Sejak pensiun di tahun 1998 dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Wardiman Djojonegoro saat ini aktif dalam memperjuangkan 20% anggaran untuk pendidikan. Selain itu, kegiatannya setelah pensiun beliau masih aktif dalam berbagai seminar dan menjadi penasehat Persatuan Guru Republik Indonesia.

Sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak Wardiman mengawali karirnya sejak Ia mendapat beasiswa ke luar negeri dari Bank Pembangunan, di awal karirnya Bapak Wardiman pernah bekerja di Bank Pembangunan selama 3 tahun. Diakui oleh Bapak Wardiman, jika menelisik kembali ke awal dirinya mulai berkarir, perjalanannya sungguh berliku.

Bapak Wardiman Djojonegoro

Setelah dari Bank Pembangunan, Ia lanjut di Pemerintah DKI selama 13 tahun karena dipanggil langsung oleh Bapak Gubernur Ali Sadikin untuk bekerja bersama mengurusi museum dan kebudayaan. Dari tahun 1979 sampai 1993 Bapak Wardiman berada di BPPT di bawa langsung oleh Pak Habibie, sampai akhirnya menjadi menteri dari tahun 1993 – 1998.

Selain kegiatan terkini yang disebutkan di atas, setelah pensiun dari jabatannya Bapak Wardiman banyak menyusun biografi, mempersiapkan sebuah pentas teater yang bercerita tentang Pangeran Diponegoro bersama Teater Keliling, melestarikan naskah kuno agar dikenal oleh dunia dan bekerja sama dengan UNESCO dan pemerintah Aceh, dan juga memimpin ketua yayasan Puteri Indonesia di tahun 2014.

Saat masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Bapak Wardiman pernah mendapat buku tentang Diponegoro yang ditulis oleh sejarawan Inggris bernama Peter Carey. Saat beliau membaca buku tersebut alangkah terkejutnya Ia karena tulisan dalam buku Peter Carey ditulis dengan penuh bukti-bukti dan sangat berbeda sekali dengan cerita tentang Diponegoro yang ditulis oleh sejarawan Belanda.

Melalui buku yang ditulis oleh Peter Carey, Bapak Wardiman mulai tertarik pada budaya khususnya naskah kuno  dan bersama Peter Carey beliau mengusulkan kepada UNESCO untuk diterima sebagai warisan dunia dan pada tahun 2013 buku tentang Diponegoro berhasil menjadi warisan dunia atau Memori of World oleh UNESCO. Sejak saat itu Bapak Wardiman aktif di naskah kuno dan membantu arsip nasional mengusulkan arsip Asia Afrika tahun 1955 agar juga diterima sebagai warisan dunia. Beliau mendedikasikan dirinya di bidang budaya.

Kini Bapak Wardiman sedang mengurus naskah kuno Aceh tahun 1640 berjudul ‘Hikayat Aceh’ agar masuk ke UNESCO sebagai warisan dunia.

Di sela-sela kesibukannya, beliau mengatakan “Kalau stress banyak, tapi kita harus selalu fresh dan banyak yang bisa dilakukan yang pertama sejak di DKI saya senang berolahraga. Ya olahraga itu penghancur stress, apalagi kalau saya jalan atau jogging stress saya menurun. Yang kedua, menjaga kesehatan dan yang paling susah serta menjaga pola makan. Dan yang ketiga, selalu mengevaluasi apa yang sudah dilakukan. Jadi setiap hari di evaluasi agar kita menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi. Evaluasi itu penting, dan dari evaluasi kita bisa memperbaiki.” Ujar Bapak Wardiman sebagai penutup dari sesi wawancara bersama tim kabarsidia kali ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here