Willibrordus Surendra Broto Rendra, seorang sastrawan ternama Indonesia yang lebih akrab dengan nama W.S Rendra ini mendapat julukan ‘Si Burung Merak’. Julukan ini ia dapatkan dari mendiang Mbah Surip. Seperti apakah sosok W.S Rendra? Dan bagaimana kisah hidupnya hingga menjadi sastrawan ternama Indonesia? Mari simak ulasannya dibawah ini.

Terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Renda, ia mulai tertarik dengan dunia sastra sejak duduk di bangku SMP. Mulai dari menulis cerpen, puisi, hingga drama ia lakukan untuk mengisi mading sekolah. Sejak saat itu ia menjadi sosok yang berani tampil di atas pentas dengan membacakan puisi karya miliknya.

Kemampuannya dalam menulis puisi semakin meningkat ketika dirinya memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi, Universitas Gadjah Mada. Dirinya mulai menulis ratusan cerpen dan sajak untuk di muat ke dalam majalah.

Tulisan pertamanya berhasil dipublikasikan pada tahun 1952 untuk majalah Siasat. Tidak hanya berhenti disitu saja, puisinya pun berhasil dimuat ke berbagai majalah terkenal pada era 1960 hingga 1970’an, seperti Basis, Seni, Kisah, Siasat Baru, dan Konfrontasi.

Selain terkenal sebagai sasatrawan handal di Indonesia, sastrawan kelahiran 7 November 1935 ini juga terkenal hingga ke negera lain. Beberapa Negara bahkan menerjemahkan karya milik W. S Rendra ke dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Belanda, Jepang, India, dan Jerman.

“Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya menghunjam ke rimba dan pusar kota. Tinggal bunda di rumah menepuki dada melepas hari tua, melepas doa-doa cepat larinya jauh perginya.” – Ada Tilgram Tiba Senja (W.S Rendra)

Tahun 1964 hingga 1967, Rendra sempat mengenyam bangku pendidikan di Amerika Serikat. Saat itu Rendra mendapatkan beasiswa dari American Academy of Dramatical Art ( (AADA). Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan emasnya tersebut untuk mengasah kemampuannya dalam drama dan seni tari. Selama di Amerika Serikat, Renda juga kerap kali menghadiri beragam undangan seminar dari Harvard University. Sepulangnya dari Amerika Serikat, Rendra kembali ke Yogyakarta dan mendirikan sebuah Bengkel Theater di Yogyakarta dan Bengkel Theater di Depok.

W.S Rendra menikahi kekasihnya, Sunarti Suwandi ketika usianya menginjak 24 tahun. Dari hasil pernikahannya ini ia dikaruniai 5 orang anak. Namun kesetiaannya di uji ketika salah satu muridnya di Bengkel Theater Yogyakarta menarik perhatiannya. Dia adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Ketertarikannya itu pun membuat Rendra ingin menikahinya, namun restu dari orang tua Bendro pun tak ia dapatkan karena perbedaan keyakinan.

Rendra pun membuat publik terkejut atas keputusannya untuk menjadi mualaf dan menikahi muridnya. Publik menuding jika Rendra menjadi mualaf hanya untuk berpoligami. Tudingan tersebut ia bantah, dan dengan lantang dirinya mengucap dua kalimat syahadat di hari pernikahannya dengan Bendro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat.

Kesetiaan terhadap kedua istrinya pun kembali di uji. Kali ini Rendra tak bisa melewati ujian tersebut. Ia ingin menikahi seorang gadis bernama Ken Zuraida, yang tidak rela Rendra memiliki banyak istri. Rendra diminta untuk menceraikan kedua istrinya jika ingin menikah dengan Ken. Tahun 1979, Rendra menceraikan kedua istrinya dan menikah dengan Ken Zuraida.

Terlepas dari kisah percintaan seorang W.S Rendra, dirinya merupakan tokoh penting yang menuangkan karya hingga mendunia. Rendra kerap kali mengikuti berbagai festival baik di Indonesia maupun International. Ia pernah mengikuti festival di Berlin yaitu Berliner Horizonet Festival (1985) hingga Tokyo Festival (1995).

W. S Rendra meninggal dunia pada 6 Agustus 2009. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Rendra sempat mendapat perawatan di RS Harapan Kita dan RS Mitra Keluarga Depok. Rendra meninggal dunia karena penyakit komplikasi yang ia derita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here