Mungkin karena dahulu tak ada pilihan sajian informasi, nama pemain tenis berambut pirang ini begitu tersohor di layar kaca. Anda yang besar di era 80-an, tentu hafal betul nama Steffi Graf kerap disebut dalam warta olahraga pada tayangan Dunia Dalam Berita di TVRI.

Baca juga: Dunia Dalam Berita TVRI – Siaran Informasi Plus “Jam Malam” Buat Anak-Anak

Perisnya tahun 1988, merupakan tahun bersejarah bagi wanita yang berasal dari Jerman, Steffanie Maria Graf. Tak tanggung-tanggung, ia memenangi 24 pertandingan sekaligus secara berturut-turut. Ya, dia adalah Steffi Graf, juara dunia tenis wanita terbaik sepanjang masa.

Bermula dari masa-masa kecilnya yang tertarik dengan bidang olahraga tenis. Steffi Graf kecil mencoba untuk berlatih dan bermain tenis. Saat itu usianya baru saja menginjak tiga tahun, yang memiliki harapan untuk bisa dilatih langsung oleh sang Ayah, yang juga merupakan pemain tenis nasional, Peter Graf.

Ketertarikan Steffi Graf pada tenis di usia dini ini tak mendapat respon baik dari sang Ayah. Ia tak menyerah, dan terus berlatih untuk membuktikan kepada sang Ayah bahwa dirinya bisa dan mampu bermain tenis seperti sang Ayah. Di kediamannya yang terletak di kota Mannheim, Jerman Barat, Steffi Graf berlatih sendirian dengan bantuan sebuah kursi dan juga tali yang digunakan sebagai net.

Steffi Graf dan Peter Graf (Source: Steffi-Graf.net)

Kegigihannya dalam berlatih tenis akhirnya meluluhkan hati sang Ayah, Peter Graf. Pada usia lima tahun, Steffi Graf pun berada ditangan yang tepat. Ia berhasil menjadi pemain tenis junior paling tangguh di Jerman. Sang Ayah, Peter Graf pun melatih putrinya untuk terus bermain tenis dengan teknik yang benar dan tepat.

Saat usia Steffi Graf genap enam tahun, ia berhasil membawa pulang trofi pertamanya. Hal ini pun membuat sang Ayah memutuskan untuk berhenti dari karirnya, dan fokus untuk melatih putrinya, Steffi Graf. Memasuki usia 13 tahun, Steffi Graf berhasil menjuarai tenis junior di Jerman. Namanya pun tercatat sebagai pemain tenis termuda kedua, yang berhasil menempati peringkat ke-214 untuk skala Internasional.

Pemain tenis kelahiran 14 Juni 1969 ini pun tidak serta merta puas dengan hasil tersebut. Steffi Graf kecil tak ingin berhenti sampai disitu saja, ia bertekat untuk menjadi sang juara. Bersama dengan sang Ayah, Steffi Graf terus berlatih dengan giat. Memasuki masa remaja, tepatnya pada tahun 1988, namanya pun masuk ke dalam daftar pemain tenis terbaik dunia. Steffi Graf menempati posisi ke-3 dunia berkat kemenangannya dalam 24 pertandingan secara berturut-turut.

Mendapatkan posisi ke-3, tak lantas membuat Steffi Puas dengan hasil yang sudah ia capai. Ia ingin menjadi sang juara dalam laga Grand Slam. Keinginannya pun terjawab satu tahun kemudian, Steffi Graf berhasil menjuarai Jerman Terbuka setelah mengalahkan lawannya, Navratilova. Berkat kemenangannya ini juga nama Steffi Graf naik ke peringkat 2 dunia, dan juga sebagai petenis termuda yang menjuarai Jerman Terbuka. Ia juga berhasil menjuarai pertandingan Grand Slam diberbagai Negara, seperti Australia, Prancis, Amerika, dan Wimbledon.

Tahun 1999, Steffi Graf memutuskan untuk pensiun dari dunia olahraga tenis. Dirinya memutuskan untuk menikah dengan rekan sesama pemain tenis kawakan yang juga sudah pensiun, Andre Agassi. Keduanya menikah pada 22 Oktober 2001, yang saat ini sudah dikaruniai dua orang anak bernama Jaden Gill dan Jaz Elle. Kehidupan Steffi Graf setelah menikah jarang sekali tersorot oleh kamera media. Hal ini memang disebabkan oleh keduanya yang tidak ingin terbuka kepada publik tentang urusan pribadinya.

Steffi Graf (Source: Steffi-Graf.net)

Selama berkarir sebagai pemain tenis wanita, Steffi Graf sudah mengantongi sedikitnya 107 gelar untuk kategori nomor perorangan. Namanya pun tercatat sebagai peringkat pertama Women’s Tennis Association (WTA) terlama diantara para petenis wanita maupun pria lainnya. Tercatat 377 pekan lamanya nama Steffi Graf berada di posisi puncak.

Baca juga: Sejarah Singkat Asian Games

Salah satu hal yang dikenal dan membuat Steffi Graf menjadi sang juara dunia adalah pukulan inside-out forehand yang begitu keras dan cepat. Nama Steffi Graf juga diabadikan pada Hall of Fame Tenis International pada tahun 2004.

Orang yang paling berjasa terhadap karir dan permainan Steffi Graf, yakni sang Ayah Peter Graf yang meninggal dunia pada tahun 2013 lalu. Pelatih, manager dan juga merupakan Ayah dari Steffi Graf meninggal dunia di usia 75 tahun dikarenakan kanker pankreas yang di deritanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here