Sejarah Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)
Sejarah Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)

Sebuah rumah sakit megah yang bernama Rumah Sakit Husada, merupakan satu di antara sekian banyak rumah sakit di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Rumah Sakit Husada yang melayani ribuan pasien setiap harinya pun menorehkan sejarah perjalanan panjang sebelum berdiri megah di kawasan Jakarta Pusat.

Rumah Sakit Husada merupakan salah satu rumah sakit yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa bernama dr. Kwa Tjoan Sioe. Sebelum menyandang nama Rumah Sakit Husada, tempat ini lebih dulu dinamai dengan nama Jang Seng Ie, yang didirikan pada 28 Desember 1924.

dr. Kwa Tjoan Sioe merupakan warga keturunan Tionghoa yang lahir di Salatiga pada 7 Januari 1893. Beliau merupakan putra kedua dari Kwa Sam Say dan Liem Tjoe Nio. Pada usia 11 tahun, Kwa berhasil masuk ke ELS di Salatiga, yang kemudian melanjutkan sekolahnya di HBS di Semarang pada 1908.

Memasuki usia remaja, Kwa terbang ke Belanda tepatnya tahun 1913. Di Belanda ia kembali menempuh pendidikan dengan duduk di bangku perkuliahan di Universitas Van Amsterdam, fakultas Kedokteran. Ia berhasil menyelesaikan masa kuliahnya dengan meraih gelar dokter pada tahun 1920.

dr. Kwa Tjoan Sioe, pendiri Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)
dr. Kwa Tjoan Sioe, pendiri Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)

Satu tahun setelah meraih gelar dokter, Kwa memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan bekerja di CBZ atau saat ini dikenal dengan nama RS Cipto Mangunkusumo selama kurang lebih 4 bulan. Tahun 1922, Kwa mendirikan praktek sendiri di Jalan Chaulan dengan tujuan membantu orang-orang yang tidak mampu, ibu hamil dan juga anak-anak.

Dua tahun setelah mendirikan prakteknya, Kwa bersama dengan Ang Yan Goan mendirikan Rumah Sakit Jang Seng Ie atau yang sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Husada. Saat itu posisi Kwa menjabat sebagai direktur utama.

Rumah sakit yang ia dirikan pun membawa dampak baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Bahkan pada masa revolusi kemerdekaan, rumah sakit Jang Seng Ie memiliki unit palang merah Jang Seng Ie. Berdirinya Rumah Sakit Jang Seng Ie ini pun menjadi wadah bagi para pengusaha Tionghoa di Jakarta dengan nama perkumpulan Jang Seng Ie.

Sejarah Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)
Sejarah Rumah Sakit Husada (doc: Rumah Sakit Husada)

Meskipun Kwa Tjoan Sioe merupakan warga keturunan Tionghoa, dirinya tak segan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Bahkan ia mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Sayangnya pada tahun 1926 Kwa dicurigai sebagai komunis. Kwa diduga besar terlibat dalam aksi pergerakan revolusi di Indonesia.

Tahun 1945, Kwa bersama dengan Ang Yan Goan memutuskan untuk bertemu dengan Presiden Soekarno dan juga Wakil Presiden Bung Hatta. Pertemuan tersebut pun dilakukan oleh segenap kabinet yang dilakukan di Pegangsaan Timur 56.

Tiga tahun setelah pertemuan dengan Soekarno, Kwa meninggal dunia pada usia 55 tahun. Sepanjang perjalanan hidupnya, Kwa tercatat pernah menikah sebanyak dua kali. Isteri pertama Kwa merupakan seorang wanita keturunan Belanda dan isteri keduanya adalah Li Mei.

Pada 1 Juni 1965 rumah sakit yang didirikan oleh Kwa bersama dengan Ang Yan Goan ini berganti nama dengan nama Rumah Sakit Husada. Perubahan nama ini pun diresmikan secara langsung oleh Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Rumah Sakit Husada pun ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Pusat bagian Utara oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1971. Di atas tanah seluas 66.764 m2, Rumah Sakit Husada telah membantu dan menolong jutaan nyawa dengan pelayanan yang memadai.

Sedikitnya Rumah Sakit Husada telah tercatat sebagai rumah sakit swasta percontohan untuk 16 pelayanan, yang meliputi: pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, rekam medis. pelayanan administrasi dan manajemen, pelayanan radiologi, pelayanan gizi, pelayanan intensif, pelayanan medik, pelayanan farmasi, pelayanan pengendali infeksi, pelayanan rehabilitasi medik, keselamatan kecelakaan kerja (K3), pelayanan perintal resiko tinggi (PERISTI), pelayanan darah, pelayanan laboratorium dan masih banyak lagi.

Meskipun rumah sakit ini telah berganti nama, tidak sedikit masyarakat sekitar yang juga paham sejarah masih menyebut Rumah Sakit Husada dengan nama Rumah Sakit Jang Seng Ie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here