Sebelum hadirya era ponsel, dan saat kebutuhan komunikasi tak terpuaskan dari akses telepon umum koin/kartu, maka penyambung lidah gank generasi 90-an adalah warung telekomunikasi (wartel). Bagi muda-mudi yang ingin bicara serius tanpa ‘gangguan,’ ya wartel adalah jawabannya. Maka tak heran keberadaan bilik wartel ada yang memplesetkannya sebagai bilik cinta.

Baca juga: Telepon Umum Koin, Penyambung Kata-Kata Romantis Zaman Itu

Bagi Anda yang di era 90-an masih mengeyam pendidikan di sekolah atau kampus, tebaran wartel di pelosok jalan dan gang ibarat sebuah oase yang sanggup memuaskan dahaga komunikasi. Maklum di era tersebut belum atau masih jarang penggunaan ponsel, maka target telpon di wartel umumnya ke telepon rumah (si dia).

Karena dipandang efektif untuk menjalin kasih, berlama-lama di dalam bilik wartel sudah jamak dijumpai, terutama di wartel yang berdekatan dengan kampus. Adanya orang yang mengantri di luar bilik memang membuat kenyamanan berkomunikasi jadi berkurang, “ada kesan kita harus buru-buru, karena sudah ditunggu orang, apalagi kalau wartel sedang penuh,” ujar Adi Wayne (41 tahun) saat mengenang menjalin hubungan serius dari bilik wartel semasa kuliah di bilangan Jakarta Selatan.

Biasanya, muda-mudi pemburu wartel sudah mahfum dengan jam-jam afdol untuk telponan di wartel. Bukan hanya memburu tarif murah dari PT Telkom, tapi lebih karena wartel relatif sepi. Selepas jam 21.00 adalah timing yang pas, meski risikonya ‘mengganggu’ waktu istirahat bakal calon mertua. Walau jurus rayuan dan kata-kata mesra banyak diobral dari dalam bilik warnet, toh panel tarif tetap menjadi perhatian penggunanya. Ya, mau tak mau hitungan tarif per menit jadi patokan bila tak ingin isi dompet terkuras.

Sebagai bagian dari kemajuan teknologi, wartel pun terkena “seleksi alam,” menurut data yang dirilis oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada tahun 2015 sudah tak ada lagi sambungan wartel di seluruh Indonesia. Populasi wartel terus menurun sejak tahun 2010 dan kian signifikan di tahun 2014. Kala itu, tercatat bahwa jumlah wartel hanya tinggal sekitar 836 sambungan dari yang sebelumnya berjumlah 227.555 sambungan.

Baca juga: Buat Kamu Generasi 90-an, Lima Ponsel Jadul Ini Pernah Jadi Impian

Penyebab punahnya wartel tentu budah ditebak, karena semakin banyak orang yang memiliki ponsel pribadi sehingga tak lagi mengandalkan wartel untuk komunikasi. Harga ponsel yang kian murah juga didukung oleh aneka paket percakapan dari operator seluler semakin menggeser peran wartel maupun telepon rumah. Meski tinggal kenangan, wartel adalah bagian dari sejarah Anda yang besar di era 90-an.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here