Tidak semua siswa memiliki Android maupun paket internet untuk mengikuti pembelajaran daring akibat Covid-19. Mereka pun terpaksa harus numpang untuk belajar.

Misalnya Diana. Warga RT 02, RW 01, Kelurahan Kelapa Lima Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, membutuhkan biaya lebih untuk membeli paket internet agar kedua anaknya yang duduk di bangku SMP dan SMA, bisa belajar dari rumah.

Setiap minggu, Diana mengaku harus membeli paket data senilai Rp75.000 untuk satu orang anak. Sementara ia seorang ibu rumah tangga dan suaminya hanya seorang tukang ojek yang pendapatannya tidak menentu di tengah pandemi.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak, Diana harus pintar-pintar membagi uang hasil ojek dari sang suami.

Kondisi yang sama dirasakan orangtua dan puluhan anak di sekitar wilayah tersebut. Beberapa anak terpaksa menumpang WiFi di rumah Bripka Thomas Radiena, anggota Propam Polres Kupang Kota.

“Saya kaget saat pulang kantor, ada puluhan anak duduk di pinggir pagar rumah saya mencari WiFi untuk mengerjakan tugas sekolah,” ujar Bripka Thomas, Minggu (2/8).

Karena prihatin, Bripka Thomas kemudian berdiskusi dengan sang istri, Ratna Radiena yang juga seorang pendeta dan tahu benar soal kesulitan anak-anak di sekitar tempat tinggal mereka.

Pasutri ini kemudian bersepakat menyiapkan WiFi gratis bagi anak-anak sekitar tempat tinggal mereka. Mereka memperbolehkan anak-anak usia sekolah memakai WiFi di rumah.

Namun untuk ketertiban dan tidak salah digunakan, maka anak-anak hanya dibatasi menggunakan WiFi antara pukul 08.00 wita hingga pukul 12.00 wita.

“Kami sengaja membatasi jam penggunaan WiFi agar anak-anak memanfaatkan WiFi ini hanya untuk kegiatan belajar,” ujar Bripka Thomas.

Bagi anak-anak yang tidak memiliki android, Bripka Tomas dan Ratna menyiapkan laptop serta meminjamkan handphone milik mereka. “Biar anak-anak bisa mengerjakan tugas sekolah dengan baik,” tambahnya.

Bripka Thomas dan Ratna juga mewajibkan anak-anak yang menggunakan WiFi di rumah, untuk memakai masker. Mereka juga membagikan masker bagi anak-anak yang tidak memiliki masker.

Selain fasilitasi untuk cuci tangan, pasutri ini meminjamkan teras rumah, halaman dan ruang perpustakaan untuk dipakai anak-anak saat belajar secara online.

Kebijakan menyiapkan WiFi gratis disambut gembira para tetangga dan warga di sekitar tempat tinggal Bripka Thomas dan Pendeta Ratna.

“Terima kasih karena kami sudah terbantu. Kami tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk beli quota internet,” ujar Siti Kadijah (35), salah satu warga sekitar.

Siti mengaku, ia sangat terbantu karena anak-anaknya bisa bersekolah secara online dan gratis menggunakan WiFi dirumah Bripka Thomas dan Pendeta Ratna

Bangun Rumah Baca

Sejak tahun 2018, memanfaatkan sebuah ruangan kecil di teras rumahnya, Bripka Thomas juga merintis dan membangun rumah baca yang diberi nama “Batu Piak”.

Rumah baca itu bukan hanya untuk anak-anak usia sekolah, tetapi orangtua yang berprofesi sebagai nelayan juga memanfaatkan rumah baca tersebut untuk membaca.

“Saya melihat banyak anak-anak yang putus sekolah sehingga saya bersama istri sepakat untuk membuka rumah baca,” terangnya.

Jebolan Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini mengaku, dengan adanya rumah baca anak-anak sangat antusias untuk membaca.

Rumah baca Batu Piak memiliki misi membangkitkan dan meningkatkan minat baca anak-anak sehingga tercipta masyarakat yang cerdas dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu, menjadi wadah kegiatan belajar masyarakat teristimewa anak usia sekolah dan memberantas buta aksara.

Ia menambahkan, rumah baca yang dibangun bersama istrinya itu, bertujuan menumbuhkan minat baca guna memperkaya pengalaman belajar bagi warga khususnya anak usia sekolah agar bisa terhindar dari tindakan kriminalitas.

 

Sumber: Merdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here