Telepon Umum Koin

Demam film Dilan 1990 sudah berakhir. Namun banyak kenangan dan hal menarik dari potongan film tersebut yang bisa diambil. Salah satu kenangan yang melekat pada generasi 90-an adalah telepon umum koin yang digunakan Dilan untuk menelfon Milea.

Era 90-an, penggunaan telepon umum koin sangat membantu sebagai sarana komunikasi. Penggunaannya yang membutuhkan banyak koin ini menjadi daya tarik dan nilai tambah dari telepon koin. Membutuhkan koin yang banyak agar bisa berkomunikasi dengan waktu yang cukup lama, seperti yang dilakukan oleh Dilan untuk sekedar mendengar suara Milea.

Telepon koin pertama kali ditemukan oleh William Gray tahun 1889, yang kemudian penggunaan telepon koin dipasang pada sebuah Bank di daerah Hartford Connecticut. Di Amerika sendiri, penggunaan dan penyebaran telepon umum yang dapat digunakan oleh publik mulai dikenalkan pada tahun 1892. Sedikitnya ribuan unit telepon umum di Amerika dipasang pada beberapa titik pusat kota Amerika. Sayangnya sekitar tahun 2004, penggunaan telepon koin di Amerika mengalami penurunan secara drastis. Hal ini disebabkan oleh masuknya telepon genggam atau handphone di ranah komunikasi.

Telepon Koin
Telepon Umum Koin

Di Indonesia, penggunaan telepon koin mulai di pasarkan oleh salah satu provider terbesar yakni Telkom. Sedikitnya 30.000 unit telepon umum diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Kehadiran Wartel pada saat itu juga menjadi salah satu sarana komunikasi yang bisa menghubungkan satu dengan yang lainnya. Namun karena biaya penggunaan Wartel relatif mahal, sehingga penggunaan telepon umum koin ini menjadi salah satu penyelamat di kala rindu melanda.

Mulai dari koin pecahan Rp100, Rp200 Rp500 hingga Rp1.000 yang sudah cukup besar kala itu, kita bisa menikmati sarana telepon umum koin. Jika koin yang dimasukan hampir habis dan suara telpon tiba-tiba terputus, biasanya diperlukan koin tambahan untuk tetap bisa berkomunikasi dengan seseorang disebrang sana. Sensasi penggunaan telepon umum koin ini sendiri pun sudah sangat populer bagi remaja geneasi 90-an, yang berdandang dengan celana cutbraynya.

Melansir dari beritasatu.com, tahun 2008 PT.Telkom mengklaim bahwa ketersediaan telepon umum koin saat itu sudah mencapai 46,000 unit di seluruh Indonesia.

Sukses dengan telepon koinnya, pada tahun 2009 PT.Telkom kembali melakukan inovasi baru dengan meluncurkan Telepon Umum Kartu SOBAT. Jenis telepon ini menggunakan kartu chip yang dapat diisi ulang. Akan tetapi penggunan jenis telepon kartu ini kurang diminati, kebanyakan dari masyarakat lebih tertarik menggunakan telepon umum koin.

Telepon umum koin di Indonesia sendiri memiliki ciri khas berwarna biru, dengan gagang telepon dan kabel sehingga telepon koin tersebut tidak bisa dibawa kemana-mana. Dahulu, telepon genggam banyak ditemukan disepanjang jalan, pasar, ATM hingga disekitar stasiun maupun halte bus.

Semakin pesatnya kemajuan teknologi, penggunaan telepon koin maupun telepon kartu pun mulai ditinggalkan. Masyarakat Indonesia lebih mengikuti perkembangan zaman teknologi. Telepon genggam atau handphone menjadi pilihan masyarakat Indonesia saat ini. Selain dirasa lebih praktis, saat ini juga sudah banyak provider yang dapat membantu kemajuan teknologi, yang dapat menghubungkan kita dengan orang lain.

Berbeda dengan Inggris, negara ini melakukan inovasi dengan telepon umumnya dengan menambahkan fitur pesan sms maupun pengiriman email. Untuk pembayarannya pun tidak harus menggunakan koin ataupun kartu chip, melainkan dapat menggunakan kartu kredit.

Tak hanya Inggris, sejumlah negara lain juga melakukan inovasi telepon umum tersebut, seperti China dan Austria. Pada tahun 2011, China memanfaatkan telepon umum sebagai sarana umum yang menjadi tempat pemancar WiFi. Sementara Austria memanfaatkan keberadaan telepon umum untuk pengisian batrei mobil atau kendaraan listrik sejak 2010.

Apakah nantinya di Indonesia akan kembali memiliki telepon umum koin? Ataukah akan dimanfaatkan untuk kegunaan lainnya?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here