengan nama hari dan informasi tentang lokasi dari pasar tersebut. Check this out!

  • Pasar Senen

Sebagai hari pertama, Pasar Senen sudah tidak perlu lagi diragukan keberadaannya. Hadir sejak tahun 1970-an, Pasar Senen menjadi satu-satunya pusat jual beli pada masa era kolonial Belanda. Dahulu Pasar Senen menggunakan nama Vincke Passer, namun seiring berjalannya waktu berubahlah menjadi nama Pasar Senen. Pada

Pada era kolonial Belanda itulah mulai diberlakukan ketentuan hari bagi pasar-pasar yang tersebar di beberapa daerah Jakarta. Pasar Senen hanya diberikan izin untuk buka setiap hari Senin saja.

  • Pasar Selasa

Mendengar nama Pasar Selasa mungkin akan terdengar asing di telinga. Namun, Pasar Selasa ini merupakan salah satu pasar yang terletak di Jalan Kramat Raya Jaya, Jakarta Utara, pasar tersebut adalah Pasar Koja yang berjualan hanya pada hari Selasa.

Memang benar, Pasar Selasa telah punah seiring berkembangnya waktu. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Pasar Koja dibanding dengan Pasar Selasa. Perubahan nama dari Pasar Selasa menjadi Pasar Koja ini lantaran hari Selasa dianggap tidak baik untuk melakukan jual-beli. Kini, Pasar Selasa secara paten menggunakan nama Pasar Koja sebagai identitasnya.

  • Pasar Rebo

Menepi ke daerah Timur, terdapat Pasar Rebo yang hingga kini namanya masih sangat melegenda. Pasar Rebo merupakan salah satu pasar yang lahir berkat Gubernur Ali Sadikin. Mulanya Pasar Rebo terletak di perempatan Jalan TB.Simatupang dan Jalan Raya Bogor.

Pada tahun 1971, Gubernur Ali Sadikin memindahkan lokasi Pasar Rebo dan membangun Pasar Induk Kramat Jati sebagai gantinya. Hal ini dilakukan lantaran kawasan Pasar Rebo yang terletak diperempatan jalan sudah tidak layak dijadikan pasar. Pasar Rebo kini lebih dikenal sebagai nama dari sebuah jalan perempatan, sementara pasar yang terkenal di kawasan Jakarta Timur ialah Pasar Induk Kramat Jati yang menjual beragam sayur mayur dan buah-buahan.

  • Pasar Kamis

Sama halnya dengan Pasar Selasa, nama Pasar Kamis kini sudah tidak populer lagi di kalangan masyarakat. Pasar Kamis kini lebih dikenal dengan nama Pasar Mester atau Pasar Jatinegara. Dahulu, di sekitar Pasar Kamis terdapat sebuah benteng Belanda dengan nama Benteng Mester Cornelius.

Kawasan Mester tersebut berubah nama menjadi Jatinegara pada masa pemerintahan Jepang. Hal tersebutlah yang membuat Pasar Kamis dikenal dengan nama Pasar Mester atau Pasar Jatinegara. Jika berkunjung ke Pasar Mester, Anda akan menemukan beragam bahan tekstil dan baju-baju dengan harga yang murah.

  • Pasar Jumat

Salah satu pasar yang kini sudah tidak bisa dijumpai lagi adalah Pasar Jumat. Pasar yang sudah berdiri pada masa VOC ini melakukan aktivitas jual-belinya setiap hari Jumat. Pasar Jumat terletak di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dulunya para pedagang yang berjualan di Pasar Jumat merupakan penduduk sekitar yang berjualan hanya beralaskan kain atau terpal.

Baca Juga:Mengenang Stadion Lebak Bulus, Markas Macan Kemayoran Persija Jakarta

Umumnya pedagang yang berjualan di Pasar Jumat ini menjual barang dagangannya buah hasil dari bercocok tanam. Banyak pedagang yang menggunakan pikulan untuk mengangkut dagangannya. Namun sayang, keberadaan Pasar Jumat kini sudah tidak bisa dijumpai di kawasan Lebak Bulus tersebut. Terlebih saat ini kawasan tersebut sudah menjadi lahan pembangunan MRT oleh Pemporv DKI Jakarta.

Mungkin masih ada beberapa pedagang yang berjualan di Pasar Jumat, namun sudah tidak seperti dahulu kala yang ramai dipadati pedagang.

  • Pasar Sabtu

Siapa yang tak kenal dengan Pasar Tanah Abang? Salah satu pasar terbesar se-Asia Tenggara ini dulunya menggunakan nama Pasar Sabtu pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sebelum menyandang nama Pasar Tanah Abang, pasar Sabtu lebih dulu menggunakan nama Pasar Tenabang.

Pembangunan Pasar Sabtu ini tentunya memiliki tujuan yang berbeda dari pembangunan Pasar Senen. Dulu, Pasar Sabtu lebih dikenal sebagai pasar klontong saja, namun kini Pasar Sabtu yang menggunakan nama Pasar Tanah Abang sudah menjadi pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara. Berbagai blok pun disajikan kawasan Pasar Tanah Abang.

  • Pasar Minggu

Pasar yang masih tetap mempertahankan namanya dengan nama hari ialah Pasar Minggu. Pasar Minggu dikenal sebagai pasar yang menjual beraneka ragam buah dengan kualitas yang sangat bagus. Jika berkunjung ke Pasar Minggu, segala macam jenis buah yang dibutuhkan pun bisa ditemukan disini.

Bukan hanya dikenal sebagai pasar buah saja, pada malam tiba Pasar Minggu berubah menjadi pasar sayuran yang menjual beraneka ragam sayur. Hingga kini Pasar Minggu tetap eksis dan menjadi salah satu pasar yang diburu oleh para penduduk Jakarta, khususnya penduduk Jakarta Selatan.

Begitulah sejarah singkat dari pasar sesuai dengan nama hari. Penggunaan nama hari pada pasar ini dulunya digunakan sebagai bentuk peraturan jam operasional pasar yang hanya boleh berjualan satu hari dalam seminggu sesuai dengan nama dan harinya. Tentunya peraturan ini dibuat dengan tujuan agar tiap pasar dapat terus diramaikan dan mendapatkan penghasilan rata pada tiap pasar.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here