Masih ingat dengan sebuah film anak Petualangan Sherina? Sebuah film yang populer terutama bagi generasi 1990’an ini sempat meramaikan bioskop Indonesia. Di perankan oleh Sherina Munaf (Sherina) dan Derby Romero (Sadam). Dari film ini, terdapat sebuah lokasi bersejarah yang menjadi tempat legenda pertemuan Sherina dan Sadam, yaitu Bosscha.

Observatorium Bosscha ini sempat menjadi tempat incaran generasi 90’an, khususnya penikmat film Petualangan Sherina. Dimana pada film anak ini digambarkan betapa indahnya tempat ini yang dapat melihat beraneka ragam bintang. Observatorium Bosscha terletak di Jalan Peneropongan Bintang No. 45, Lembang, Bandung, Jawa Barat.

Baca juga : Janur kuning Film Kolosal Terbaik Karya Sineas Indonesia

Dahulu tempat ini bukanlah bernama Observatorium Bosscha, melainkan Bosscha Sterrenwacht. Bangunan ini didirikan oleh Perhimpunan Bintang Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Tujuan dibangunnya tempat observasi bintang ini adalah untuk memajukan ilmu Astronomi di Hindia Belanda.

Karel Albert Rudolf Bosscha, ialah sosok yang mendanai proyek pembangunan tempat obsevarium terbesar di Indonesia. Karel merupakan seorang tuan tanah yang memiliki lahan perkebunan teh Malabar. Tidak hanya sebagai penyumbang dana utama saja, Karel bahkan turut memberikan bantuan berupa alat teropong bintang untuk Observatorium Bosscha.

Pembangunan Bosscha ini dimulai pada tahun 1923, yang jika di total memakan waktu 5 tahun untuk penyelesaiannya. Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 1928. Nama Bosscha yang dikenal saat ini diberikan kepada Karel Albert Rudolf Bosscha, sebagai penghargaan atas pembangunan tempat observatorium ini.

Karel Albert Rudolf Bosscha
Karel Albert Rudolf Bosscha

Tahun 1933, Observatorium Bosscha mulai di buka untuk publik. Masyarakat bebas datang dan berkunjung untuk mengenal bintang-bintang. Namun sayang, pembukaan secara publik ini tidak berlangsung lama. Hal ini disebabkan pecahnya Perang Dunia II, yang menyebabkan bangunan Bosscha ini mengalami kerusakan parah. Saat Perang Dunia II mulai berakhir, pembenahan dan renovasi pun mulai dilakukan. Masyarakat pun dapat kembali mengunjungi Bosscha untuk menambah ilmu tentang rasi bintang.

Tepat pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan kepemilikan Bosscha kepada Pemerintah Republik Indonesia. Delapan tahun berselang, sebuah perguruan tinggi di Bandung pun berdiri. Perguruan ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kemudian tempat observarium ini menjadi bagian dari ITB.

Bersama dengan Program Studi Astronomi dan FMIPA, Bosscha menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu Astronomi di Indonesia. Bosscha juga membuka kesempatan untuk berkolaborasi dan belajar untuk para pelajar di seluruh dunia. Tidak hanya itu saja, Bosscha bahkan menerima para mahasiswa maupun peneliti yang ingin belajar topik-topik non astronomi yang relevan.

Baca juga : Taman Ismail Marzuki – Dari Kebun Binatang Sampai Pusat Kesenian Kota Jakarta

Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Demikian juga lokasi Bosscha yang kemudian dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 2/1992, tentang Benda Cagar Budaya. Di tahun 2008 Pemerintah menetapkan Bosscha sebagai salah satu Objek Vital Nasional yang perlu diamankan. Sayangnya keberadaan Bosscha di Lembang ini mengalami sedikit gangguan. Berita tentang kepindahan Observatorium Bosscha dari Lembang ke Kupang pun santer diperbincangkan.

Dr. Mahasena Putra, selaku Kepala Observatorium Bosscha sempat mengajukan perpindahan lokasi tempat ini ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hal ini dikarenakan wilayah Lembang sudah tercemar dengan polusi, yang nantinya akan membahayakan Observatorium Bosscha.

Kupang dipilih sebagai tempat pindahan dari Observatorium Bosscha ini lantaran wilayah tersebut paling kering di Indonesia. Selain itu kecerahan langit di NTT jauh lebih terang dibandingkan Lembang. Kabarnya, Observatorium Bosscha akan berdiri di ketinggian 1,200 meter di atas permukaan laut.

Dengan perpindahan lokasi ini, diharapkan Indonesia bersama dengan Observatorium Bosscha bisa lebih baik lagi dan bisa menguasai bidang keantariksaan, yang kini sudah tertinggal jauh dari Negara-negara lain, seperti Thailand dan Eropa. Bagaimana pendapat kalian tentang pemindahan lokasi Observatorium Bosscha ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here