Kapal Feri Sewol Korea Selatan

Tahun 2014 tepatnya pada bulan April menjadi tahun yang mencekam dan mengerikan menimpa Korea Selatan. Pada tanggal 16 April 2014, sebuah tragedi dari karamnya kapal feri Sewol terjadi. Kapal yang berlayar dari Incheon menuju Pulau Jeju ini menewaskan sedikitnya 304 penumpang. Tragedi ini pun menjadi kecelakaan laut paling bersejarah di Korea Selatan.

Kapal feri Sewol ditugaskan untuk berlayar ke Pulau Jeju pada tanggal 15 April 2014. Saat itu kapal feri Sewol dikemudikan oleh Kapten Lee Joon-seok, yang akan membawa para penumpang dari Pelabuhan Incheon menuju Pulau Jeju.

Sediktinya 476 penumpang akan diberangkatkan menggunakan kapal feri Sewol. Sebagian besar penumpang kapal feri Sewol ini berasal dari siswa-siswi SMA Danwon yang akan pergi berlibur menjelang ujian, dengan total mencapai 324 murid.

bangkai Kapal Feri Sewol yang berhasil diangkat setelah bertahun-tahun tenggelam di dasar laut (Foto: Yonhap)

Pada pukul 18:30 waktu setempat, kapal feri Sewol dijadwalkan berangkat dari pelabuhan Incheon. Namun sayang, peringatan dini tentang cuaca dan jarak pandang yang hanya kurang dari 1 kilometer membuat perjalanan kapal feri Sewol ini ditunda.

Sekitar pukul 20:35 waktu setempat, peringatan tersebut pun dicabut. Kapal feri Sewol pun siap untuk diberangkatkan menuju Pulau Jeju pada pukul 21:00. Keberangkatan ini dilakukan setelah kapal dilakukan pengecekan ulang terkait tidak atau layaknya untuk berangkat.

Tidak ada hal yang mencurigakan terkait kapal feri Sewol ini. Perjalanan nampak lancar dan tanpa kendala yang terjadi. Hingga pada akhirnya tanggal 16 April 2014 sekitar pukul 08:48 pagi ketika kapal feri Sewol melintasi Selat Maenggol terjadi hal yang tak terduga. Awak kabin yang belum memiliki pengalaman berlayar kabarnya melihat sebuah kapal dari arah yang bersebrangan akan menabrak kapal yang mengangkut 476 penumpang ini.

bangkai Kapal Feri Sewol yang berhasil diangkat setelah bertahun-tahun tenggelam di dasar laut (Foto: News1)

Celakanya perwira yang tidak berpengalaman itu pun membelokan kapal hingga terjadi kemiringan yang cukup drastis. Kapal feri Sewol pun kehilangan keseimbangan yang mengakibatkan kargo dan muatan miring ke satu sisi.

Kemiringan ini pun kabarnya disebabkan oleh kelebihan muatan yang melebihi kapasitas. Tercatat sedikitnya kapal feri Sewol mengangkut 3.608 ton kargo, atau tiga kali lipat lebih berat dari kapasitas yang dianjurkan yaitu 987 ton. Selain itu, kapal feri Sewol juga hanya membawa 580 ton air pemberat, dimana jumlah ini jauh lebih sedikit dari yang dianjurkan yakni 2.030 ton.

Baca Juga:Mengenang Tragedi 1981: Tenggelam dan Terbakarnya Kapal Tampomas II

Selang 4 menit setelah kemiringan terjadi, salah satu siswa dari SMA Danwon pun menghubungi pihak pasukan penjaga untuk meminta pertolongan. Dalam laporannya, siswa tersebut mengatakan bahwa kapal dalam posisi yang tidak benar dan memohon untuk segera diberikan pertolongan.

Sayangnya para penumpang yang menaiki kapal feri Sewol ini nyatanya tidak diberikan izin oleh para awak kabin untuk keluar. Mereka diharuskan untuk tetap berada di dalam kabin, sehingga mereka yang menumpangi kapal feri Sewol harus terjebak dengan kapal yang semakin mengalami kemiringan.

Bangkai kapal feri Sewol yang berhasil diangkat (Foto: News1)
Bangkai kapal feri Sewol yang berhasil diangkat (Foto: News1)

Sekitar pukul 09:39 pagi, kapal-kapal penyelamat pun mulai datang dan menolong para korban. Dalam kurun waktu sekitar 11 menit, kapal penyelamat berhasil mengevakuasi sedikitnya 80 penumpang, termasuk kapten kapal dan para kru yang melepaskan tanggung jawabnya kepada para penumpang yang masih terjebak di dalam kabin. Setelah berhasil menyelamatkan 80 penumpang, kapal feri Sewol kembali mengalami kemiringan drastis hingga lebih dari 64 derajat.

Pada pukul 10:21 pagi, atas perintah dari Mantan Presiden Park Geunhye, pasukan penyelamat pun kembali dikerahkan dan berhasil menyelamatkan 40 penumpang lainnya. Sesaat setelah 10 menit melakukan evakuasi, kapal feri Sewol pun karam dan tenggelam sepenuhnya.

Kapal yang dimiliki oleh Perusahaan Chonghaejin Marine ini pun tenggelam. Kapal yang dibuat di Jepang pada tahun 1994 ini pun meninggalkan sejarah bagi Korea Selatan. Berbagai upaya penyelamatan yang telah dikerahkan pun tidak berhasil dengan sempurna. Pada 17 April 2014 pukul 09:00 pagi, secara resmi 8 orang dinyatakan meninggal dunia dan 288 penumpang lainnya dinyatakan hilang.

Kapten Lee Joon-seok yang ditangkap dan didakwa bersalah atas tragedi karamnya Kapal Sewol (Foto: Yonhap)

Satu hari setelah pernyataan tersebut, tanggal 18 April 2014 kapal feri Sewol sepenuhnya tenggelam ke dalam air pukul 11:50 waktu setempat. Tercatat 172 orang berhasil diselamatkan dari kapal naas tersebut. Sementara 295 penumpang lainnya dinyatakan meninggal dunia dan 9 orang dinyatakan hilang.

Tanggal 19 April 2019, Kapten kapal feri Sewol yakni Lee Joon-seok ditangkap dan didakwa akibat melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas. Dirinya juga turut didakwa atas pelanggaran hukum kelautan dan pelanggaran lainnya. Sang Kapten pun juga meninggalkan penumpang lainnya yang masih terjebak, sementara dirinya menyelamatkan dirinya sendiri. Hal ini lah yang juga memberatkan dirinya karena dalam perundang-undangan Korea Selatan ditegaskan bahwa kapten kapal harus tetap berada di posnya saat bencana datang.

Baca Juga:Fakta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Yang Bukan Mitos Belaka

Kapten kapal tersebut dijatuhi hukuman seumur hidup, sementara awak kabin dijatuhi hukuman yang lebih ringan. Tidak berhenti sampai disitu saja, CEO Chonhaejin Marine yakni Kim Han-sik juga ditangkap dan didakwa akibat kelalaiannya yang menyebabkan hilangnya nyawa. Selain itu Kementrian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan mencabut izin operasional Chonhaejin Marine, terutama untuk rute Incheon – Pulau Jeju.

Dalam tragedi karamnya kapal feri Sewol ini, tercatat 9 orang tidak berhasil ditemukan. Bangkai kapal yang sudah diangkat pun tidak menyisakan sedikit tanda dari penumpang yang belum ditemukan. Tragedi ini pun menjadi catatan sejarah kecelakaan terbesar bagi Korea Selatan.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here