Banyak negara di seluruh dunia saat ini berlomba-lomba menciptakan vaksin untuk Covid-19, bukan bersaing keunggulan di antara mereka tetapi berpacu melawan waktu karena setiap hari ribuan orang tewas dan lebih banyak lagi jumlah kasus penularan baru di seluruh dunia.

Semakin lama vaksin ini ditemukan, semakin banyak korban yang jatuh. Pandemik Covid-19 juga melumpuhkan perekonomian dunia karena nyaris seluruh sektor usaha terdampak, bahkan usaha kecil menengah.

Kapan vaksin ini tersedia berdasarkan prediksi yang paling kredibel?

Menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Soemantri Brodjonegoro, pertanyaan itu tidak gampang dijawab, tetapi untuk Indonesia paling cepat vaksin ini baru bisa mulai diproduksi — bukan didistribusi — pada Maret tahun depan.

“Memang kalau sudah bicara mengenai vaksin, ini yang paling sulit di dalam penanganan penyakit menular,” kata Bambang dalam program Special Interview with Claudius Boekan, Beritasatu TV, tayang Jumat (15/5/2020) malam.

“Bahkan kalau kita melihat sejarah penyakit menular lain yang pernah ada di muka bumi ini, ada beberapa yang sampai hari ini belum ada vaksinnya, contohnya HIV,” imbuhnya.

Namun, kalau HIV sudah mulai ditemukan obat yang diklaim cukup ampuh, maka untuk Covid-19 obatnya juga belum ada. Inilah yang membuat tekanan pada para ahli mikrobiologi dan virology menjadi makin berat.

Tidak seperti HIV atau penyakit infeksi lainnya di era modern ini, Covid-19 memiliki daya transmisi yang sangat dahsyat, karena sejak mulai mewabah di Tiongkok pada akhir Desember 2019, sekarang sudah menginfeksi lebih dari 4 juta orang dan menewaskan lebih dari 300.000 orang di seluruh dunia. Tidak mengenal umur, jenis kelamin, ras, dan kondisi fisik.

Covid-19 menular tanpa aktivitas yang dinilai berisiko menurut protokol kesehatan yang lama. Orang bisa tertular oleh penderita yang batuk di dekatnya, atau menyentuh gagang pintu atau saklar lampu yang terkontaminasi, atau bersalaman dengan penderita.

Semua orang bisa tertular tanpa menyadarinya, karena si pembawa virus kadang-kadang tidak memiliki gejala dan dia sendiri tidak menyadari telah terjangkit.

Kenapa Maret?
Prediksi Bambang bahwa purwarupa vaksin baru bisa ada paling cepat Maret 2021 didasarkan pada penelitian yang dilakukan Lembaga Eijkman, yang sudah meneliti virus corona sejak pertama kali terdeteksi di Indonesia.

“Khusus di Indonesia, bulan Maret ketika pertama kali Covid-19 merebak, dan kami mulai membentuk konsorsium riset dan inovasi untuk Covid-19, saya bicara langsung dengan Kepala [Lembaga Biologi Molekuler] Eijkman Profesor Amin Subandrio yang sudah bisa melakukan penelitian di bidang vaksin,” kata Bambang.

“Beliau mengatakan sebenarnya kalau mengikuti protokol standarnya itu akan memakan waktu bertahun-tahun. Tapi kebetulan di lembaga Eijkman ini mereka sudah punya pengalaman melakukan penelitian terkait virus corona,” imbuhnya.

Sebelum wabah Covid-19, Lembaga Eijkman sudah meneliti virus corona jenis lain yang ditemukan pada penyakit-penyakit sebelumnya.

“Jadi dengan basis pengalaman di penelitian corona yang lain ditambah dengan pengetahuan mengenai Covid-19, waktu itu kepala Eijkman mengatakan paling cepat satu tahun,” kata Bambang.

Jangka waktu itu pun sudah mengesampingkan protokol standar yang butuh waktu lebih lama lagi.

Saat ini sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat sudah menguji coba vaksin Covid-19 kepada manusia, tetapi Bambang tidak melihatnya sebagai sinyal bahwa vaksin yang ampuh bisa tersedia tahun ini.

“Uji klinis ini bukan hal yang gampang yang bisa selesai dalam waktu satu-dua hari atau satu minggu. Ini bisa makan waktu panjang sekali,” jelasnya.

“Kalau mengikuti apa yang disampaikan Profesor Subandrio, satu tahun. Waktu itu kita bicara bulan Maret, berarti Maret tahun depan paling cepat,” kata Bambang yang memimpin semua aspek riset dan pengembangan untuk vaksin, obat dan juga produksi alat kesehatan terkait Covid-19.

Bambang mengatakan proyeksi Maret itu adalah menyiapkan purwarupa vaksin, bukan produksi massal.

“Tugas berat berikutnya adalah memproduksi vaksin tersebut. Dan jangan lupa negara kita negara besar sehingga kalau pun nanti ada vaksin ditemukan, apakah di Indonesia atau atau di luar, mau tidak mau PT Biofarma harus punya kemampuan untuk memproduksi vaksin dalam jumlah besar supaya bisa segara didistribusikan kepada masyarakat,” kata Bambang.

Vaksin Varian Indonesia
Bambang juga memberi sinyal bahwa ada kemungkinan vaksin Covid-19 di Indonesia punya perbedaan dengan vaksin serupa di negara lain karena karakter virus yang berbeda.

“Untuk bisa menentukan karakter dari virus Covid-19 dilakukan proses namanya whole genome sequencing. Di whole genome sequencing ini kebetulan yang dari Indonesia pertama kali di-submit oleh Lembaga Eijkman — dengan tiga genome sequencing — tiga-tiganya kebetulan berasal dari pasien yang berada di wilayah Jabodetabek yang mempunyai viral load (konsentrasi kasus infeksi virus) yang tinggi,” kata Bambang.

Sampel itu lantas dikirim ke GISAID atau Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data — lembaga global yang awalnya dibentuk untuk saling membagi data penyakit flu burung yang kebetulan juga diakibatkan oleh virus corona tipe lain. GISAID sekarang menjadi wadah untuk berbagi data tentang berbagai virus jenis baru di seluruh dunia.

“Ternyata strain yang disampaikan oleh Eijkman, tiga yang pertama itu, tidak masuk tiga kategori utama yang sudah terdefinisi yaitu kategori S, kategori G, dan kategori V,” kata Bambang.

“Satu lagi ada kategori O, sebetulnya [artinya] others, atau lain-lain. Nah kebetulan tiga yang dari Indonesia itu masuknya ke yang lain-lain,” kata Bambang.

Dijelaskan lebih jauh bahwa dari strain kategori itu analisis awalnya terkait dengan virus yang ada di Asia Selatan dan Asia Timur.

“Nah kalau Asia Timur kan terkait juga dengan China. Jadi itu karakter sementara. Tapi tiga genome sequencing tentunya tidak cukup, karenanya Eijkman menargetkan 100 nantinya, sambil berjalan,” kata Bambang.

Selain Eijkman, Universitas Airlangga di Surabaya juga sudah mengirim genome sequencing yang sebagian masuk kategori O juga.

Sampai dengan 15 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menerima delapan kandidat vaksin Covid-19 yang saat ini telah memasuki tahap uji klinis. Sedikitnya empat kandidat vaksin tersebut dikembangan oleh Tiongkok, dan satu dari Universitas Oxford, Inggris.

Sedangkan untuk vaksin yang masih dalam tahap pra-uji klinis, jumlah yang didaftarkan ke WHO sudah mencapai 100 lebih.

Berikut daftar delapan kandidat vaksin yang sudah di tahap uji klinis dan masih memakai terminologi teknis dari WHO:

(sumber : WHO)

 

(sumber : Beritasatu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here