Seringkali beberapa masyarakat menganggap bahwa perokok kretek adalah kelas rendah, perokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) kelas menengah dan perokok SPM (Sigaret Putih Mesin) adalah kelas atas, maka disitulah persepsi anda harus segera diakhiri. Pilihan rokok ada pada rasanya dan tidak bisa dijadikan patokan kelas. Banyak orang masih memiliki pemikiran sempit dalam mengkategorikan strata ekonomi dari jenis rokok yang dihisap. Padahal persepsi itu tidak diketahui dari mana asalnya.

Beberapa alasan rokok kretek dianggap kuno karena cara pembuatannya masih tradisional dengan menggunakan tangan hingga penyajiannya yang hanya menggunakan bungkus kertas tanpa frame. Dibanding dengan rokok SGP atau rokok putih yang lebih berkelas, higienis, serta diproduksi secara modern karena menggunakan teknologi termutahir yang menghasilkan produk yang berkualitas. Dan yang paling terlihat perbedaannya adalah selisih harga rokok putih dengan rokok kretek yang terpaut cukup jauh.  Saat ini rokok putih “merk Premium” seperti Marlboro, Camel atau Lucky Strike memiliki range harga pada kisaran Rp 25.000 – Rp 32.000, sementara rokok kretetk merek terkemuka seperti Dji Sam Soe dan Djarum Coklat hanya dibandrol dengan harga Rp 14.000 – Rp 21.000.

Namun selisih harga dan cara produksi tetap tidak masuk akal jika dijadikan indicator yang mendukung pikiran salah tersebut. Pilihan rokok dasarnya merupakan masalah selera pribadi yang relatif dan tidak bisa dipukul rata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here