Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia
Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia

25 Oktober 1995, kala malam langit mulai menghitam sebuah tragedi mencekam terjadi. Sebuah peristiwa yang tidak pernah terduga dan nyaris terlupakan. Tragedi Trowek, insiden kecelakaan kereta api Indonesia yang mengerikan terjadi.

Peristiwa mengerikan ini bermula dari Kereta Api Galuh yang menangani rute Jakarta (Pasar Senen) – Banjar mengalami kendala di Stasiun Cibatu. Masalah yang terjadi di rangkaian Kereta Api Galuh ini berdampak pada kereta lainnya yang sudah menunggu jadwal keberangkatan. Kereta itu adalah Kereta Api Kahuripan rute Bandung – Kediri.

Kendala itu pun memunculkan keputusan atas penggabungan gerbong antara Kereta Api Galuh dan Kereta Api Kahuripan. Penggabungan tersebut menghasilkan 2 lokomotif dan 13 rangkaian K3. Perjalanan dari penggabungan kereta ini pun dimulai. Rangkaian kereta harus melewati turunan yang memiliki perbedaan ketinggian. Mulai dari Stasiun Bumiwaluya atau Stasiun Malangbong hingga Stasiun Cipeundeuy yang memiliki ketinggian 772 mdpl.

Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia
Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia

Malam yang semakin gelap sekitar pukul 00:03 WIB, rangkaian kereta akan memasuki perlintasan curam guna mencapai Stasiun Cirahayu atau Stasiun Trowek. Untuk mencapai Stasiun Cirahayu (Trowek), rangkaian kereta harus melintasi Jembatan Trowek sepanjang 100 meter dengan rel menikung dan menurun.

Sebelum berhasil melintasi dan menuju ke Stasiun Cirahayu (Trowek), tragedi mengerikan itu pun terjadi. Kereta Api Kahuripan mengalami gagal rem atau rem blong. Kegagalan rem ini berakibat kereta melaju dengan sangat kencang dan tidak terkendalai. Akibatnya rangkaian kereta pun anjlok dan terguling ke sisi kanan dan kiri, hingga terperosok ke dalam jurang.

Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia
Tragedi Trowek, Kecelakaan Kereta Api Indonesia

Empat rangkaian kereta terlempar ke sisi kanan rel dengan rangkaian gerbong akhir berada di dalam jurang. Tiga rangkaian berada di atas rel dan lima rangkaian tidak berdampak insiden kecelakaan tersebut. Penumpang yang panik akibat guncangan itu pun melakukan tindakan nekat. Beberapa memaksakan diri untuk melompat dan keluar dari rangkaian yang ternyata di bawah sana adalah jurang sedalam 10 meter.

Sedikitnya 15 orang dinyatakan meninggal dunia dan 90 orang mengalami luka-luka. Kondisi korban meninggal dunia sangat memprihatinkan, sama halnya dengan tragedi bintaro yang terhimpit rangkaian kereta. Sayangnya pemberitaan tentang tragedi Trowek ini tidak sepopuler tragedi Bintaro, bahkan tragedi ini nyaris terlupakan oleh sejarah kecelakaan kereta api Indonesia.

Sejak insiden tersebut, jalur Bandung – Tasikmalaya dinyatakan sebagai jalur ekstrem. Bahkan jalur ini pun dianggap sebagai jalur uji coba bagi lokomotif baru yang akan memiliki rute lintasan pulau Jawa. Tragedi Trowek ini menjadi peringatan bagi sejumlah rangkaian kereta yang diwajibkan untuk berhenti di Stasiun Cirahayu, yang kemudian berlaku untuk pengecekan kondisi mesin kereta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here