Dunia perindustrian film Indonesia kembali berduka, kali ini putra terbaiknya harus pergi menghadap sang Pencipta. Dia adalah Ali Shahab, pelopor sinetron bermutu di Indonesia yang juga merupakan wartawan senior Indonesia.

Kabar kepergian Ali Shahab disampaikan langsung oleh salah seorang staff produksinya, Yessi. Ali meninggal dunia dalam usia 77 tahun, pada Selasa, 25 Desember 2018 kemarin. Kepergian Ali untuk selama-lamanya meninggalkan duka dan kesedihan bagi para sanak keluarga, rekan sejawat, dan perindustrian film Indonesia.

Semasa hidupnya, Ali banyak aktif dan mengikuti berbagai kegiatan dan menjajal beragam profesi. Kegemarannya pada dunia seni mulai ia tunjukan ketika duduk di bangku SMP. Ali mencoba beragam kegiatan kesenian dan mengasah kemampuannya dalam melukis. Bahkan dirinya memutuskan untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi kesenian, Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta.

Pada periode 1958-1963, Ali berhasil menyelesaikan masa perkuliahannya. Ia pun mencoba mengembangkan bekal ilmu yang didapat selama berkuliah. Dirinya memutuskan untuk menjajal profesi sebagai seorang wartawan. Tak tanggung-tanggung, Ali bahkan sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media massa, yakni Indonesia Jaya.

Baca Juga:Nike Ardilla, 23 Tahun Kepergian Lady Rocker Yang Multitalenta

Selama menjadi seorang wartawan, Ali disibukan dengan kegiatannya menulis novel. Saat itu tahun 1960-an, Ali merilis novel pertamanya berjudul Tante Girang. Tanpa ia sadari ternyata antusias para pembaca pun membuat namanya kian melambung. Ali pun dikenal sebagai seorang novelis.

Pria kelahiran 22 September 1941 ini juga sempat terjun ke dunia perfilman Indonesia.  Hal ini berawal ketika karya novel dan naskahnya diterbitkan menjadi sebuah film. Mengawali karirnya di dunia perfilman, Ali mencoba terlibat pada sebuah film karya sutradara Misbach Yusa Biran. Film ini berjudul Di Balik Tjahaja Gemerlapan yang dirilis pada tahun 1966.

Memasuki tahun 1970-an, Ali bertemu dengan Suzana dan Dicky Suprapto. Sejak pertemuan itulah hubungan ketiganya semakin akrab. Ali diberikan kepercayaan untuk memproduksi film Suzana di tahun 1972. Film ini adalah Beranak Dalam Kubur yang menjadi film hits dan laris dipasaran sebagai film horor Indonesia.

Selama berkarir sebagai seorang sutradara, novelis bahkan wartawan sekalipun, Ali selalu mengedepankan kualitas bukan hanya sekedar novel yang banyak dibaca oleh para pembaca. Ali tidak menyajikan cerita dan alur yang rumit, sehingga banyak karya novelnya yang kemudian dijadikan film.

Terjun kedunia film, membuat Ali tertarik untuk menjajal bidang lainnya. Kali ini Ali mencoba untuk berkarya pada sebuah stasiun televisi untuk membuat sebuah sinetron. Tahun 1080-an, Ali melahirkan karya baru bertajuk Rumah Masa Depan yang ditayangkan di TVRI. Karyanya pun menjadi salah satu karya terbaik dan favourit generasi 80-an.

Baca Juga:Mengenal Sosok Nh Dini, Sastrawan dan Novelis Indonesia Yang Tangguh

Ali juga dikenal sebagai pelopor dari lahirnya sinetron Nyai Dasima dan Angkot Haji Imron. Pada era 70-an, Ali lah orang pertama dan sutradara pertama yang memiliki studio lengkap di atas tanah 115 hektar di Pacet, Cianjur.

Seiring berjalannya waktu, dunia pertelevisian pun mulai banyak mengalami perubahan. Munculnya stasiun televisi baru yang beraneka ragam membuat namanya seolah terlupakan.  Banyaknya stasiun televisi yang lebih mementingkan rating, membuat Ali segan untuk bekerjasama dengan pihak stasiun televisi. Ali sosok yang komitmen dan mementingkan kualitas yang merasa dirinya harus bertanggung jawab atas tayangan televisi kepada para penonton.

Ali Shahab, sosok pelopor tayangan sinetron bermutu di Indonesia pun pergi meninggalkan perindustrian perfilman. Sosok tanggung jawab dan konsistennya atas sebuah tayangan akan selalu di kenang dan di abadikan. Selamat beristirahat, Ali Shahab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here