Mendengar nama Roti Bakar Eddy tentu sudah tak asing lagi di telinga. Tempat kuliner yang menjual beraneka ragam roti bakar ini pun tersebar disegala pelosok kota. Roti Bakar Eddy dinobatkan sebagai pelopor dari munculnya kuliner roti bakar kekinian yang dicintai semua kalangan.

Sosok dibalik kesuksesan Roti Bakar Eddy tak lain dan tak bukan adalah Eddy Supardi. Kedai pertama yang didirikan oleh Eddy terletak di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Eddy mendirikan tempat usaha kulinernya ini sejak tahun 1971. Maka bagi generasi 1970-an tak akan asing dengan menjamurnya kedai-kedai Roti Bakar Eddy saat ini.

Eddy Supardi, Pendiri Roti Bakar Eddy

Pria yang berasal dari Solo, Jawa Tengah ini mulanya merantau ke Jakarta pada tahun 1966. Eddy pun bekerja dengan orang lain yang menjual roti bakar kaki lima. Dengan membantu dan menjadi karyawan roti bakar kaki lima itulah Eddy mendapat upah, yang kemudian ia kumpulkan sedikit demi sedikit.

Eddy kembali pulang ke kampung halamannya, Solo, Jawa Tengah. Hingga uang modal untuk mendirikan usaha itu pun membawanya kembali ke Jakarta. Eddy memutuskan untuk berjualan sendiri. Ia memilih untuk berjualan lontong sayur dan bubur ayam. Eddy menjajakan dagangannya di wilayah Blok M, tepatnya di dekat Universitas Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Saat berjualan, Eddy hanya menggunakan gerobak dorong yang setiap hari mengharuskan Eddy berkeliling dan kadang menetap di belakang Universitas Al-Azhar. Namun, karena pelanggan Eddy sangat banyak muncullah laporan dan kehadiran para petugas keamanan dan ketertiban kota (kamtib) yang mengusirnya. Kehadiran Eddy dengan gerobak dorongnya dianggap mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga sekitar.

Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1971, Eddy memutuskan untuk beralih dari lontong sayur menjadi roti bakar. Hal ini berkat bekalnya sewaktu menjadi karyawan usaha roti bakar saat itu. Bermodalkan yang pas-pasan, Eddy pun memberanikan diri untuk mencoba menjual roti bakar kaki lima.

Pelanggan pun mulai berdatangan, roti bakar kaki lima milik Eddy pun mulai dikenal. Pundi-pundi rupiah pun kembali ia kumpulkan untuk membesarkan usahanya tersebut. Sekitar tahun 1980-an Eddy pun mengalami krisis dan kerugian yang cukup besar. Hal ini disebabkan dengan peraturan pemerintah yang melarang untuk tidak pergi keluar rumah setelah pukul 21:00 WIB. Larangan ini pun muncul karena beberapa waktu yang lalu sempat terjadi kerusuhan yang cukup besar disekitar wilayah Blok M.

Hingga pada akhirnya Eddy membuka kedai resmi permanen pertamanya di kawasan Blok M, tepatnya dibelakang Universitas Al-Azhar. Nama kedai yang digunakan Eddy tak lain adalah Roti Bakar Eddy yang kini sudah melegenda. Penamaan tersebut muncul berkat kaum muda mudi yang sering menyebut roti bakar kaki lima Eddy dengan sebutan ‘Roti Bakar Eddy.

Kini, Roti Bakar Eddy sudah menjadi pelopor berdirinya kedai roti bakar yang sukses. Hal yang membedakan Roti Bakar Eddy dengan roti bakar ditempat lain terletak pada roti yang digunakan. Eddy mengklaim bahwa pemakaian roti pada kedainya ini memakai roti yang diproduksi sendiri olehnya, sehingga cita rasa, tekstur dan ukurannya tetap terjaga keasliannya. Eddy juga tidak menggunakan bahan pengawet tambahan pada racikan pembuatan rotinya.

Selain menggunakan roti buatan sendiri, ciri khas lain yang ditawarkan oleh Roti Bakar Eddy terletak pada ukuran roti yang cukup besar, dan juga keseimbangan antara rasa manis dan topping yang disajikan. Roti Bakar Eddy kini sudah bisa dinikmati diberbagai daerah, diantaranya Depok, Bogor, Cibubur, Bintaro, dan beberapa wilayah di Jakarta.

Usaha yang didirikan oleh Eddy Supardi kini sudah beralih tangan ke anak-anaknya, mereka adalah Ariyadi dan Risdiyanti. Pada tanggal 10 Oktober kemarin, kabar duka pun menyelimuti keluarga besar dari kedai Roti Bakar Eddy. Sang pendiri dan pemilik, Eddy Supriadi dikabarkan meninggal dunia. Eddy meninggal dunia di Rumah Sakit Mayapada pukul 17:00 WIB.

Kelanjutan dari usaha Roti Bakar Eddy ini pun dilanjutkan oleh kedua anaknya. Kini, Roti Bakar Eddy bukanlah kuliner kaki lima, melainkan kedai roti bakar yang nyaman dan terbilang mewah. Dalam satu hari, Roti Bakar Eddy berhasil menjual 500-600 porsi untuk hari biasa, dan 750-800 porsi untuk hari libur atau weekend. Roti Bakar Eddy mulai beroperasi dari jam 18:00-02:30 WIB untuk hari kerja, dan pukul 18:00-03:00 WIB dihari libur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here