Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai kota budaya. Selain tradisinya yang masih kental, Solo juga memiliki potensi wisata yang cukup besar. Destinasi wisata unggulan di Solo berupa sejarah hingga budaya.

Solo juga dikenal dengan industri batiknya yang sangat pesat. Wisata di Solo ada banyak pilihan tempat berburu oleh-oleh batik. Mulai dari batik di butik hingga kualitas pasar tradisional. Untuk urusan harga batik bisa dibanderol mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Nah, jika Anda berkantong tipis dan ingin mencari oleh-oleh aneka batik, Pasar Klewer bisa menjadi pilihan. Pasar Klewer sendiri sangat dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil batik serta produknya.

Pasar Klewer merupakan kebanggaan masyarakat Solo yang selalu ramai dipenuhi wisatawan yang ingin berburu batik. Terletak di Jl. Dr. Radjiman Solo, tidak jauh dari alun-alun kota Solo.

Di Pasar Klewer ini tersedia berbagai macam jenis batik. Di antaranya batik tulis solo, batik cap, batik antik keraton, batik pantai keraton solo dan batik putri solo. Selain itu, ada berbagai jenis batik dari Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi dan kota-kota lainnya. Di pasar ini juga tersedia kain batik untuk baju, seprai, sarung bantal dan aksesori-aksesori bermotif batik.

Asal Usul Pasar Klewer

Pasar Klewer Solo sudah ada sejak tahun 1942 dan hingga sampai saat ini merupakan pusat pembelian bahan kain dan busana batik. Para pembeli datang dari berbagai penjuru kota seluruh Indonesia. Nyaris seluruh jenis batik ada di sini. Sejarahnya yang panjang dan namanya yang sangat terkenal itu tak pelak membuat Pasar Klewer menjadi salah satu ikon kota Solo.

Sebutan nama Pasar Klewer bermula dari zaman pendudukan Jepang. Ketika itu daerah sekitar Pasar Klewer merupakan tempat pemberhentian kereta api yang digunakan oleh penduduk untuk berdagang yang dikenal dengan nama Pasar Slompretan. Slompetan berarti terompet.

Pasar Slompretan ini tempat jual beli kain batik. Kala itu belum ada kios. Para pedagang menjual batik dengan menaruh kain dagangan mereka di atas pundak sehingga tampak kleweran. Dalam Bahasa Jawa kleweran berarti menjuntai tidak beraturan. Lama-lama pasar itu pun dikenal dengan nama “Pasar Klewer.”

 

(sumber : tagar.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here