Menghabiskan waktu libur dengan cara berkunjung ke tempat sejarah mungkin terdengar kuno, ngga asik, monoton dan terkesan ketinggalan jaman. Berbeda dengan saya yang lebih memilih kegiatan monoton itu untuk menikmati hari libur. Wisata Kota Tua, tempat wisata yang kali ini saya pilih untuk berlibur melepas penat.

Berangkat menggunakan kereta api, dan berhenti di Stasiun Kota yang langsung disuguhkan dengan desain tua khas Belanda pada bangunan Stasiun Kota. Saya selalu jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan hal-hal seperti ini, nuansa jadul yang kental.

Memasuki kawasan Kota Tua tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Masih sama seperti dua tahun lalu saat berkunjung ke tempat ini bersama dengan seseorang, mantan kekasih. Ya, dulu saya pergi ke tempat ini, bersama dia yang sekarang sudah bersama orang lain.

Dulu, ketika saya masih berpacaran dengan dia kami sering sekali menghabiskan waktu bersama. Entah hanya sekedar nonton film dari dvd, atau pergi ke mal untuk sekedar cuci mata. Tapi bagi saya, berlibur ke Kota Tua kala itu terasa spesial dan penuh makna. Saat berlibur bersama dia ke Kota Tua, kami berdua mulai berkeliling menyusuri tiap tempat wisata yang ada. Bedanya, dulu saya dan dia naik sepeda motor, kalau sekarang saya naik kereta. Satu per satu kami datangi tempat wisata disana, mulai dari Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia hingga Museum Fatahilah.

Begitupun dengan hari ini, saya kembali menyusuri museum-museum yang saya sebutkan diatas. Senang rasanya mempelajari sedikit banyak sejarah dari museum-museum di Kota Tua ini, selain menambah ilmu juga menambah pengetahuan yang lebih banyak lagi tentang sejarah Kota Tua. Menurut sejarah, Kota Tua ini dulunya merupakan Balai Kota pada jaman penjajahan Belanda. Tapi kini sudah berubah menjadi Museum Fatahilah yang berisikan benda-benda dan saksi perjuangan para pahlawan Indonesia.

Pada bagian luar atau lebih tepatnya area tengah dari bagian depan Museum Fatahilah dipenuhi dengan orang-orang yang menikmati liburannya, sambil berkeliling naik sepeda ontel. Saya duduk tepat di depan Museum Fatahilah sambil sesekali mengabadikan momen orang-orang disekitar.

Ya memang salah satu hobi saya adalah fotografi, jadi jangan heran kalau saya tidak bisa lepas dari kamera. Berbicara sepeda ontel jadi teringat kembali kenangan bersama dia, dulu kami juga berkeliling menaiki sepeda ontel berwarna merah jambu. Saya masih ingat persis kejadian waktu itu, dimana ada seorang anak kecil yang menangis dan meminta kepada orang tuanya untuk naik sepeda ontel, namun tidak diizinkan oleh Ayahnya.

Dengan keberanian, dia (mantan kekasih saya) meminta izin kepada Ayahnya untuk mengajak anak kecil itu berkeliling bertiga bersama kami. Sempat takut dengan keberaniannya, tapi tanpa dugaan sang Ayah anak kecil itu memberikan kami izin untuk berkeliling dengan anaknya. Gadis kecil itu pun tersenyum dan langsung naik ke atas sepeda ontel yang sudah kami sewa. Kami pun berkeliling dan sesekali mengabadikan foto bersama. Ketika ada seorang ibu-ibu yang juga sedang berkeliling mendekat ke kami saat sedang berpose untuk foto, beliau mengatakan “Keluarga kecil yang bahagia, kalian cocok sekali dan anak kalian sangat lucu. Berbahagialah kalian”. hahaha, kami berdua pun tertawa mendengar perkataanya yang sebenarnya dalam hati saya amini.

Mengenang segala kenangan indah itu memang membuat bahagia. Tanpa sadar senja pun mulai menghampiri. Saya bidikan kembali kamera andalan yang saya miliki ke beberapa orang yang sedang menaiki sepeda ontel. Saya fokus dengan tiga orang yang sedang naik sepeda ontel bersama, salah satunya anak kecil, laki-laki. Semakin saya perbesar, semakin saya mengenali sosok laki-laki yang menyetir sepeda ontel tersebut. Satu kali saya foto, saya lihat hasilnya agar tidak salah hingga berulang kali saya abadikan.

Benar saja, dia adalah mantan kekasih ku dua tahun lalu. Bersama perempuan lain yang ternyata adalah Adik kandung saya sendiri. Seketika kenangan indah yang beberapa menit lalu sedang lalu lalang di pikiran saya pun hancur. Luka dua tahun lalu ternyata memang belum sepenuhnya sembuh. Adik kecil yang sangat saya sayang, dialah perusak segalanya. Perusak hubungan ku dengan mantan kekasih yang di doakan oleh seorang ibu untuk bahagia dengan ku dua tahun lalu.

Menyesal? Sudah tidak ada waktu untuk menyesalinya, yang saya bisa lakukan hanya mengikhlaskan dan membuka lembaran baru dengan orang yang belum saya temukan hingga sekarang. Selamat tinggal masa lalu, dengan senja sebagai kenangan indah dahulu yang sangat membekas di hati ini. Berbahagialah dengan Adik kecil ku hingga maut memisahkan kalian berdua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here