Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar jalur zonasi diprioritaskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). KPAI menilai sistem zonasi sekolah dapat menekan angka tawuran pelajar.

“Anak tidak perlu sekolah jauh-jauh itu akan menurunkan angka tawuran yang awalnya dari saring melototi siswa sekolah lain,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyanti, dalam konferensi video, Kamis, 11 Juni 2020.

Selain itu, KPAI juga menilai sistem zonasi bakal menghilangkan kekerasan di sekolah. Sebab, lingkungan sekolah bakal diisi oleh siswa yang tinggal berdekatan.

“Angka kekerasan juga akan turun. Ya kerena isi sekolah adalah tetangganya sendiri,” ucapnya.

Penerapan sistem zonasi juga memberikan akses kepada seluruh anak Indonesia untuk menikmati pendidikan yang berkualitas tanpa batas status sosial, ekonomi, dan nilai ujian nasional.

Sistem itu akan menghilangkan status sekolah negeri favorit dan non-favorit dan selanjutnya diharapkan bisa memeratakan kualitas pendidikan di semua sekolah negeri. Hal ini baik untuk memacu optimalisasi siswa antar sekolah.

“Jadi biarlah lebih baik sekolah terbaik itu memiliki kualitas mereka masing-masing, keunggulan masing-masing. Misal sekolah ini isinya jago musik, jago nulis, ya tidak masalah,” terang Retno.

Zonasi juga akhirnya mendukung satu wilayah untuk peduli pendidikan. Menyadari di wilayahnya tak ada sekolah negeri, pemerintah setempat pun tampak bergegas mendirikan layanan pendidikan.

“Lalu yang terjadi di wilayah baru pemukiman baru, misal pemerintah kota Bekasi bikin sekolah baru bahkan ada tujuh di tiga tahun terakhir. Jumlah sekolah bertambah, akhirnya wilayah lebih peduli pendidikan,” tutupnya.

 

Sumber : medcom.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here