Nasib malang dialami Planetarium, wahana yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1968 ini mulai kurang diminati, dan seolah sudah kehilangan pengunjungnya. Bagi sebagian masyarakat sarana di Planetarium tidak lebih menarik dari wahana-wahana modern dan menghibur yang ada di Jakarta sekarang ini.

Ternyata, ada hubungannya dengan pengunjung Planetarium yang sudah jarang terlihat lagi, karena kabar yang santer berhembus Planetarium memiliki kendala dalam hal pemeliharan alat. Sebagian alat di Planetarium tidak pernah diganti, padahal peralatan tersebut semestinya dipakai hanya selama 15 tahun. Kondisi seperti ini tentunya berdampak pada berkurangnya pertunjukkan yang bisa digelar.

Makin lama, alat-alat di Planetarium sudah semakin tua dan memang butuh perawatan khusus. Diakui oleh Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukkan dan Publikasi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Eko Wahyu Wibowo, Planetarium mengalami pengurangan waktu pertunjukkan digelar hanya dua kali sehari.

Juga dijelaskan bahwa perusahaan Carl Zeiss Jerman yang biasa menjual dan merawat suku cadang Planetarium dan Observatorium Jakarta, menolak untuk memberikan pelayanan lagi sejak tahun 2015. Adanya masalah dengan PT lain yang berefek pada eksistensi Planetarium yang ada di kawasan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Saat ini, ada delapan teknisi Planetarium dan Observatorium Jakarta yang terus mengusahakan merawat sendiri dan mengganti komponen yang rusak dengan suku cadang kompatibel. Sementara, BUMD PT Jakpro sedang mendalami proses pembahasan revitalisasi yang akan dilaksanakan tahun 2020. Mereka sedang menyusun kebutuhan-kebutuhan untuk diselesaikan pada Juni 2021, agar alat kembali sehat dan umur Planetarium sebagai destinasi wisata yang bisa memberikan ilmu tentang luar angkasa bisa kembali panjang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here