Sekitar tahun 1970-an, para muda-mudi disekitaran Jakarta memiliki tempat asik untuk kumpul, yakni Taman Ria Remaja. Terletak di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata keluarga yang ramai dikunjungi. Taman Ria Remaja yang dibuka pada 15 Agustus 1970 ini menjadi daya tarik masyarakat karena memiliki danau yang sangat luas. Saat itu pembukaan dan peresmian Taman Ria Senayan dilakukan oleh Ibu Tien Soeharto.

Tahun 1995, Pemerintah melakukan perubahan nama pada Taman Ria Remaja menjadi Taman Ria Senayan. Penggantian nama tersebut didasari karena perkembangan yang semakin maju, sehingga berbagai fasilitas lain pun mulai ditambahkan. Selain itu, tahun 1997 kepemilikan dari Taman Ria Senayan pun dipegang oleh pihak swasta, yakni PT.Ario Bimo Laguna Perkasa, yang semula dipegang oleh Yayasan Ria Pembangunan.

Beralihnya Taman Ria Senayan ke tangan swasta, membuat taman ini memiliki banyak perubahan. Salah satunya adalah beragam wahana dan destinasi wisata kuliner. Salah satu wahana yang paling membekas bagi generasi 70-an dan 80-an adalah wahana Kincir Ria, atau sekarang terkenal dengan nama Bianglala di kawasan dunia fantasi. Selain Kincir Ria dan danau, di Taman Ria Senayan juga dilengkapi dengan beragam pohon rindang nan sejuk yang bisa digunakan untuk berteduh dikala terik matahari mulai menerjang.

Memiliki lokasi yang cukup strategis dan biaya masuk yang murah, membuat Taman Ria Senayan lebih dipilih oleh masyarakat dibanding Dunia Fantasi yang kala itu juga sudah dibangun. Di taman wisata, Taman Ria Senayan juga dilengkapi dengan beragam pertunjukan, salah satunya pertunjukan Srimulat pada hari Sabtu dan Minggu.

Kebanyakan dari masyarakat khususnya generasi 70 dan 80-an ini tidak pernah absen dari pertunjukan kelompok Srimulat, yang saat itu hanya tampil dengan alat seadanya. Karir dari kelompok Srimulat ini bisa dikatakan memang dimulai dari pertunjukannya di Taman Ria Senayan, sehingga taman ini juga menjadi salah satu saksi dari perjalanan kelompok Srimulat.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan Taman Ria Senayan pun mulai ditinggalkan. Munculnya taman hiburan lain yang lebih fresh dan memiliki fasilitas yang jauh lebih baik pun menjadi tempat yang diincar oleh masyarakat Jakarta. Bahkan kabarnya, Taman Ria Senayan ini sempat diajukan akan dibangun sebuah mall besar kala Gubernur Fauzi Bowo memimpin Jakarta. Namun, desas-desus itu pun juga dibantah oleh Fauzi Bowo, yang mengatakan bahwa Taman Ria Senayan tidak akan dijadikan pusat perbelanjaan atau mall.

Saat itu, Fauzi Bowo lebih menyarankan jika Taman Ria Senayan dijadikan sebagai hutan kota. Pemilihan ini juga didasari dengan kurangnya lahan hijau dan resapan air di Jakarta. Semakin terbengkalainya Taman Ria Senayan kala itu, membuat masyarakat jauh memilih Dunia Fantasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here