Panbers, sebuah kelompok band musik yang beranggotakan kakak-beradik dari keluarga Pandjaitan. Sebuah grup band yang lahir pada era 1969 ini dikenal sebagai Pandjaitan Bersaudara oleh masyarakat Indonesia. Kemunculannya pada era 1969 hingga eksis pada tahun 1970-an ini tidak serta merta meraih kesuksesan dengan mudah. Di awal kemunculannya, Panbers sempat menjadi band yang dipandang sebelah mata oleh sekelompok musisi senior yang lahir lebih dulu dibandingkan Pandjaitan Bersaudara ini.

Bermula dari kota Palembang pada tahun 1960-an, Benny Pandjaitan sang penggagas sebuah grup musik mulai berdiri dengan nama Tumba Band. Nama ini diambil dari bahasa Batak, yang berarti irama menari.

Baca Juga : Shampoo – Duet Manis Gadis Cantik Era 1990-an Dengan Lagu Hits ‘Trouble’

Benny yang lahir dari keluarga yang cinta akan dengan musik ini pun pindah ke sebuah kota di Jawa Timur, tepatnya Surabaya. Sejak saat itu, Benny bersama dengan para saudaranya membentuk sebuah grup band baru dengan nama Panbers. Sang Ayah yang notabene bekerja sebagai dirut Bank Rakyat Indonesia ini tidak lantas mendukung kegiatan anak-anaknya untuk bermusik dalam segi finansial.

Panbers
Panbers

Tak gentar tanpa dukungan finansial dari sang ayah, Benny Pandjaitan bersikukuh dengan grup yang dibuatnya. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1970-an awal, Panbers memiliki anggota tetap. Mereka adalah Hans (gitar), Benny (lead vocal, gitar), Doan (vocal, bass), dan Asido (drum). Band ini pun beranggotakan kakak-beradik yang gemar bermusik, hingga dikenal sebagai Pandjaitan Bersaudara.

Nama Panbers pun diambil untuk grup mereka yang memiliki arti kakak-beradik keluarga Pandjaitan. Sementara untuk huruf ‘S’ yang digunakan pada akhir nama ini terinspirasi dari musisi-musisi luar negeri, seperti The Beatles, The Bee Gees, dan The Rolling Stones.

Pada mulanya, Panbers hanya tampil sebagai band pengiring di acara pernikahan, pesta sekolah, hingga di kolam renang Tegal Sari. Kehadiran Panbers ini tidak lepas dari sosok musisi Koes Plus sebagai musisi yang menginspirasi dari Pandjaitan Bersaudara. Di sela-sela penampilannya, Pandjaitan Bersaudara ini menyempatkan diri untuk menyaksikan penampilan Koes Plus saat menghadiri pertunjukan di Surabaya.

Memasuki tahun 1970-an, keluarga Pandjaitan pindah ke Jakarta. Selama kepindahannya ke Ibukota, Panbers pun berhasil menciptakan sebuah lagu berjudul ‘Akhir Cinta’. Lagu ini merupakan lagu pertama yang berhasil diciptakan dan dibawakan langsung di Panggung Taman Ria Monas.

Berasal dari daerah dan hijrah ke Ibukota, Panbers pun dicap sebagai band kampungan hingga dipandang sebelah mata oleh sesama musisi saat itu. Hal ini lantaran kebanyakan band yang hadir di era 1970-an cenderung membawakan lagu-lagu dari musisi mancanegara, sementara Panbers bersikukuh dengan membawakan lagu-lagu milik sendiri dengan lirik Indonesia.

Cacian dan makian itu tak lantas membuat Panbers gentar. Dengan label yang dinilai tak pantas itulah Panbers membuktikan dengan karya dan prestasi yang lebih besar lagi. Panbers merilis album pertamanya dengan tajuk ‘Kami Tjinta Perdamaian’. Album ini sukses dan di terima baik oleh pecinta musik, khususnya musik Indonesia. Dengan album pertama dan lagu ‘Akhir Cinta’, Panbers berhasil menjadi band pembuka dari koser The Bee Gees di Jakarta tahun 1974.

Baca Juga:Tribute To Dian Pramana Poetra, Aksi Musisi Senior Mengenang Sang Legenda

Sejak saat itulah nama Panbers berhasil sejajar dengan musisi idolanya, Koes Plus. Namanya kian bersinar di belantika musik Indonesia sebagai pelopor musik pop Indonesia kala itu. Kesuksesan yang berhasil di raih oleh Panbers tak lepas dari peran Dick Tamimi dengan label rekamannya Dimita Moulding Industri.

Panbers mengudara dan naik daun dengan kaya-karyanya yang selalu menjadi hits. Lagu-lagu hits yang berhasil menjadi lagu favorit hingga mendapatkan piringan emas antara lain, Bebaskan (1975), Nasib Cintaku (1976), Musafir (1978), Kasihku (1979), Gereja Tua (1986), Cinta dan Permata (2001).

Kepergian Benny, Hans, dan juga Doan Pandjaitan, kini perjalanan Panbers sebagai musisi legendaris Indonesia sudah mencapai titik regenerasi kepada anak-anak dari para personil asli Panbers. Sejak tahun 1998, The Boss sebagai bentuk regenerasi dari Panbers pun dibentuk. Beranggotakan Dino Pandjaitan putra mendiang Benny, Panya Pandjaitan putra mendiang Hans, dan juga Bambang Rahmadi serta Jetro Pelenkahu.

Meski demikian, kiprah Panbers sebagai band penggagas musik Indonesia ini tidak terlupakan dari generasi ke generasi. Lahir dengan penuh cacian dan penolakan, Panbers berjaya dengan segala macam perjuangan dan mempertahankan citra musik Indonesia bagi para pendengar sejati musik-musik Panbers.

Panbers musisi Indonesia yang bangga bermusik dengan karya sendiri, berbahasa Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here