Menelusuri perjalanan politik hingga kehidupan pribadi dari mantan Menteri pada Era Orde Baru, Sarwono Kusumaatmadja menjadi hal menarik yang patut untuk disimak. Sarwono merupakan mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara periode 1988 – 1993. Dirinya sempat mendapat bujukan untuk masuk ke dalam inner circle ‘Keluarga Cendana’, namun hal yang dilakukan oleh Sarwono justru menolaknya. Sarwono tetap berdiri tegak di koridor tengah sesuai dengan pendiriannya.

Pria kelahiran 24 Juli 1943 ini merupakan seorang politikus dan saksi sejarah dari kemerdekaan Republik Indonesia. Sarwono merupakan politikus yang lahir dari Partai Golkar, dan menjadi salah satu Menteri yang dekat dengan Presiden Soeharto.

Baca Juga:Kesaksian Rahardi Ramelan Tentang ‘Dinginnya’ Jeruji Besi Penjara

Kedekatan Sarwono dengan Presiden Soeharto ini pun membuat dirinya kerap kali diundang ke kediaman pribadi Presiden Soeherto. Mulanya, Sarwono hanya ingin berdiskusi mengenai pekerjaannya, namun dirinya merasa ada yang tidak beres dengan kehadirannya tersebut.

Sarwono Kusumaatmadja
Sarwono Kusumaatmadja

“Mulanya Pak Harto bercerita tentang dirinya yang bertemu dengan berbagai tokoh penting. Tetapi selama kurang lebih tiga bulan saya mengunjungi kediamannya, obrolan kami semakin keluar jalur. Saya justru tidak mendapat arahan tentang pekerjaan saya.” Ungkap Sarwono.

Kejanggalan tersebut membuat Sarwono bertemu dengan kedua kerabatnya, Letjen (Purn) Soedharmono dan Jenderal (Purn) Benny Moerdani. Orang pertama yang berhasil ditemui untuk berkonsultasi ialah Soedharmono.

“Saat saya bertemu dengan Soedharmono, dia justu bilang kalau saya lagi diajak untuk masuk ke dalam inner circle Cendana.” Tambah Sarwono ketika menceritakan kisahnya.

Tentunya hal ini membuat Sarwono diambang kebingungan dan harus melakukan apa agar tidak salah langkah nantinya. Kebimbangan yang dirasakan oleh Sarwono pun nampaknya harus ia selesaikan dengan segera. Dirinya pun bertemu dengan Benny untuk menceritakan pertemuannya dengan Soeharto.

Sarwono Kusumaatmadja

Namun hasil pertemuannya dengan Benny pun memiliki jawaban yang sama dengan Soedharmono. Bahwa semua keputusan ada di tangan Sarwono sendiri. Masuk atau tidak. Tanpa pertimbangan yang panjang, di suatu malam ketika Presiden Soeharto memanggilnya kembali untuk datang, Sarwono pun dengan tegas menyampaikan bahwa ia tidak tertarik untuk masuk ke dalam inner circle Cendana.

Terlepas dari ajakan dari Presiden Soeharto yang ia tolak, Sarwono pun tetap berdiri tegak di koridor tengah. Ia tidak terpengaruh sedikit pun dengan ajakan tersebut. Sarwono tetap bekerja dan melaporkan hasil kerjanya kepada Presiden Soeharto saat itu.

Baca Juga:Eksklusif! Mengenal Lebih Jauh Ahli Perbankan Indonesia, Bapak Pradjoto.

Sama seperti buku yang berhasil ia terbitkan, Menapak Koridor Tengah. Buku yang ditulis oleh Sarwono tersebut berisikan kesaksian dan perjalanan hidupnya, hingga kesaksian dirinya untuk menolak ajakan Presiden Soeharto. Menapak Koridor Tengah berisikan 290 halaman yang berhasil ia terbitkan pada tahun 2018 lalu.

Karir Sarwono di kancah bangku pemerintahan pun bisa dikatakan cemerlang. Hal ini terbukti dengan terpilihnya menjadi Menteri diberbagai periode, seperti Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993-1998), dan juga Menteri Kelautan dan Perikanan (1999-2001). Kini, Sarwono yang sudah tidak duduk di bangku pemerintahan pun masih dipercaya untuk menjadi penasihat para Menteri dan juga menjabat sebagai Komisaris diberbagai perusahaan.

Lalu bagaimanakah kisah perjalanan hidup dan keluarga Sarwono? Simak hasil wawancara eksklusif tim Kabarsidia bersama dengan Sarwono Kusumaatmadja dibawah ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here